Tentang Pemakaman dan Kematian

Dewi Aichi – Brazil

 

Dua minggu yang lalu, saya mengunjungi salah satu keluarga suami yang beberapa hari ini masih berkabung atas meninggalnya neneknya. Kami duduk-duduk di sofa sambil mengobrol apa saja seperti biasa kalau kami berkumpul. Merencanakan beberapa acara untuk menyambut acara Natal dan Tahun Baru.

Tetapi yang menarik perhatianku adalah percakapan mereka mengenai tempat makam yang akan mereka pesan. Tentu saja keluarga ini melakukan musyawarah, untuk menentukan jumlah tempat yang akan dipesan dan kesepakatan lain-lain.

“Mau pesan yang mana, yang standar, duplex atau yang nobre?”

Mereka saling pandang dan saling minta saran satu sama lain. Salah satu di antara mereka memegang brosur yang beberapa minggu lalu diambilnya dari tempat persemayaman jenazah nenek sebelum dimakamkan.

“Yang duplex saja, ada 3 tempat dengan fasilitas perawatan”, kata salah satu dari mereka.

Akhirnya disepakati mau pesan yang duplex, karena keluarga polisi, maka sebagian besar mereka mendapatkan fasilitas, keringanan biaya dan peti. Dari brosur yang saya ikut melihat, pemesanan tanah untuk kuburan harganya bervariasi, seperti perumahan saja, atau apartement, atau condominium, posisi menentukan harga. Dari brosur bisa dilihat,untuk yang paling murah harganya USD 3.000; sedangkan rata-rata harganya di atas USD 5.000; ini untuk yang paling sederhana, atau standar, satu lubang berisi 3 buah tempat peti.

pemakaman-brazil (1)

Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Begitulah peribahasanya. Bahwa setiap tempat memiliki caranya sendiri. Setelah tempat makam yang tersisa satu di keluarga nenek tersebut dipakai untuk nenek, sudah tidak ada lagi persediaan untuk keluarga. Maka begitu urusan pemakaman selesai, beberapa hari kemudian keluarga memutuskan untuk memesan tempat dengan cara mengangsur.

Bayangkan saja berapa harga kelas duplex yang isinya 3 peti, dan nobre, yang isinya 6 peti, dengan fasilitas area service, biaya yang tak murah. Untuk mati saja kok ya harus pesan kapling hehe…tapi ya itulah Brasil. Nah..dari obrolan yang saya perhatikan itu, untuk pembayaran bisa memakai kartu kredit lho. Bisa dibayar cicil sampai 24 kali.

Sangat rumit urusannya jika tidak punya tempat pemakaman yang telah dipesan. Begitu menghadapi salah satu anggota keluarga meninggal, harus mondar mandir mengurus tempat pemakaman.

Biasanya tempat penjual peti mati, akan menggunakan atau memanfaatkan emosi keluarga yang berduka. Misalnya untuk harga peti mati ada yang lebih murah, tapi si penjual akan bilang yang harga termurah tidak tersedia, adanya yang harga sekian (biasanya mahal), ini seperti yang dialami oleh teman, saat ibunya meninggal, harus membeli peti mati seharga USD 2.000,00. Sedangkan nenek sepupu suami kemarin, mendapatkan harga separuhnya. Bunga-bunga mendapatkan harga USD 230

Di sini komplit mendapatkan fasilitas mobil pembawa peti mati dari velorio (ruang untuk menyemayamkam jenazah sebelum dimakamkan) sampai pemakaman, liang lahat, dan biasanya ada service untuk diadakan upacara secara bagus. Ini bagi keluarga yang mampu membayar komplit. Untuk upacara pemakaman ibu temanku, dari makam, peti mati, bunga dan upacara, habis biaya sekitar USD 3.000; itu masih murah karena makamnya sudah ditanggung kantor di mana dia bekerja.

Saya sudah bertanya banyak hal mengenai perihal kematian hingga pemakaman. Selama 5 tahun di Brasil, saya sudah mengikuti upacara pemakaman sebanyak 3 kali. Pertama adalah ibunya teman suami, yang saya ikuti saat itu saya baru satu minggu tiba di Brasil. Jadi saya tidak tau apa-apa. Lalu yang kedua adalah omnya suami, setahun yang lalu. Ketiga adalah nenek sepupu suami, 2 minggu yang lalu.

M

Di Brasil nih ya, kalau ada anggota keluarga yang meninggal di rumah (bukan di rumah sakit), urusannya akan jadi panjang. Anggota keluarga tidak boleh memindahkan orang yang meninggal dari tempat dia meninggal sampai datang polisi. Polisi akan membawa ke rumah sakit untuk diotopsi. Nanti dari rumah sakit, akan ada surat yang akan diserahkan ke ahli waris, mengenai hasil otopsi.

Jika meninggal di rumah sakit, urusan lebih mudah. Pihak rumah sakit akan melakukan otopsi, dan surat lengkap mengenai kematiannya. Lalu sudah diurus juga untuk membersihkan jenazah hingga masuk ke peti. Tetapi jika pihak keluarga sendiri yang mau memakaikan baju untuk jenazah, juga tidak apa-apa.

Lalu, jenazah juga tidak ada yang disemayamkan di rumah pribadi masing-masing sebelum dimakamkan. Pantas saja, selama ini aku tidak pernah melihat adanya orang meninggal yang disemayamkan di rumah mereka. Ternyata setiap jenazah disemayamkan di velorio, yaitu sebuah ruang khusus, seperti gereja, di area pemakaman. Sementara, keluarga dan handai taulan yang akan mengikuti upacara pemakaman, akan berkumpul di velorio, sampai jam upacara pemakaman.

pemakaman-brazil (2)

Kalau di Indonesia, mungkin hanya kalangan tertentu saja (orang kaya, konglomerat) yang harus memesan tempat makam. Misalnya keluarga kaya, sudah memesan kapling di tempat makam tertentu, untuk kelak Ia dimakamkan.

Lain halnya adat di kampungku di Jogja, semua warga yang meninggal dimakamkan di kuburan terdekat, paling dekat dari rumah tempat tinggalnya. Jika ada seseorang meninggal, tetangga dekat pasti sudah bergotong royong mengurus segalanya, membantu apa saja yang perlu dilakukan, dari mengurus jenazah, mengurus tamu-tamu yang melayat, memberikan kekuatan kepada keluarga yang berduka dengan mendampinginya, mengurus pemakamannya yaitu sebagian ada yang membuat liang lahat.

Begitulah adat budaya di sebagian kampung di wilayah Indonesia. Dan meski meninggal di rumah sakit, biasanya jenazah tetap dibawa ke rumah duka, dan ditungguin beberapa keluarga atau tetangga sampai jam pemakaman tiba. Dan upacara serta doa-doa mengiringi jenazah sampai pemakaman.

Belum lagi untuk beberapa hari berikutnya. Keluarga dan tetangga dekat masih mengunjungi dan berkumpul di rumah duka. Dengan maksud untuk memberikan dukungan moral bagi keluarga yang ditinggalkan. Dan menurutku, itulah bentuk kebersamaan di dalam masyarakat kampung.

Sedangkan yang aku lihat, di keluarga suami waktu itu, untuk urusan pemakaman nenek sepupu, tak seorang temanpun berada di rumah duka. Anak, cucu, masih di rumah tilpon sana sini mengabarkan kematian nenek. Yang mengurus dan mencari-carikan baju, peti mati, serta pesan tempat makam adalah anak yang lainnya. Yang menunggui jenazah nenek adalah budhenya suami, alias anak menantu.

Tetangga, dan teman kenalan, juga keluarga terdekat hanya hadir di velorio untuk mengantar nenek sampai ke liang lahat. Setelah itu, masing-masing pulang ke rumahnya.

Oya, biaya, harga di atas tidak mutlak. Banyak ragamnya, tergantung dari apa yang diinginkan keluarga duka, jika semuanya ingin yang bagus, tentu saja biaya bisa berlipat ganda. Ini yang aku tulis adalah yang paling sederhana, yang saya lihat sendiri. Jadi setiap orang mempunyai kasusnya sendiri mengenai pemakaman.

 

 

About Dewi Aichi

Berasal dari Sleman Jogjakarta, saya blasteran (antar kelurahan maksudnya), happily married to a Brazilian guy. Dari Jogja merambah dunia. Pernikahan lintas benua adalah pilihannya. Setelah beberapa tahun di Distrik Aichi, Jepang, sekarang tinggal di Brazil bersama keluarga tercintanya. Tingkat sudrunnya setara dengan saudara-saudara sepersudrunannya seperti Nur Mberok, Elnino, Fire dan jelas Lani van Kona. Di sini saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, saya hanya sekedar menulis apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang menarik buat saya untuk ditulis. Jika ini bermanfaat untuk diri saya sendiri dan juga untuk teman-teman, saya sangat bersyukur

My Facebook Arsip Artikel Website

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *