Kawan

Anwari Doel Arnowo

 

Ada salah satu teman saya yang sifatnya memungkinkan di depan mata kebanyakan teman yang lain terlihat amat banyak jeleknya. Tetapi apa sebab saya bisa berkawan dengan dia selama sekitar  + 45 tahun lamanya sampai saat dia meninggalkan kami semua, pulang ke alam baka pada sekitar 15 tahun yang lampau? Saya sebutkan saja namanya dengan Ld. Yang satu tahun lebih tua dari umur saya.

Ketika saya untuk pertama kali mengenalnya dia sedang belajar di kelas dua di sebuah S.M.A. Negeri, sedangkan saya belajar di sebuah S.M.A.K (Katholik). Jelas kami tidak satu gedung sekolah, apalagi dekat letak gedungnya. Lalu bagaimana bisa berteman seperti itu? Ya dalam satu minggu minimum tiga siang hari, saya dan dia sering bertemu bersama 4 orang teman yang lainnya menyebut diri kami sebagai The Kuping Gang. Kami senang sekali bila pada kesempatan bertemu, di mana saja, maka pertama-tama sekali akan saling me”mukul” daun telinga yang lain dengan mengibaskan 3 atau 4 jari tangan. Mula-mula memang terasa sakit, tetapi lama kelamaan tidak menyakitkan dan menerbitkan tawa juga  rasa senang di hati.

Friendship-Wordle

Kami sering berdesak-desakan bertemu di luar rumah orang tua sendiri dan juga di tempat dia selama ini tinggal, mondok di sebuah ruangan yang sesungguh-sungguhnya dipakai untuk garasi sebuah mobil. Bisa saja berlangsung sampai dengan malam hari, tentu saja pasti  mengabaikan pekerjaan rumah dari sekolah yang harus diselesaikan keesokan harinya.

Apa saja topik yang dibicarakan kalau bertemu? Seumur sekian itu tentunya topik apa yang menjadi kesukaan masing-masing atau kesukaan bersama. Tentunya yang biasa digemari oleh dua orang atau oleh tiga orang saja dan seterusnya. Yang tidak terikut tetapi ikut berbicara meskipun bukan ikut menggemari topik pembicaraan, selalu ada di antara kami. Berenam semua bergaul akrab dan dan tidak selalu seia dan sekata. \

Ada saatnya Ld. yang berangkat akan berkelahi dengan seorang lain di luar kami yang enam orang ini, tidak ada satupun yang ingin menyaksikan dan menemani atau apapun. Sendirianlah dia pergi dan sepulangnya kita saksikan dia babak belur, mukanya bengkak, luka-luka kecil di badannya kesakitan tetapi kita ikut prihatin saja sedikit-sedikit ikut merawatnya, biar tubuhnya bisa nyaman kembali. Tubuhnya yang atletis dan muka nggantengnya banyak menawan hati para gadis, dan mungkin sekali para Tante. Sekian tahun itu berkawan, kami berenam tidak pernah berkelahi di satu pihak yang sama, ataupun keroyokan atau tawuran, meskipun ketika kami sama dalam berpendapat mengenai masalahnya.

Ada yang mau saja untuk berkelahi, dan penyebabnya soal sepele seperti cemburu karena gadisnya diganggu oleh anak lain. Kami yang tidak berurusan memang ikut berada di situ. Keberadaan kami yang 5 orang lainnya hanyalah untuk menjaga agar tidak terjadi, teman kami dikeroyok tawur-tawuran. Di dalam pengalaman seperti itulah kami tetap berkawan dan bersahabat baik.

Enam orang bersahabat dan berteman yang erat ini, pada hari ini hanya tinggal saya seorang diri. Riwayat perkenalan saya dengan Ld. saja unik juga, begini: Suatu hari Minggu tahun 1957 saya sedang mengemudi mobil milik ayah saya, sebuah Mercedes Benz tipe 220 buatan tahun 1956  warna hitam, berpelat Nomor Polisi N – 1957. Mobil yang seperti ini adalah satu-satunya di seluruh Propinsi.

Tentu saja diri saya juga menjadi menarik perhatian siapa yang mengerti siapa ayah saya yang juga terikutlah sang anak, saya menjadi dikenali. Ha ha itu kata orang Jawa nunut, terikut begitu. Bukankah tak usah disembunyikan hal ini apalagi dibantah, karena itu adalah fakta nyata, yaaa .. disyukuri sajalah. Dari arah  samping kanan saya ada yang menyapa: “He Anwari!! Berhenti dong.” Di antara yang ada di situ saya mengenal dua orang, dan saya berhenti. Eh Ld. ini, saya belum pernah mengenal dia sebelumnya, datang mendekat dan dengan ramah sekali dan sopan, dia bilang: “Coba aku nyetir, dong” katanya dengan logat Betawi, pada hal jauhnya Betawi sekitar 700 kilometer.

Saya kemudian sekali memang terheran-heran sendiri, bagaimana gampang saya dengan mudah membolehkan dia membawa mobil mewah dan mahal itu mengelilingi Taman, dan memang dia kembali lagi.

Saya belum pernah membolehkan orang lain berbuat seperti itu. Sopir yang baru saja, saya pastikan dicoba beberapa hari lamanya terlebih dahulu, baru dilepaskan mengemudi sendiri. Hal itu membuat saya menyesali kemudian sekali. Tetapi sesal kemudian, tak berguna kan? Mereka, kelima teman-teman saya itu. meninggal seorang demi seorang dan hanya yang ke-4 dan yang ke-5 lah yang meninggal dunia pada hampir bersamaan waktunya jam 20:00an petang hari di Jawa Timur dan jam 04:00an pada pagi hari di D.K.I. Jakarta.

Karena saya berdomisili juga di D.K.I., saya bisa sampai di bilik di rumahnya di mana dia menghembuskan nafas  yang terakhir, dalam tempo hanya kurang dari satu jam, dan menyaksikan jenazah waktu diusung oleh para anggota keluarganya dari kamar tidurnya ke ruangan kamar tamu. Ruang tamu ini ada di bagian dalam rumah, lebih luas. Hari itupun saya ikut ke pemakamannya dan panas hari itu begitu teriknya yang kering kerontang, saya sampai menjadi merasakan rasa lelah yang amat sangat. Meskipun saya merasa amat puas telah berhasil membuat hasil foto-foto sebanyak puluhan kali, saya benar-benar tertekan dan sampai di rumah saya jatuh sakit demam dan panas hampir satu minggu penuh lamanya.

Sakit seberat ini saya yakin bukan karena ditinggal dua orang teman yang meninggal seperti dalam satu hari bersamaan, tetapi utamanya adalah saya merasa jadi amat terpencil sendiri tanpa mereka. Iya memang benar saya telah kehilangan teman-teman lain selama beberapa tahun terakhir itu.

Akan tetapi yang seorang ini adalah seorang yang amat sering menyapa saya waktu saya memerlukan dia. Dia sering dengan menggunakan macam-macam topik hasil pemikiran inteleknya dan berpandangan internasional,  berupa tulisan-tulisan berisi pendapat / pendirian pribadi dan berhubungan dengan saya secara teratur, melalui email, berbicara lisan menggunakan percakapan telepon meskipun dia sedang bertugas dan berada jauh sekali di luar Negara Indonesia, menjalani jabatannya di Negara-negara lain selaku seorang diplomat senior.

Sejak jabatan Kepala Seksi di Negara Singapura sampai menjabat tiga kali sebagai Duta Besar. Yang saya selalu mengingatkan dia bahwa saya memandang amat unik jabatannya itu ialah dia pernah menjabat sebagai Duta Besar berturut-turut di dua buah Negara yang pernah bergantian telah menjajah Nusantara dan juga Republik Indonesia yang telah diproklamasikan sebagai sebuah Negara yang telah berdaulat penuh. Untuk itu saya pernah ikut menyertai  demonstrasi pada saat umur saya 72 tahun, di Kedutaan belanda di jalan Rasuna Said, Jakarta bersama serta para korban di desa Rawa Gede.

Ketika itu saya masih sedang bertempat tinggal di kota Toronto, Ontario, Kanada dan datang kembali berkunjung ke Jakarta untuk beberapa saat.

Seperti saya dia juga tetap bergaul rapat dengan keempat teman-teman lainnya. Si Ld. ini pernah diajak olehnya melaksanakan ibadah umrah dan jalan-jalan ke USA. Meskipun perjalanannya ke luar negeri itu ada acara umrah, Ld. ini bercerita bahwa dia masuk dan berjudi di sebuah Casino , mungkin di Las Vegas. Ini saya duga karena teman kita yang diplomat waktu itu sedang bertugas sebagai Konsul Jenderal di Los Angeles. Sayapun pernah sempat ke Wellington, New Zealand meskipun tidak sempat menemuinya ketika dia menjabat sebagai Duta Besar di sana. Jadi kedekatan kita masing-masing telah bisa secara baik saling menyeimbangi sifat kodrat kita secara individu. Ke“nakal”an Ld. itu ada bermacam-macam ragamnya, tetapi terhadap perbuatan pribadinya kami yang lima orang lainnya tidak menirunya apalagi membantunya berbuat seperti telah dilakukannya.

Cerita selanjutnya adalah yang apa pernah dilakukan Ld. Peristiwa-peristiwanya antara lain:

  • Waktu pengumuman lulusan SMA, saya lihat dia duduk boncengan motor Ducati yang dikemudikan temannya, Ld. ini berteriak-teriak dengan suara keras sepanjang jalan dan kepada siapapun yang dia anggap dia kenal dan semangat meneriakkan: “Aku lulus, aku lulus!!!!” tanpa henti henti.

Semua orang kemudian tau bahwa dia tidak lulus pada hari itu. Dia sempat mendaftar dan ikut serta dipelonco pula melalui acara MAPRAM di sebuah Universitas di kota Bandung. Tentu saja dia tidak dapat lanjut belajar, entah saya tidak tau apa yang dikerjakannya tiap hari selanjutnya, karena saya sendiri sedang belajar di Negara Jepang.

  • Suatu saat selesai berkelahi, dia juga babak belur; saya memboncengkan dia dengan mengayuh sepeda. Dia berkelahi dengan seorang lain yang tubuhnya lebih tinggi dan kekar. Sepanjang jalan dia masih mengoceh bahwa dia menganggap kali ini dialah yang memenangkan perkelahian itu. Karena saya mengayuh sepeda, saya bernapas pendek ngos dan ngos. Tentu saja saya tidak banyak berkata-kata. Eh. Ketika kita berpapasan dengan seorang anak perempuan manis yang kita berdua mengenal baik, dengan suara parau dia berteriak kepada si cantik itu: “Nanti sore aku jam lima datang ke rumahmu, ya?!??”

Dan tentu saja dia tidak bisa melakukan apa yang dijanjikan itu mengingat dia bilang aduh di sini dan aduh juga di situ.

Pada suatu periode kakak laki-lakinya yang tertua menjabat sebuah jabatan tinggi menyangkut Pekerjaan Umum, entah secara bagaimana, bisa mendapatkan kontrak-kontrak pemeliharaan bangunan jembatan-jembatan dan lain-lain dari pembiayaan-pembiayaan pemerintah daerah.

Saya tau sesungguhnya, dari cerita dia sendiri bahwa dia mendapatkannya dengan banyak otot bukan dengan otak. Sampai di sini saya berhenti, segera membatasi diri saya dengan perbuatan-perbuatan dia seperti semacam itu. Itu oleh sebab saya memang menganut prinsip yang berlawanan dengan prinsip hidup orang tidak normal dan serta tidak berupaya untuk menjalankan pekerjaannya sebagai pengusaha swasta yang taat dan sesuai dengan undang-undang yang ada.

  • Ketika dia menikah untuk yang ketiga kalinya, dia meminta saya untuk mau menjadi saksi nikahnya dengan seorang dokter yang mempunyai ayah yang pekerjaannya sebagai seorang Professor di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, bersama-sama dengan satu saksi dari keluarga mempelai pihak perempuan. Saya duduk dengan tertib. Ketika Tuan Penghulu bertanya status mempelai laki-laki, Ld. tegas menjawab dengan suara lugas dan mantap bahwa dia sedang berstatus lajang dan jejaka. Seperti disengat lebah, tersentak juga terkejutlah saya dengan teramat sangat. Pada waktu itu saya melirik ke kanan dan ke kiri, saya lihat seseorang laki-laki yang sedang turun dari sebuah mobil. Saya perhatikan ternyata orang itu adalah kakak laki-lakinya yang datang dari luar kota, dari kota Bandung. Berjingkat kaki saya dengan lekas, lalu setengah berlari menemuinya.

Saya berkata: “Mas kan kakak kandungnya Ld., gantikan saja saya menjadi saksi nikah dari Ld.” Sang kakak juga terkejut, tetapi mau menuruti bimbingan tangan saya dan membuat dia segera duduk tepat di sebelah mempelai laki-laki.

Secara perlahan sayapun mundur dan mundur menjauhi meja acara melakukan upacara nikah dan berhenti setelah yakin saya cukup jauh untuk tidak mendengar lagi apa yang berlangsung di situ. Amanlah hati saya, sebab tidak terikut berbohong. Syukur saya seperti diguyur air dingin dari Kutub Utara. Ha ha horeeee…

Saya menceritakan yang di atas bukan bermaksud menjelekkan teman akrab saya yang almarhum. Saya banyak belajar dari cara dia bergaul dengan siapa saja di sekelilingnya. Dia dengan mudah bisa masuk bergaul dengan siapapun baik laki-laki ataupun perempuan segala umur. Menyapa orang dengan simpatik sehingga tidak sedikit para gadis dan perempuan lain yang lebih tua, jatuh hati kepadanya. Jauh hati itu bukan jatuh cinta. Yang dia perbuat itu adalah tanggung jawabnya sendiri  terhadap Allahnya. Khusus urusan ini setiap orang bertanggung jawab secara pribadi. Suami istri saja bilamana datang waktunya dipanggil oleh Allah, maka tanggung jawab masing-masing pasti akan dipisahkan.

Suami tidak akan mungkin bisa menanggung dosa pasangannya, dan juga sebaliknya. Apalagi yang hanya punya status  kawan. Kawan itu kan bukan hubungan seperti saudara sekandung, sedarah. Kadarnya pun tidak perlu sama hubungannya, adalah logis juga  tingkat keeratannyapun tidak sama. Saya pikir ketika mengucapkan janji atau sumpah sekalipun dengan menggunakan kata-kata: sampai akhir hayat itu, adalah amat teramat benar, karena sesudah mati adalah alam yang kita belum pernah mengalaminya. Bukankah itu alam lain yang tidak akan kita bisa menceritakannya bilamana kita telah sampai di sana, karena kita tidak akan bisa kembali lagi?

Kesimpulan yang ingin saya sampaikan sebagai akhir tulisan ini adalah kita harus amat berhati-hati agar hubungan kita dengan sesama, dengan lingkungan sekeliling, dengan saudara dan dengan kawan, dijaga. Bila ada kesalahan perbaikilah sebelum terlambat, karena saat mati itu kapan, kita tidak pernah tau. Ingat ajaran di dalam Islam yang berbunyi Hablum Min Annas – Hablum Min Allah, hubungan baik dengan manusia (saudara, kawan dan manusia disekeliling kita semasa hidup) itu dipilih ditaruh di bagian depan, artinya untuk didahulukan sebelum kita meninggal dunia.

 

Anwari Doel Arnowo – 2015/April/20

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.