[Mangole] Gejolak

Imam Dairoby

 

Tahun 1997 adalah tahun yang penuh dengan gejolak. Pertama adalah gejolak alam, sebab pada tahun itu adalah saat suhu terpanas yang memanggang di Indonesia. Berbagai berita kebakaran hutan melanda daerah Kalimantan dan Sumatera. Kabut asap melanda di kedua pulau besar itu.

Tahun tersebut juga merupakan terjadinya tragedi krisis moneter yang sering disingkat dengan krismon yang meluluh lantahkan perekonomian Indonesia. Dan tahun itu juga konflik politik dalam negeri mulai bergerak panas ketika terjadi Pemilihan Umum.

Puncak dari segala konflik adalah pada awal-awal tahun 1998. Dan kami sangat merasakan akibat dari multi krisis tersebut.

“Imam di panggil Mr. Chen,” Rahma memanggilku saat aku berada di ruangan staff.

“Ada apa Mbak, kok seperti serius sekali,”

“Produk kita kena komplain mam dari konsumer kita di Karawang.”

“Alhamdulillah masih konsumen lokal.”

“Lokal sama non lokal juga sama dong, namanya juga komplain, cepat deh,”

Aku pergi ke ruangan Mr. Chen yang telah menungguku dengan sebuah surat. Aku duduk di depan meja nya dan menerima surat komplain dari pelanggan kami. Dalam surat itu dikatakan bahwa produk kami mengalami kegagalan dalam proses produksi mereka.

“Imam, You bisa lihat produksi tanggal berapa yang kita kirim untuk mereka.”

“Iya mister aku mau cari data dulu,”

Aku keluar dan melihat data produksi produk yang terkirim ke pelanggan kami. Aku memanggil administrasiku dan dia membawa beberapa lembar laporan yang berhubungan dengan produk kami yang dikirim ke pelanggan di Karawang. Aku masuk kembali ke ruang Mr. Chen dan berdasar kan hasil uji laboratorium produk itu tidak ada masalah.

Akhirnya untuk meyakinkan apakah itu produk kami, aku harus pergi ke Karawang melihat dengan lebih jelas apa sebenarnya masalah yang ada di sana. Hari itu juga aku harus pergi ke Jakarta, karena hari itu terdapat jadwal Penerbangan untuk ke Ambon. Dengan tergesa aku mempersiapkan diri ke Ambon.

Tanpa perlengkapan yang cukup aku berangkat, karena harus memburu pesawat yang ada. Sedikit saja aku terlambat hari itu akau tidak akan berangkat. Hari itu ku ingat dengan pasti dalam ingatanku. Tanggal 10 mei 1998.

Menginap semalam di Ambon, keesokan paginya aku berangkat menuju Jakarta, melalui penerbangan yang melelahkan aku sampai di Jakarta disambut dengan huru-hara demonstrasi serta penjarahan yang begitu menakutkan. Mobil yang ku tumpangi harus mencari jalan yang aman untuk sampai ke tempat tujuan ku.

Keesokan harinya pecahlah sebuah keadaan yang sangat bersejarah dan sangat kelam yaitu tanggal 12 Mei 1998, dimana ada beberapa mahasiswa yang melaksanakan demo pada pemerintah tertembak mati dan menyulut kemarahan seluruh lapisan masyarakat.

Mulai saat itu penjarahan dan pembunuhan terjadi di Jakarta. Suasana sangat mencekam sehingga aku tak berani keluar untuk sekedar jalan-jalan. Suasananya seperti suasana dalam keadaan perang sebab di sana-sini terdapat aparat keamanan bersiaga dengan persenjataan lengkap.

Tapi aku harus tetap menjalankan rencanaku untuk pergi ke daerah industri di Kerawang untuk melihat produk kami yang dikomplain. Aku pergi bersama dengan staff Marketing di kantor pusat. Rencananya aku pergi bersama ibu Anna tetapi karena kondisi Jakarta masa itu yang sangat rawan maka aku harus pergi dengan seorang staf pria.

Pada saat itu warga suku Tionghoa banyak dianiaya, karena masyarakat menganggap merekalah yang dekat dengan penguasa saat itu. Kalau ditelusuri sebenarnya hal itu tak seharusnya terjadi sebab masyarakat suku Tionghoa pun sempat menjadi suku yang terkucilkan di masa itu.

Mereka tidak diperbolehkan memasuki pemerintahan dan tidak bisa menjalankan tradisi nenek moyang yang mereka anut. Tapi itu semua adalah intrik politik yang berkembang pada saat itu.

Kami bertiga saja pergi ke Karawang, aku dan marketing yang bernama Ihsan dan sopir mobil kami yang bernama pak Marbun. Saat kami melintas di sebuah tempat di bekasi Timur terlihat sebuah mobil yang terbalik saat itu pak Marbun berkata bahwa di tempat itu sering terjadi kecelakaan.

Pak Marbun menjelaskan bahwa memang di daerah tadi terkenal karena keangkerannya. Banyak peristiwa-peristiwa mistis yang sering terjadi di tempat itu. Dalam hatiku aku sempat menyangkal akan cerita yang diberikan pak Marbun.

Perjalanan kami mulus sampai ke sebuah Pabrik di Karawang. Kami disambut oleh pimpinannya dan sekaligus melihat proses produksi pabrik yang membuat furniture untuk kebutuhan ekspor. Pada kami dijelaskan kegagalan produk kami pada proses produksi produk mereka. Aku pun mengambil beberapa sampel dan akan kami uji kembali di Laboratorium.

Waktu kami tak banyak, setelah selesai mengadakan pertemuan yang membahas kelanjutan order produk, kami segera bergegas untuk kembali ke Jakarta. Dalam perjalanan kami mendengarkan siaran radio yang memberitakan kejadian kerusuhan yang makin menjadi di Jakarta. Kami agak miris mendengarnya karena banyaknya bangunan yang dibakar massa dan adanya banyak korban jiwa yang berjatuhan.

Saat memasuki jalan Tol di daerah Bekasi Timur yang pada pagi hari terjadi kecelakaan, tiba-tiba dari belakang sebuah mobil menabrak mobil kami. Saat itu aku sedang terlelap tidur karena perjalanan yang melelahkan.

Brak!!!!!

Sesuatu menabrak mobil kami membuat mobil oleng tak terkendali. Aku tersentak bangun dan mendapati mobil yang kami tumpangi jungkir balik. Aku hanya mendengar teriakan Allahu Akbar dari bibir Pak Marbun.

Dia tak dapat mengendalikan lagi laju dan keseimbangan mobil sehingga mobil meluncur deras ke arah trotoar jalan mobil bergulingan sebanyak 2 kali.

Beruntung bagi kami bahwa mobil tidak terbalik tetapi kembali pada posisi seperti biasanya. Ihsan yang pertama keluar dari mobil dan membuka pintu di sampingku.

“Pak Imam tidak apa-apa?” tanyanya dengan nada khawatir.

“Tidak pak, hanya terbentur dari papan sample yang ku bawa dari kerawang saja,” jawabku karena merasakan kepalaku sedikit sakit.

Aku berharap mudah-mudahan aku tidak mengalami gegar otak. Tapi mengingat aku masih bisa berjalan dan sadar ku pikir tak terjadi apa-apa pada kepalaku.

Korban luka adalah Pak Marbun yang mengalami pendarahan pada pelipisnya. Darah yang keluar agak banyak tetapi segera dia mengambil kotak P3K yang terdapat dalam mobil dan kami membantu mengobati lukanya. Masyarakat sekitar mengelilingi kami dan ingin menolong, tetapi karena tak ada yang terluka parah mereka hanya melihat saja. Seorang Polisi dan petugas Jasa Marga akhirnya membawa kami dan mobil kami ke kantor Pos Jasa Marga di dekat pintu Tol.

Aku sempat melihat keadaan mobil kami, dari fisik mobil memang sangat mustahil kami selamat tak mengalami luka serius. Sebab kondisi mobil sangat rusak bagian depannya dan samping mobil juga sangat rusak.

Ihsan sempat bercerita bahwa besok adalah hari dia akan diwisuda sarjana dan dia mengatakan bahwa istrinya sedang hamil muda. Aku sangat kasihan melihat wajahnya. Dia sempat berkelakar hampir saja dia tak jadi sarjana dan istrinya menjanda. Ada-ada saja.

Kami bertiga dijemput oleh seseorang dari kantor pusat dan mengantarkan aku ke tempat aku menginap. Hari sudah malam dan keadaan Jakarta semakin tegang. Sesampainya di Mess, aku melihat kesibukan orang-orang di dalam Mess. Aku sempat bertanya pada kawan yang sama-sama menginap di Mess tersebut, mengapa sepertinya penghuni Mess ini kok sibuk. Kawanku berkata bahwa mereka akan mengungsi besok ke Tangerang.

Suasana Jakarta memang semakin panas, dan penghuni Mess tempat aku menginap di huni oleh keluarga dari suku Tionghoa. Saat mereka berpamitan ingin mengungsi ke Tangerang terjadi peristiwa yang sangat mengharukan. Beberapa pembantu rumah tangga melepas mereka dengan tangisan haru, demikian pun para penghuni rumah yang akan mengungsi, mereka memohon agar kami menjaga Mess.

Tak ada yang salah pada mereka bila mereka bersuku Tionghoa, seperti aku yang tak ada salahnya aku bersuku Jawa atau bersuku Manado, dan bersuku lainnya yang banyak di Negara kami. Tetapi mengapa setiap pergantian kepemimpinan negara selalu ada saja orang atau suku yang dikorbankan.

Kami mengantar mereka dengan kesedihan, sebab aku tahu mereka adalah orang-orang baik, tapi perpolitikan negara kadang memang kejam pada masyarakat yang minoritas. Entahlah aku tak pernah berpikir bahwa suku atau agama menghalangi diriku untuk berbaur atau bersahabat. Menurutku semua layak untuk menjadi teman atau sahabat.

Jika memang ada perbedaan cara melakukan ibadah atau cara melakukan penyembahan, itu hanyalah sebentuk dari cara masing-masing kepercayaan untuk mendekatkan diri pada Tuhan yang dianutnya. Dan kepercayaan itu tak dapat dipaksakan atau dijadikan alasan untuk saling membenci atau saling memusuhi.

Ditinggal oleh para penghuni Mess menjadikan kami beberapa karyawan dan beberapa pembantu rumah tangga bergiliran berjaga saat malam. Dan aku semakin khawatir jika aku tak bisa kembali ke Pulau Mangole sebab tugasku di Jakarta telah selesai dan aku pun tak ingin berlama-lama di saat Jakarta dilanda kerusuhan massa.

Ribuan demonstran berhadapan dengan Aparat keamanan, dan banyaknya spekulasi dan isu sehingga begitu mudah rakyat tersulut emosi dan melakukan tindakan anarkis. Kondisi perekonomian yang semakin menjepit rakyat miskin memaksa mereka melakukan penjarahan pada toko-toko dan swalayan yang telah ditinggal penghuninya. Keadaan negara kami saat itu bagai negara tak bertuan, yang tak lagi memiliki kepemimpinan.

Tayangan televisi menayangkan begitu bayak tokoh-tokoh politik yang berbicara mengatas namakan rakyat. Seruan-seruan agar kekerasan dan penjarahan dihentikan terdengar hampir dari semua media massa.

Tekanan untuk meruntuhkan rezim yang berkuasa semakin kencang ditiupkan oleh para aktivis Mahasiswa dan politikus negara ini. Puncaknya adalah saat Mahasiswa menduduki gedung MPR/DPR dan memaksa anggota-anggota legislatif yang terhormat untuk menyatakan menolak pemerintahan yang ada.

pengunduran-diri-soeharto-reuters1

Keinginan untuk menggulingkan kekuasaan yang didukung oleh kekuatan rakyat ternyata menghasilkan sesuatu yang sangat mengejutkan. Tanggal 21 Mei 1998 akhirnya Sang Penguasa selama 32 tahun mengundurkan dirinya dan digantikan oleh Wakilnya. Sorak sorai bergema di mana-mana, mereka meneriakkan “Hidup Reformasi “. Dan seiring itu pula kekacauan berangsur-angsur pulih dan dapat dikendalikan di bawah pemerintahan yang baru.

Akhirnya aku bisa juga untuk pulang kembali ke Pulau Mangole. Meninggalkan hiruk pikuk kota Jakarta. Kembali ke rutinitasku untuk memperbaiki apa yang salah dalam produk kami, dan meningkatkan kinerja pada divisiku.

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.