Kaos Butut Itu Meredam Badai Kalbu dari Jarak 10.000 Miles

Luigi Pralangga

 

Tonight I celebrate my love for you (ooh)  …
And that midnight song is gonna come shining through  …
Tonight there’ll be no distance between us  …
What I want most to do …
Is to get close to you tonight …

Sungguh lirik lagu  TONIGHT I CELEBRATE MY LOVE  yang dinyanyikan oleh Mang Peabo Bryson and  Ceu Roberta Flack itu memang dahsyat, bila didendangkan saat berduaan saja bersama istri saat malam pertama tiba di tanah air dalam rangka cuti mudik.

Dahsyat nuansa romantisnya bagi peacekeepers yang sudah entah 4, 5, atau sudah lewat dari 6 bulan berpisah dengan keluarga. Juga jelas kedahsyatannya bagi syahwat yang selama ini terhambat dan sudah berada di stadium gawat darurat. Saya yakin saat kalimat sebelum ini usai terbaca, sudah banyak senyum tersipu itu lepas terlihat, apalagi bagi para staff misi atau anggota kontingen Garuda yang baru saja usai menggenapi cuti mudiknya.

“Bun..bun..sudah ya.. si tunait-ai-selebret-mai-lap-to-you-nya suruh diem dulu… ayo kita rayakan dulu perayaan yang sebenarnya..”

“Entar dulu dong.. dia blom selesai lagu-nya.. kamu mesti meresapi makna syairnya.. romantis dikit dong..”

“Tapi kelamaan, atuh… dan saya resiko kehilangan ketinggian pada tongkat kendali yang satu ini kalau masih harus mendengar lagu 2 kali lagi nih..”

(Udah.. nggak usah diterusin lagi..)

 

Hayo coba tunjuk tangan tinggi-tinggi…mungkin tidak sedikit bagi rekans yang menjelang akhir masa cuti-nya, acapkali urusan kemesraan pasangan itu menjadi terkikis, baik esensi romantisme yang biasanya masih berada dalam kondisi prima saat malam pertama tiba di tanah air, dibanding dengan saat masa cuti akan berakhir dalam hitungan minggu terakhir, sampai ke malam terakhir.

kaos-butut (1)

Biasanya saat minggu terakhir itu, anak-anak sudah mulai merasa dekat dengan ayahandanya mereka. Tawa itu sudah lepas dan tiada lagi rasa malu-malu atau kedekatan mereka dengan sang Bunda sudah cukup tersaingi dengan keberadaan sang ayah. Namun pacu waktu melawan jadwal keberadaan sang peacekeepers di tanah air kian surut seiring dengan coret dan bulatan pada lembaran kalender itu yang makin bergerak memanjang dan menyisakan jumlah hari yang kian sedikit. Belum lagi jadwal silaturahim yang makin menghadirkan pribadi-pribadi kerabat dan kolega yang belum sempat tersambangi untuk menyambung silaturahim.

Saat minggu terakhir itu, koper-koper mulai dibenahi.. setelah 3 minggu dia (Baca: Si koper) bersemayam di ruang gudang. Baju-baju dan perbekalan serta oleh-oleh atau titipan kerabat dari kolega yang berada di mission ikut menjadi tetek-bengek yang mengisi penuh koper itu. Bagi kebanyakan pasangan atau istri, saat melihat kita mulai bebenah bersiap-siap untuk kembali bertugas di mission, cuaca dalam kalbunya mulai nggak keruan rasanya, di balik senyum dan keridhoan mereka membantu berkemas-kemas, terdapat segudang gundah dan galau mulai menjajah ruang hatinya.

kaos-butut (2)

Indikasi lain, anak-anak biasanya sudah mulai rewel dengan segala macam perangai yang lain dari biasanya. Ada yang mulai mudah ngambek, yang mungkin saja ia sendiri tidak punya alasan yang cukup jelas untuk ngambek terhadap masalah (apa) yang mana.

Bisa saja bathin-nya berkata:

“I don’t know how to express the right sentences to you, Dad.. the fact that I am mad knowing that you are going to be away – God knows when you are back again.. and I’d only be listening to your voice over the phone at its best…”

Ada yang sedemikian rupa selalu ingin diantar dan ditemani, meski itu hanya ke dapur atau ruangan sebelah. Sebisa mungkin sosok peace keeper ini lengket bagaikan ‘amplop dan perangko’.

kaos-butut (3)

Di sisi yang sama, pada benak dan kalbu sang peacekeeper itu sendiri, ikatan bathin, kebersamaan, kemesraan, rajuk-manja dari anak-anak dan istri, sudah pasti akan menjadi sebuah belenggu yang kian hari mendekati jadwal penerbangan balik bertugas, akan menjadi bola belenggu yang membesar, bagai mengikat kuat dan kokoh terkunci pada sanubari psikis yang acapkali bila tidak kuasa mengelolanya akan berujung pada pertikaian rumah tangga yang bukan main sengitnya.

Bagi umumnya profile staff sipil misi peacekeeping PBB, yang notabene penugasan ke daerah konflik seperti ini bisa lebih panjang ketimbang rekans pada Kontingen Garuda, yaitu lebih dari 2, 3, 5, bahkan lebih.. momen-momen penghujung masa cuti ini adalah cobaan yang terberat. Baik bagi sang peacekeeper itu sendiri, apalagi bagi anak-istri yang harus rela ditinggal.

kaos-butut (4)

Kalau sudah jatuh pada malam terakhir, maka lagu si Mamang Peabo dan Ceu Roberta itu kembali diputar pada ruang tidur, yang jelas bukan “perayaan indah” yang menjadi efek akibat melainkan linangan air mata tanpa isak, sembari genggaman jemari lentik itu terasa kuat mencengkeram.

Mungkin didalam hatinya berkata:

“Saya akan merekam semua rasa ini, sentuhan jemarimu mengusap kening, dekapan kuat kedua tanganmu pada tubuh ini.. hangat dadamu pada pelukan.. serta bisikan kalimatmu pada telinga ini.. menjadikannya sebuah deretan imaji dan asa yang akan selalu saya putar ulang didalam diri.. sampai engkau tiba kembali dalam pelukan ini kelak..”

 

Harus diakui bahwa si Idung Pesek itu, memang mahluk yang sangat sentimentil, ia memerlukan penguat, pagar pelindung dan naungan baik bagi jiwa dan raganya.. begitu juga anak-anak.. meski argumen sengit itu sudahlah tidak lagi membahana, yang biasanya mendekati H-minus-seminggu, ‘sirine-nyap-nyap-apapun-serba-salah’ itu di saat jaman penugasan tahun pertama dulu itu akan nyaring terdengar.. namun setelah 3,4, dan 5 tahun berselang, sirine radio butut itu hampur nyaris tidak terdengar di telinga ini.

Nampaknya ia bergeser transmisinya, pada gelombang yang lebih senyap namun sangat dahsyat resonansinya, yaitu gelombang pancaran hati.

Menyadur lirik lagi Mang Ronan Keating itu: “You say it best… when you say nothing at all…” – nah kalau sudah begini ini malah bergantian, membuat resah si Ondel-ondel ini. Ia juga ikut sedih, karena sudah hampir 1 bulan bersama mereka, harus terpisah lagi, dan melalui malam-malam yang penuh sunyi dan kehampaan.

Dekapan kedua tangan itu, disambut dengan jemari lentiknya malah menguatkan. Tidak ada kata terucap. Sementara mungkin ia meredam galau, tidak dipungkiri bahwa si Ondel-ondel ini juga ikut berpikir dan berkata di dalam hatinya:

“Saya sedang menyimpan rasa bahwa faktanya halus kulitnya itu jauh lebih nyaman dari lembut seprei kasur di Liberia.. mulus tubuhnya tidak sebanding dengan empuk bantal di sana, dan kicau nyapnyap suara si Idung Pesek itu jauh lebih indah dari melodi koleksi lagu-lagu favorit itu.. saya menyimpannya dalam benak ini sebagai deretan file imaji dan asa agar cukup ampuh bila dipular ulang dalam benak dan jiwa sebagai bekal nurani dan first line of defense against lonesome..”

 

Bicara soal deployment tugas pada daerah pasca-konflik yang notabene keluarga tidak bisa ikut dibawa serta, memang bukan monopoli teman-teman yang berseragam saja, sosok peacekeepers PBB ini adalah salah satu kalangan yang juga mengalami, dan sanak-familinya juga ikut menjadi bagian dari lika-liku perjuangan mereka. Bertahan dari hari pertama sejak menyaksikan keberangkatan-nya bertugas yang jauhnya ribuan mil jaraknya dari kampung halaman.

Meski mungkin para pendamping peacekeepers dan anggota famili itu ada yang sudah terbiasa dengan episode pisah-sambut ini, namun menjalani sesi-sesi episode itu, tidak sedikit linangan air mata berjatuhan dan perang argumen itu terlontarkan sudah. Namun, kehidupan harus berjalan, tugas harus ditunaikan, dan kewajiban adalah sebuah panggilan dan kebanggaan.

kaos-butut (5) kaos-butut (7) kaos-butut (8) kaos-butut (9) kaos-butut (10)

Sebuah menjadi kebiasaan si Idung Pesek ini yang menjadikan kaos oblong butut yang dikenakan untuk tidur si Ondel-ondel seminggu terakhir itu selalu disimpan tanpa dicuci, dimasukkan dalam kantong plastik. Baru belakangan ini saja, si Ondel-ondel ini kemudian menyadari kebiasaan itu saat bertanya:

“Ini pada kemana kaos oblong untuk tidur saya?…” 

“Saya punya 4 biji kenapa tidak ada di keranjang setrikaan?”

“Ooh.. ada di dalam plastik di dalam lemari itu disimpan buat saya dan anak-anak..”

“Haaahh… disimpan dalam plastik..  buat apa kalian perlu kaos oblong butut itu???”

“.. Itu obat tahu… saat anak-anakmu rindu sama kamu.. mereka itu langsung demam..” 

“.. ya oblong butut itulah obatnya…”

“.. yang bener…? Obat dari sebelah mana..?”

“Dengan aroma khas badanmu itu mereka peluk semalamam bersama bantal tidur mereka dan meredakan demam besoknya.. – gak tau khan?… itulah kenapa disimpan dalam plastik dan tanpa dicuci..”

“Ooh… begitu ya…?”

“Ya.. dan yang kamu pake malam ini buat saya.. jadi jangan kamu bawa ya..!”

 

Ya.. saya, dia dan kita semua butuh berbagai cara menguatkan ketahanan psikis, selain dari ketahanan fisik lahiriah saat menjalani penugasan misi yang jauh dan berbahaya ini. Ketahanan psikis yang memastikan bahwa daya juang ini terus terjaga sehingga tugas ditunaikan dengan hasil yang prima. Tidak pernah si Ondel-ondel ini menyangka bahwa kaos oblong (yang tanpa dicuci) butut itu mampu meredam badai kalbu dari jarak 10 ribu mil jauhnya.

kaos-butut (11)

Penasaran?.. Cobalah tanya si Idung Pesekmu.. bisa jadi ia hanya tersenyum dan mungkin berkata: “Baru tahu, ya?…”.

Ohya, sebagai persembahan di akhir artikel ini, ijinkanlah juga saya berbagi klip lagu romantis itu.. semoga berkenan.

Ayo ceritakan bagaimana tips jitu-mu dalam menyiasati badai kalbu yang jauhnya ribuan mil itu? – care to share….?

 

 

About Luigi Pralangga

Luigi Pralangga, currently serving for peace operations in Afghanistan - Previously lives and work in the Middle East, West Africa and New York - USA.

My Facebook Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.