Kakak, kadang adalah seorang penjahat, kadang adalah seorang pahlawan

Primastuti Dewi Pobo

 

While My Brother become my enemy…

Aku duduk di kelas 2 SD saat itu, kakak lelaki ku (ku panggil Mas) duduk di kelas 4 SD.

Mas dan teman temannya suka bikin pesta kebun ala anak kampung, menangkap hewan hewan liar, dibakar pakai kayu atau dedaunan kering di kebun, lalu disantap. ya semacam si Bolang kalau jaman sekarang.

Suatu siang, mas membawa satu tusuk daging beraroma lezat ke hadapan ku, asap masih mengepul dari daging tersebut, aku menoleh ke arah kebun, ku lihat Topa tertawa sambil melambaikan tangan ke arah ku “Enak tenan” teriaknya lalu melahap sisa daging dalam tusukan yang ada di genggaman tangan kirinya. Topa adalah teman main Mas.  “Dik, ini buat kamu, sate burung Gemak, hasil jeratan sama Topa tadi” mas menyodorkan sate burung gemak yang masih hangat. “Maturnuwun” ucap ku tulus. Ku lahap satu tusuk sate, nikmat, mas memang piawai dalam hal bebakaran begini. Biasanya cuma dikasih bumbu garam. “Enak?” tanya mas yang dari tadi memandangiku menikmati sate hasil perburuannya. Aku mengangguk “enak, kenyil-kenyil” sahut ku.

Tiba-tiba Mas tertawa keras, terpingkal-pingkal sambil memegangi perut, kemudian menjatuhkan badannya di tanah, sekarang Mas terlentang sambil terbahak-bahak ” Itu sate bekicot Dik, hahahahahhaha!!!!” Mas berteriak bersamaan dengan daging terakhir yang ku telan. Glek…. kepala ku berkunang-kunang… Bekicot adalah binatang menjijikkan dan sekarang ada dalam perut ku. HUEEEEEK!!!!!!

 

While my brother become my Hero…

Saat kecil, aku suka makan cikru, Cikru adalah kecambah dari kacang tanah, batangnya putih sama seperti kecambah kacang-kacangan yang lain, bedanya, cikru ini manis, tidak beraroma keras seperti kecambah kacang hijau atau kacang kedelai. Cikru biasa kami temukan saat Nenek panen kacang tanah, beberapa kacang yang tidak tercabut dari kebun, akan tumbuh menjadi cikru.

Liburan ke rumah nenek adalah saat yang kami tunggu tunggu dalam setahun, kami cucu cucu Nenek akan bergerilya sepanjang kebun untuk menemukan cikru ini.

Menyadari bahwa adiknya suka makan cikru, Suatu hari Mas membawa Batok kelapa sambil berbisik “aku carikan cikru ya?” aku mengangguk girang.

Tak berapa lama kemudian, batok kelapa sudah penuh dengan Cikru “cepat banget dapat sebanyak itu” batin ku. Mas menyerahkan semua cikru yang masih bercampur tanah dalam batok kelapa sambil berujar “cuci dulu”. Girang aku berlari ke sumur nenek, mencuci semua Cikru dan membawanya kembali ke teras rumah nenek. satu persatu ku nikmati cikru hasil  jerih payah Mas.

Tiba-tiba dari dalam rumah nenek berteriak “Makan apa kamu!!??” “Cikru” jawab ku polos. “dari mana dapat cikru sebanyak itu?” tanya nenek mulai curiga. “Mas yang nyarikan”. “Leeeeeeeeeeeeeeeeeeee…….. !!!! Dapat cikru dari mana?” Nenek berteriak. “kebun” jawab Mas sambil main kelereng. “kebun manaa?!!!” Nenek bertanya lagi sambil mendekati mas. Mas menunjuk kebun dimana dia mendapatkan banyak cikru. “Gustiiiii…….. itu cikru dari kacang yang nenek tanam 4 hari yang lalu!!! Kamu cabuti tanaman nenek??????” Kali ini nenek marah sambil menjewer telinga Mas. Mas hanya pasrah sambil memandang ku. Tangan ku yang kecil masih memegang batok kelapa berisi cikru, mata ku berkaca-kaca demi melihat Mas kesakitan dijewer nenek.

theres-no-buddy-like-a-brother

 

(For My Brother, whatever you did to me, I know that you love me)

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.