Public Shaming

Anwari Doel Arnowo

 

Terjemahan bebasnya dari judul di atas adalah: Mempermalukan (seseorang) di depan masyarakat luas. Apakah yang anda akan kerjakan apabila anda merasa dibuat malu yang amat sangat di depan masyarakat luas? Dibuat malu, dipermalukan atau seperti sering dipakai istilah mencemarkan nama baik di depan umum.

Rasa-rasanya tingkat malu orang per orang pada saat ini, tahun 2015, sama sekali berbeda dengan tingkat rasa malu pada tahun 1965 dan juga tahun 1945. Penyebab-penyebab utama yang mengakibatkan adanya perbedaan  seperti itu apa? Kemajuan teknologi dan pergaulan sejak adanya  sarana hubungan informasi nir kabel, internet dan pelaku kumpulan mereka yang sangat canggih di bidang “ON LINE” atau DARING (dalam jaringan?). Begitu mudahnya wabah berita menyerang berkeinginan nafsu untuk segera terikut menyebarkannya, tanpa / kurang ketelitian dalam memeriksa terlebih dini mengenai hal-hal kebenarannya.

Shadows of protesters holding letters sp

Dengan satu ketukan klik saja, menyebarlah secara viral (asalnya dari kata benda: virus) cepat menyebar. Pada tahun 1952an adanya suatu berita tentang seorang anak perempuan dihamili secara tidak sah mungkin membawa aib yang sangat besar, akan tetapi amat jelas lingkungan penyebarannya relatif kecil. Tidak lebih dari  sekitar lima tahun kemudian saja maka terasa aib yang timbul tidak lagi terlalu berakibat aib yang dahsyat sama sekali.

Komentar yang timbul mungkin tidak akan diulas terlalu seru oleh orang lain. Mungkin kecil, seakan seperti berita kecelakaan lalu lintas di jalan umum saja. Tidak seperti contoh yang akan saya tampilkan di bawah ini: Monica Lewinsky. Nama ini amat melekat dengan nama William Jefferson Blythe III yang adalah nama asli dari  Presiden USA ke 42, Bill Jefferson Clinton. Kedua nama ini amat terkait-kait karena mereka melakukan kegiatan sexual di luar nikah resmi.

Mengapa perbuatan extra marital sex mereka ini menjadi perhatian yang mengemuka? Apakah karena Pak William (Bill Clinton) ini adalah Presiden USA? Iya, tetapi tidak cukup itu saja! Mereka melakukannya di ruang oval di Gedung Putih, di mana banyak keputusan penting mengenai Negara di lakukan. Yaa, tentu saja gempar sekali. Perbuatan sex mereka bukan yang biasa dilakukan oleh manusia normal yang biasa, tetapi berupa tindakan oral sex. Gempar…gempar. Presiden USA ini tentu mempunyai banyak staff yang bisa memberikan nasihat dan cara-cara aman yang tentu saja dipandang dari segala bidang dan sudut pandang.

Segera setelah berita ini tersebar, saya ingat Bill Clinton memberikan konperensi pers di Gedung Putih. Dengan staff intinya, mereka berjajar dua baris dengan muka cerah mengumumkan keputusan yang diambilnya. Isi  keputusan yang diumumkan adalah pilihan terbaik, yang kemudian menonjol, adalah Tuan Presiden tidak akan mengundurkan diri dari jabatannya, masih ditambah lagi pernyataan akan tetap ikut pemilihan ulang pemilihan Presiden periode berikutnya.

Sungguh berani sekali keputusan ini, kemudian sekali memang terbukti Bill Clinton masih bisa terpilih sekali lagi menjadi  Presiden Negara Amerika Serikat. Sampai di sini sang  Presiden akan aman dan nyaman saja.Tetapi bagaimana halnya dengan Monica Lewinsky? Anda pasti bisa merasakannya. Dia harus hidup di dalam suasana ketika semua manusia yang ada di sekelilingnya menghujat dan menghinanya secara kejam seakan-akan mereka sendiri bebas dari segala dosa di dunia.

Monica harus menghilang dari muka bumi, seakan merangkak, begitu isi sindiran oleh banyak orang dan tentu saja media, seperti apa yang dilakukan Monica sewaktu bercinta dengan Bill di ruang tempat kerja Presiden di White House. Monica sungguh nista sedang Bill masih dikawal dengan ketat ke mana-mana, naik Air Force One atau fasilitas lain yang paling modern, canggih, mutakhir sekalipun. She was treated like a dirt! (Dia diperlakukan seperti kotoran). Anda akan bisa merasakannya bila saja anda agak lebih memberi perhatian terhadap apa yang diceritakannya secara detail dan terbuka di hadapan umum, di bawah ini.

Di rekaman video di link berikut ini, betapa “BERANI” dan dengan penuh kejujuran tuntas. Monica melakukannya dalam percakapan di TED ini.

Antara lain dia berkata:     , ..a few of you may have also taken wrong turns and fallen in love with the wrong person, maybe even your boss. Unlike me, though, your boss probably wasn’t the President of the United States of America. Of course, life is full of surprises….            (… beberapa di antara anda semua mungkin telah salah berbelok dan jatuh cinta dengan orang yang salah, yang mungkin saja adalah majikan anda sendiri. Meskipun tidak seperti halnya saya, majikan anda mungkin bukan presiden USA. Tentu banyak kejutan di penghidupan ini)

In 1998, kata Monica Lewinsky, “I was Patient Zero of losing a personal reputation on a global scale almost instantaneously.” Today, the kind of online public shaming she went through has become constant — and can turn deadly. In a brave talk, she takes a look at our “culture of humiliation,” in which online shame equals dollar signs, and demands a different way. (Saya ialah Pasien NOL dari yang kehilangan reputasi pribadi dalam skala global, hampir pada waktu yang bersamaan atau seketika.

Sekarang, hal seperti permaluan publik telah menjadi hal biasa …… tetapi fatal mematikan. Dengan pebicaraannya yang berani, dia dia memerhati “budaya menghinakan” yang dilakukan secara daring (dalam jaringan).

Permaluan daring itu sama persis dengan jalur tanda-tanda Dollar dalam bentuk lain. Silakan membuka link berikut:

http://www.ted.com/talks/monica_lewinsky_the_price_of_shame?utm_source=newsletter_weekly_20150320&utm_campaign=newsletter_weekly&utm_medium=email&utm_content=talk_of_the_week_image

Anda saksikan setelah 17 tahun lamanya dia menghilang dari sorotan pandangan publik dia termasuk tegar bicara seperti itu, menggunakan kata-kata yang mantab dan tepat mengena.

Jangan lupa dalam masalah shaming atau permaluan yang dialaminya, unsur media dalam menyebarkannya amat besar. Begitu besarnya sampai digambarkan oleh Monica sebagai persis dengan jalur-jalur tanda di dalam mata uang Dollar. Tiada lain ada nilai komersial dalam menyebarkan berita yang sifatnya shaming begitu, kita telah biasa dengan Bad News is always NEWS.

Mau atau tidak mengakuinya, para pelaku media tidak akan mampu membantahnya. Misalnya nasib sial ini menimpa seorang Tenaga Kerja Wanita Indonesia di salah satu Negara di Timur Tengah mungkin sekali nilai komersialnya kecil sekali, malah mungkin saja diabaikan pembaca. Mau bagaimana lagi, masyarakat di manapun bisa saja kejam sekali.

Kasusnya memang mirip tetapi pelakunya sama sekali bukan selebriti, tanggapan masyarakat bisa abai saja. Kita menjumpainya setiap waktu tidak pandang bulu. Keberanian Monica tampil di depan umum dengan menumpahkan isi hatinya secara sopan bukan saja mengejutkan tetapi juga nyaman, oleh karena bukan semua orang bisa melakukannya.

Coba saja para terpidana korupsi di negeri kita ini yang sedang menjalani hukuman diberi kesempatan dan wawancara, membuka isi hatinya dan mau membuka isi hatinya itu tentu akan dapat membantu dipakai sebagai sebagian cara atau alat bagi pencegahan perbuatan seperti yang dilakukannya di masa lalu, kepada masyarakat luas. Setinggi apapun jabatannya, terpidana pasti merasa diempaskan tubuh dan jiwanya di dalam penjara. Apa juga yang dirasakannya pasti tidak nyaman. Bagi yang tidak merasakan seperti itu, pasti ada juga, kalau bukan seorang pembohong, maka dia akan mengalami terjadi pertentangan yang hebat di dalam batinnya sendiri.

 

Anwari Doel Arnowo

April 05, 2015

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.