Visa, oh Visa

Agus Susanto Benzaenuri

 

Artikel sebelumnya:

Berawal dari Sebuah Angan-angan

 

Warga Negara Indonesia memang tidak mudah dan penuh perjuangan untuk melancong ke luar negeri karena memang paspor hijau kita harus melewati ijin yang panjang saat masuk ke negara lain.

Visa pertama yang saya dapatkan saat ini adalah Visa Kyrgyzstan, sebuat negara yang ekonominya masih di bawah Vietnam namun di atas Kamboja, mungkin begitulah perbandingannya.

visa-passport

Visa Kazakhstan saya dapatkan di Kuala Lumpur, Malaysia karena tidak ada kedutaan Kyrgyzstan di Indonesia. Sebenarnya untuk pemegang passport Indonesia bias mendapatkan Visa Kyrgyz secara on arrival apabila masuk negara tersebut via Bandara Internasional Manas yang berada di utara kota Bishkek.

Rencana aku yang mau masuk Bishkek atau Kyrgyzstan melalui jalur darat memaksa saya harus mengajukan Visa dari kedutaan yang terdekat dari tempatku tinggal.  Kuala Lumpur, itu lah kota terdekat. Gila memang, di saat sebagian orang Jakarta datang ke Kuala Lumpur yang notabene bagi sebagian besar orang sudah termasuk luar negeri, buat aku kota itu hanya persinggahan untuk mengurus Visa.

Mau tidak mau aku harus datang ke sana. Tiket pesawat pun aku pesan dengan keberangkatan ke Singapura lalu naik bus ke Kuala Lumpur setelah itu pulang ke Jakarta. Seolah tidak mau rugi atau memang kebetulan, atau angin apa yang membawaku posisi itu pada saat itu, atau tepatnya 12 Oktober 2014 diselenggarakan Kuala Lumpur Marathon. Seakan terjebak situasi akupun sangat berkeinginan untuk ikut lomba lari yang disponsori salah satu dari 10 bank terbesar di dunia itu. Padahal awalnya sama sekali tak ada rencana. Bayangkan saja siapa yang mau rela panas-panasan menyusuri Kuala Lumpur.

Apapun itu, lari memang sudah menjadi bagian hidupku, bahkan sudah maniak dan rela datang dengan jarak yang cukup jauh dan biaya yang tidak murah hanya untuk merasakan lelahnya lari berkilo-kilo meter bahkan berpuluh-puluh kilometer.

Dalam sebuah grup di sosial media akhirnya saya kenal dengan warga negara Malaysia keturunan Tionghoa. Chatting demi chatting hingga obrolan panjang, akhirnya dia memberiku sebuah slot lari marathon dengan jarak 42 km.  Belakangan saat akhir tahun dia berkunjung ke Jakarta untuk merasakan kemacetan Jakarta dengan merasakan lomba lari melawan bajaj-bajaj yang memenuhi Jakarta.

Satu slot, tiket Kuala Lumpur Marathon didapat, setidaknya aku datang ke negri rantau masih ada kegiatan lain tidak hanya sekedar mengurus Visa. Atau setidaknya aku berharap ada kejadian aneh yang akan menimpaku.

 

(bersambung… masih dalam Visa oh Visa)

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.