Aku – Sebuah Monolog

Alfred Tuname

 

(Sebuah interteks-semacam “kontekstulisasi”-atas monolog Remy Sylado berjudul “AKU”, untuk dibacakan dalam acara #saveoenbit-

Jogja, 01 April 2015)

 

monolog ???????????????????????????????

Kawanan apakah ini

Ujub-ujub bangunkan aku dari lelapku

Ia bukan burung gereja atau bedug masjid

Tetapi semata kicau rakus pejabat Mastodon atau geram perusahaan Frankenstein

Mengeruk halaman rumahku, bongkar kamar tidurku

 

Aduh mama sayang; ina ya e bote ke boto bote; Maromak bot! oh my God.

 

Uhhh,

Di sini,

Rumah sakit jadi museum penyakit

Je voudrais consulter mon médicin

Dokter sibuk

Perawat kawin

Obat habis

Pasien lapuk di bangsal ekonomi.

 

A’ah, kesembuhan adalah perjalanan penantian sepanjang hayat, aduuh ma, lara ne kui

Di mana pastor, pendeta atau habib menanti di pinggir kubur.

Meyakinkan saudara, sahabat, handaitaulan dan keluarga

Aku aman ke surga. Huah!

 

Jika suara Onze Vader bergetar,

Hallo, this is God. I would like to come-over and visit you. May I, son?

Beta pung hati sonde tenang. Mori jari agu dedek. Asi koe ta. Jangan Tuhan! Jemput saja mereka yang rusaki tempatku, rusaki rumahku.

 

Karena iman tinggal sebatang. Metafisika yang tak pernah celik di otakku. Aku jadi takut.

Tapi aku masih ingat cara ibuku memanggil-manggil nama Yesus: Tete Manis

dan ayahku berseru, tek Amaf, nokan Mone, nok Roh kudus, sin kanan. Amin.

 

Jika aku mesti mati di usia sama Charil Anwar, Soe Hok Gie, atau Wiji Tukul. Aku ingin mati bukan seperti burung Merak yang makan kenyang dalam sangkar ukir Jepara, tapi mayatnya cukup dibuang plung ke limbah sampah tambang. Biar tubuh kurusku menghisap racun kehidupan. Yo Mori sambe, campe koe ta. Rela Wulan, tulu go’e.

 

Aku mengerang, marah, bukan atas pilihanku. Di sini.

Jika matahari tenggelam, lalu besok pagi kau bangun,

gunung, bukit, sawah, kebun dan embung yang cantik dan asoi

sudah rata dan hancur oleh tangan-tangan gratil minta harta; ngemis kuasa.

Aku mengerang karena kegratilan itu. Aku marah karena hasrat itu.

 

Oooh jiwaku, hari ini. Entah apa jika besok tiba.

Atas pilkadamu, atas demokrasimu

Anak petani desa Oenbit lapar dan yatim

 

Lalu kau tawarkan janji yang rusaki jasmani; rusaki rohani

Jika aku tamak, kutelan janjimu. Jika aku rakus, kubungkus uangmu.

 

Tapi aku bukan bebal dan gendeng seperti mereka sok progresif dan jagoan. Berparas ganteng-ganteng srigala cepat mengubah wajah untuk menjilat dan menjaga. Walah, yang benar sajalah! Ndo’e, mberaka ka he!

Jangan kau tawarkan aku ramuan sakit jiwamu, sakit mentalmu. Sebab penyakit sudah kukenal sejak mataku celik, menuruti adat- istiadat Adam dan Hawa, moyangku, moyangmu, moyang Stalin, moyang Lenin, Mao, Soekarno, Reagen, Hegel, Marx, Sartre, Nietzche, Slavoj Zizek, sehabis menelan buah al-hayat yang lantas tangkas membedakan perkara baik dan buruk, kudus dan laknat, putih dan hitam, dan seterusnya, et cetera and so on.

Mending tawarkan aku jagung bose, donahu Hawu, kopi bajawa, atau rebok. Biar aku dibawa pani dengan ke masa kecilku yang saban bolos bersama anak-anak Bima, ketong berenang-renang di ujung pantai Pede, Manggarai Barat, yang kotornya airnya bercampur sampah oli kotor dan kondom.

Barat yang merah bagai jubah pangeran Inggris. Membujukmu, untuk jasirah Nusa Tenggara-ku yang indah. Antara Selat Sape hingga Mota’ain, kelamin angsamu sudah siap melobangi pertiwiku, adatku, ulayatku.

 

monologue

Termangu pada bumiku dan jagadnya,

O konon, harga diri sama dengan dollar plus bacok.

Seandainya kau sadar, hidup di Flobamora yang miskin dan dekil,

Cari pekerjaan susahnya bukan main.

Tapi ketika pekerjaan kepalang dipegang, tentangga bertanya, nyadu dinas dimana o? Teman bertanya, bu ada proyek ko? Mertua ikut bertanya, Nomor Induk Pegawai-nya berapa?; kukira nomor handphone-ku? Eit…, pacar kecil juga minta pulsa…hemmm

 

Selamat datang generasi muda Flobamora,

Kusongsong masa depanku yang samar dan kabur dengan mazmur dan tembang percintaan, antara Alan Jackson, Marley, Blues, Jazz, hingga Titi Sandora, yang carut-cakapnya ia masuk dalam laparku, laparmu; lapar dunia, lapar surga, lapar, lapar, lapar, lapar;

Lapar orang miskin pada sesuap nasi; lapar orang kaya pada sesuap berlian. Lapar Bupati akan sepiring kekuasaan; lapar birokrat akan sebakul gratifikasi.

Kukanang ini. Alangkah celakanya jadi orang lapar. Dijajah anganan akan kesentosaan insani, sementara kenyang pun tak pernah abadi seperti jalannya matahari “to every thing there is a season and a time to every purpose under the heaven”.

Kalau besong pernah merasakan lapar, terseok-seok langkah dipecut tugas dalam kecongkakan para intelektual yang menyebabkan kecamuk perang bantin, seperti orang Flores menurut versi Pax Neerlandica saat Kapten kompeni Hans Christofell, zonder voorbereiding, tiba di Ende (09 Agustus 1907), kota yang terbakar oleh serangan raja Tana Rea, pasti besong akan memasgyulkan sebutir nasi yang sisa di atas daun pisang, lantas besong mengucapkan syukur Alhamdulillah, yubilate Deo omnis tera, terima kasih Tuhan.

Aku telah kenal banyak orang aneh bin ajaib. Dari Tan Malaka, Soekarno, Hatta, Sjharir, Kasimo, Sonbai hingga Motang Rua. Semuanya tak asing. Jiwaku gempal ketika ide kesejahteraan-keadilannya yang disanka sebagai pundi kepemilikan pribadi oleh pejabat korup, kusangkalnya dengan api dialektika tapi semakin karib ia tembusi sukmaku, eh…

 

Selagi air di mata baru mau kering,

oleh angin siang yang menderita oleh polusi.

Sesayup tumbuh hasrat pada daun cendana dan anggrek, dipatuk pucuknya oleh burung-burung Ngkiong. Moga-moga terjemahannya persembahan ahklak pada rumus-rumus duka, rakyat.

Tak ada rokok tak berapi. Geen rook zonder vuur. Timur warnanya entah apa. Dan aku bertengger di situ. Sendiri tapi tidak sebatang kara. Ada api yang terus panas membara melepas magmanya. Tapi mimpiku telah dibawa ke bukit kapur, dalam bahasa diam yang tak sunyi dalam kalbuku.

 

Aku ingin angin besar, biar terbawa kita pada kehidupan roh.

Pada wilayah roh itu,

Kita mendegar lagi Soekarno di muka Dokuritsu Junbi Kosakai,

“Sekarang pun kita menerima urusan itu. Sekarang pun kita mulai dengan Indonesia yang merdeka!”

Atau,

Seperti Oliver Cromwell di muka parlemen Inggris,

I tell you we will cut off his head with crown upon it”.

 

Biar angin bawa suaraku ke sana. kepada pejabat-pejabat bejat. kepada aktor-aktor politik munafik… ah! Kau ngantuk di rumah rakyat. Lantas nasip rakyat dirumuskan dengan selera hewan pintar, “siapa punya taring, dia punya dunia”.

 

Harimau makan kambing, kambing makan kangkung, kangkung-kambing-harimau dimakan orang,

seperti aktor-aktor kita, aktor-aktor kamu, aktor-aktor Senayan yang duduk bengong gantuk-ngantuk tak pakai otak di kotak sidang.

 

Kalau kau bijak, kau paham arti ini. Kau paham, bahwa orang perlu otak, perlu otot. Tak ada otak, otot dipakai. Tak ada otot, otak dipakai. Tak ada otot, tak ada otot, pergi saja ke toko India beli kain kafan gantung diri di alun-alun, mampus!

 

You know, I have no friends like you.

Anak papa yang dihimpit luka lantaran penguasa menindas rakyatnya. De grote vissen eten de kleine. Het zijn slechte honden die hun eigen volk bijten. Hanya anjing yang buruk, yang menggigit tuannya. Rakyat adalah tuan bagi pemimpinnya.

 

Aku tak mau bermain bersafari-safarian dengan penguasa. Berbaju sama. Berlidah sama. Dipaksa. Terpaksa. Konon dengan tuntunan juklak/juknis. Untuk terima penghargaan “Burung Beo of the Year”.

 

Nasib rakyat adalah barang kelontong yang ditukar dengan keangkuhan curriculum vitae dan politik pencitraan, sementara

Ratusan anak Flobamora dijual keluar

Gunung dan bukit dibongkar

Petani makan beras raskin, astaga naga kepada siapa aku panjatkan dosa warisan ini?

 

Maka kumau aku, kau, kamu, kita dan mereka

Dari genesis hingga apokalipsis

Dari alif hingga ya!

Singgah pada Mazmur dan Al-Khatib

Dengungkan keindahan pusaka negeri

Teriak tak gentar bela tanah

Genggam semangat, ikat spirit

Akan keadilan dan kesejahteraan.

 

Anak Timor main sasando

Dan bernyanyi bolelebo

Rasa girang dan berdendang

Pulang e!!!!

 

Jogja, April 2015

Alfred Tuname

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.