Mereka yang Mempunyai Rasa Saling Memiliki

Jeng Margi

 

Sedari gadis hingga emak-emak begini aku sudah punya salon langganan. Sebutlah salon “Melati” tapi bukan salon plus-plus lho, ini salon yang sebenar-benarnya, profesional malah.  Dikarenakan aku sudah bekerjasama sekian lama, so pasti aku mengenal dekat dengan sang Owner. Mbak Ketrine namanya. Dari sinilah cerita mulai mengalir.

Saban ke salonnya, aku hanya mengambil paket potong rambut saja. Selain irit, aku tak mau ambil paket yang aneh-aneh, takut berbiaya mahal. Hihihihi…

Aku cukup menyampaikan keinginanku pada mbak Ketrine untuk dipotong rambut ala artis-artis yang lagi naik daun semisal potong rambut ala Maia Estianti, ala Yuni Shara, ala Mayangsari, ala Demimoore etc. Dalam tempo sekejap aku sudah menjelma mirip artis terkenal,  versi KW-nya tentu saja… hahahaha… Dan menjadi tugas mbak Ketrine-lah untuk menterjemahkan keinginanku. Kebetulan mbak Ketrine adalah orang yang sangat inovatif. Doi selalu update potongan rambut yang lagi booming dan ngetrend. Aku selalu menginginkan mbak Ketrine saja yang menangani rambutku. Karena dia selalu mengerti aku. Untungnya mbak Ketrine tak keberatan dan para kapster sudah hapal dan maklum.

Selaku boss terhadap karyawan salonnya, mbak Ketrine tidaklah bersikap bossy. Ia menganggap karyawan adalah asset dan mitra kerja. Akupun tak melihat ada jarak di antara mereka. Bukan berarti karyawannya malah ngelunjak. Justru Dengan seperti itu para karyawan begitu menyayangi bossnya.

sense-of-belonging

Suatu ketika, aku datang ke salonnya, Mbak Ketrine baru nanggung makan (rumah mbak Ketrin ada di belakang menyambung dengan salon). Oleh kapsternya aku disuruh menunggu barang sebentar, sambil sesekali dilihat-lihat apakah Mbak Ketrine sudah selesai makan, karena jika langsung diberitahu ada pelanggan datang, mbak Ketrine otomatis akan langsung meninggalkan menu makan siangnya begitu saja dan melupakannya. Suatu hal yang menjadi kekhawatiran para Kapster, takut kalo-kalo sang boss masuk angin akibat telat makan. Di sini aku melihat betapa para kapster itu punya “sense of belonging” terhadap boss. Mereka tak ingin boss kenapa-kenapa (jatuh sakit) hingga bisa membuat mereka bisa kehilangan pekerjaan. Toh selama ini salon berkembang pesat berkat tangan dingin mbak Ketrine.

Satu demi satu kapster yang bekerja di salon mbak Ketrin, menemukan jodohnya dan kemudian menikah. Ada satu, dua, tiga kapster yang mencoba mandiri dengan membuka usaha salon sendiri berbekal ketrampilan selama magang di salon mbak Ketrine. Ada pula yang pasca menikah tetap bekerja pada mbak Ketrine. Di sini sekali lagi, aku melihat jiwa besar seorang mbak Ketrine terhadap anak buahnya. Mbak Ketrine begitu support terhadap Anak buahnya yang mencoba mandiri itu. Doi tak segan-segan promosi gratis salon anak buahnya pada para pelanggan.

Tak pernah sekalipun terucap kalimat-kalimat bernada tajam dan minor darinya seperti ini, “Ahhhh si A itu khan kacang lupa kulitnya, dulu dia itu apa, sekarang piye, setelah bisa potong-potong rambut, coba buat-buat salon tandingan, beuh….!!!”, atau seperti ini “itu si B, sekarang dah pinter, trus lupa sama aku, dasar pengkhianat…!”.

Itulah hebatnya mbak Ketrine. Berhati lembut, hati yang seluas samudera. Dari sentuhannya lahir wirausaha-wirausaha tangguh. Bila bertemu dengan mantan anak buahnya mereka tetap cipika cipiki. Dan Hingga kini mereka tetap menjadi keluarga besar.

Di sini aku sedikit kepo dan mencoba bertanya pada mbak Ketrine, apa yang membuatnya tetep adem ayem meski usahanya disaingi mantan anak buah. Mbak Ketrine dengan bijak menjawab, baginya satu yang paling membahagiakan adalah dengan melihat anak buahnya bisa pada mentas, itu saja. Perkara rejeki, Tuhan yang atur, sepanjang manusia itu mau bekerja keras niscaya rejeki itu selalu ada.

Berkenalan dengan mbak Ketrine berikut anak buahnya melahirkan energi positif bagiku. Banyak hal yang bisa diteladani dari hubungan mereka. Satu dan lainnya tidak  saling menjatuhkan. Mereka adalah team work yang solid.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.