Penjelajahan Sunthi (2)

Wina Rahayu

 

Setelah banyak belajar melihat kehidupan di pasar Kalimaling, Sunthi balik dan kali ini menggunakan sebuah bis “Konco Narimo”. Sunthi sudah sering mendengar nama bis ini dari teman Sunthi yang lahir dan tumbuh di desa Bantal, sebuah desa yang kurang lebih 2 km dari pasar Kalimaling. Bis inilah yang berjasa membawa penduduk di desa di seputar Bancak untuk sampai ke Salatiga. Urip (teman Sunthi) salah satu orang yang menikmati kemudahan ini. Sejak Urip SMP sampai saat ini, bis Konco Narimo salah satu bis yang membawanya keluar dari penderitaan.

 

Perjuangan “Kedaulatan Urip”

Selayaknya masyarakat di desa, saat itu (tahun 80an) Urip baru lulus SMP. Bagi masyarakat di desa tersebut seorang perempuan bisa menyelesaikan sekolah menengah adalah hal yang istimewa, sebab baru lulus sekolah dasar sudah harus menyerah pada keputusan (ntah siapa yang memutuskan???), untuk menikah dan beranak pinak. Ini satu hal yang sangat Urip tidak inginkan. Urip berjuang mati-matian saat ada seorang laki-laki yang tiba-tiba melamar ke orang tuanya tanpa sepengetahuannya. Orang tuanya tidak kuasa menolak, tapi Urip tidak mau pasrah begitu saja. Dia menyampaikan pada orang tuanya, ia ingin melanjutkan sekolah. Sekolah adalah salah satu cara buat Urip untuk lepas dari jeratan perkawinan dini. Urip tidak tahu apa itu “HAK”, tapi yang ia rasakan ia tidak mau melakukan sesuatu kalau itu bukan pilihannya.

Urip dan keluarganya dikecam habis-habisan oleh masyarakat, saat Urip meminta orang tuanya mengembalikan mahar yang sudah terlanjur diberikan laki-laki itu. Bukan berarti perjuangan Urip tidak berdampak pada keluarganya, ibunya menjadi malu dan akhirnya sakit selama bertahun-tahun tanpa diketahui apa penyakitnya. Puluhan dokter didatangi, ternak dan apa yang dimilikipun perlahan menipis. Namun Urip hanya bisa mensahabati kondisi itu, sampai saat ini Urippun juga mengalami “Psikosomatis” seperti ibunya. Tapi itulah Urip, dia mampu memperjuangkan “kedaulatan dirinya”. Urip lulus dari Sekolah Pendidikan Guru ( SPG) di Salatiga. Dan saat dia bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik tekstil di Ungaran, ia berjuang untuk dapat kuliah di sebuah perguruan tinggi swasta di Semarang.

Itulah sepenggal cerita perjuang sosok manusia, yang membuat Sunthi belajar bagaimana “memperjuangkan kedaulatan diri” dan tidak menyerah pada yang katanya “takdir”. Dan Sunthi ingat kalimat yang disampaikan seorang budayawan Jawa Tengah bahwa “ketangguhan sering kali terlahir dari kemiskinan dan keterpinggiran”, dan Urip salah satunya. Kita tinggalkan cerita Urip, sebagian fakta yang Sunthi tahu dan kita lanjutkan penjelajahan berikutnya…..

 

Stasiun Bringin

Seperti rencana awal sepulang dari penjelajahan di pasar Kalimaling, Sunthi menuruti kata hatinya untuk menyapa bangun tua yang tidak terurus. Praduga awal itu adalah sebuah stasiun coba Sunthi buktikan. Ternyata benar, walaupun hanya tinggal beberapa barang yang menjadi petunjuk bahwa itu adalah sebuah stasiun.

Jika mendeteksi posisinya yang ada di seberang pasar Bringin maka bisa di pastikan ini adalah stasiun Bringin. Stasiun ini adalah salah satu stasiun yang dilewati kereta jurusan Tuntang-Kedungjati. Sudah tidak nampak lagi jalur rel yang lama, namun pembangunan rel baru mulai dilakukan. Pembangunan stasiun ini bersamaan dengan pembangunan jalur Ambarawa-Kedungjati pada tahun 1873. Saat itu stasiun Bringin berfungsi untuk mengangkut hasil bumi di daerah tersebut.

Stasiun Bringin Tampak Depan

Stasiun Bringin Tampak Depan

Penjualan Karcis

Penjualan Karcis

Loket Penjualan Karcis

Loket Penjualan Karcis

Lorong masuk penumpang menuju tempat naik kereta

Lorong masuk penumpang menuju tempat naik kereta

Tempat menunggu Kereta (Jalan yang nampak di gambar adalah bekas rel lama yang sudah hilang)

Tempat menunggu Kereta (Jalan yang nampak di gambar adalah bekas rel lama yang sudah hilang)

Selain bangunan utama masih ada bangunan lain yang berdiri namun tidak terdeteksi bangunan apa dan apa fungsinya. Juga ada barang-barang yang terkait dengan perkeretaapian.

jelajah-salatiga (6) jelajah-salatiga (7) jelajah-salatiga (8) jelajah-salatiga (9)

Inilah kondisi stasiun Bringin, sekalipun ada pengumuman yang menunjukan bahwa stasiun Bringin merupakan kawasan cagar budaya namun perlindungan terhadap situs tersebut tidak nampak.

jelajah-salatiga (10)

 

Yang Tersisih

Puas menyapa rupa stasiun Bringin dari berbagai sudut, Sunthi melanjutkan penjelajahan. Kali ini Sunthi mencoba menjelajah ke pasar Bringin yang tidak terlalu luas, namun sekali putaran karena tidak ada “kemistri” maka Sunthi segera berajak dan tidak berlama-lama di dalam pasar. Matahari semakin terik, sinarnya membuat “flek” hitam di pipi Sunthi semakin menebal. Tapi Sunthi bukanlah perempuan yang alergi terhadap sinar matahari, sekalipun sinar UV A dan UV B jika berlebihan terkena kulit wajah menyebabkan “hiperpigmentasi” alias flek hitam. Sunthi tetap nyaman menjelajah tanpa pelindung apapun.

Sampai di depan pasar Sunthi “clingak-clinguk” mencari sesuatu yang menarik hati, ternyata gerobak dawet membuat hati Sunthi “mak nyes”. Sunthi menyempatkan meletakkan pantatnya di bangku ala kadarnya dan “menyeruput” dawet dengan gula merahnya. Saat duduk mata Sunthi tertuju pada sesuatu yang nampak tersisih, terbuang dan diabaikan. Keberadaannya “terkucil” di bawah tiang, bisa jadi sudah menjadi barang yang tak pernah dilirik. Namun bagi Sunthi ini barang yang menarik yang memiliki peran dalah sejarah kehidupan manusia.

Barang ini pastilah telah puluhan tahun berjasa bagi masyarakat di seputar Bringin dan sekitarnya. Menjadi tempat transit sebuah “kabar” untuk saudara yang berada nun jauh di mana berada, sebelum si tukang pos membawanya. Dan mengakut ke kantor pos untuk mendapatkan “cap” sebelum di kirim ke tujuan. Modernisasi, teknologi membuatnya tersisih. Relationship yang hangat antar manusia menjadi tiada. Itulah pedang bermata dua dari teknologi.

Kotak Pos yang terlindas jaman

Kotak Pos yang terlindas jaman

Kotak Pos yang pernah jaya

Kotak Pos yang pernah jaya

Nasib kotak pos ini tak berbeda jauh dengan stasiun Bringin. Tersisih, terabaikan, dan di tinggalkan. Namun inilah kehidupan, tidak ada keabadian. Hanya satu hal yang bisa Sunthi pelajari bahwa “Yang abadi adalah perubahan itu sendiri”….

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.