Bambu Sebagai Aktivitas Masyarakat

Joko Prayitno

 

Bambu adalah bahan bangunan yang paling serbaguna yang dapat dibayangkan. Penduduk Jawa dan lainnya di kepulauan Nusantara melakukan mukjizat dengan itu. Sebagian besar rumah pada jaman dahulu menggunakan kerangka dari bambu terutama di Pulau Jawa. Bambu  juga digunakan untuk membuat aneka kerajinan dan alat untuk menyimpan berbagai barang kebutuhan hidup sehari-hari.

Pedagang Keliling Kerajinan Bambu di Tjiandjoer Tahun 1925 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Pedagang Keliling Kerajinan Bambu di Tjiandjoer Tahun 1925 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Di Kepulauan Nusantara kerajinan bambu tidak diproduksi secara massal. Produksi kerajinan bambu ini hanya sebagai kebutuhan rumah tangga dan dikerjakan sebagai sambilan dalam mengisi waktu luang. Tetapi seiring berkembangnya kebutuhan maka muncul industri-industri rumah tangga yang memproduksi alat-alat rumah tangga dari bambu, mulai dari topi, tempat nasi, keranjang sampah, hingga furniture. Karena telah menjadi kebudayaan yang cukup lama maka regenerasi ketrampilan mengolah bambu diturunkan baik dalam lingkungan keluarga maupun dalam pendidikan-pendidikan ketrampilan.

Pada masa Kolonial Belanda pabrik pembuatan topi yang terbuat dari bambu telah didirikan di daerah Batavia dan Tangerang sekitar tahun 1920-an. Topi yang terbuat dari bambu ini dikerjakan dengan tangan. Sedangkan di daerah Tasikmalaya pada tahun 1900-an anak-anak telah diajarkan cara mengolah bambu menjadi kerajinan dompet, tikar bambu juga tabung untuk menaruh rokok. Di Batavia pada tahun 1910-an anak-anak diajarkan untuk membuat topi.

Anak-Anak Sedang Menganyam Bambu di Tasikmalaya tahun 1900 (koleksi: Tropenmuseum Belanda No. TMnr_10014577)

Anak-Anak Sedang Menganyam Bambu di Tasikmalaya tahun 1900 (koleksi: Tropenmuseum Belanda No. TMnr_10014577)

Yang menarik adalah bahwa di Kalimantan masyarakat Dayak sejak dulu menggunakan bambu sebagai tempat tembakau, tas, maupun sebagai alat berburu yang dihiasi berbagai ornament-ornamen yang menakjubkan. Alat-alat untuk menaruh tembakau maupun alat berburu yang terbuat dari bambu ini memiliki ukuran yang beranekaragam. Ukiran yang terdapat dalam wadah-wadah bambu kemungkinan juga berkaitan dengan stratifikasi sosial masyarakat Dayak.

Bamboo tobacco case with ornamental carving before 1894 (Koleksi: Tropenmuseum No.TMnr_A-6577)

Bamboo tobacco case with ornamental carving before 1894 (Koleksi: Tropenmuseum No.TMnr_A-6577)

Bambu tidak hanya digunakan sebagai alat-alat rumah tangga dan kerajinan semata. Pada tahun 1902 sebuah Rumah Sakit Jiwa di Sumberporong menggunakan bambu sebagai terapi. Para pasien diajarkan menganyam bambu sebagai kegiatan terapi, sehingga para penderita penyakit jiwa mampu ditenangkan dan sekaligus memberi ketrampilan bagi para penderita penyakit jiwa tersebut.

Kegiatan bagi penderita sakit jiwa di RSJ Sumberporong-Menganyam bambu dan rotan 1902 (Koleksi: Tropenmuseum Belanda No.TMnr_60012661)

Kegiatan bagi penderita sakit jiwa di RSJ Sumberporong-Menganyam bambu dan rotan 1902 (Koleksi: Tropenmuseum Belanda No.TMnr_60012661)

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.