Inikah Kemajuan?

Didik Winarko

 

Sore hari menjelang maghrib beberapa hari lalu…

Aku sedang berjalan kaki sambil menjaga malaikat kecilku yang berlarian menikmati sore hari

Tanpa sengaja di pertigaan gang menuju “rumah mewahku” yang berdiri di atas tanah entah berapa hektar (pinjem istilah bunda) itu, aku merekam  satu pemandangan yang sebenarnya sih tak terlalu istimewa..

Seorang gadis sedang duduk sambil bersandar di pundak gadis lain yang sepertinya sahabatnya. Sepertinya dia sedang terluka hatinya karena aku lihat ada air mata yang berlinang di pipinya. Si sahabat kulihat mengelus-elus bahu si gadis berusaha membuatnya lebih tenang. Sementara di depannya berdiri seorang pemuda dengan tegapnya dengan expresi muka yang sepertinya gusar.

Beberapa patah kata pelan layaknya sebuah negosiasi keluar dari ketiga pemuda pemudi itu.

Tak berapa lama kemudian, si gadis berdiri tersentak dan berbicara setengah berteriak ke arah si pemuda.

“Ok, fine…!! Kalo emang itu yang lo mau, gw putus dari dia sekarang…!!! Puaaass???!!!”

Beberapa detik kemudian, si gadis menggandeng (baca: menyeret paksa) sahabat yang di sampingnya..

Mereka berdua berjalan -tepatnya berlari- menjauh dari si pemuda yang sepertinya berusaha masih ingin menjelaskan sesuatu.

Tapi tak ada lagi kesempatan buat si pemuda berkata apapun karena dua gadis itu telah semakin berlari menjauh.

Dan tinggal aku yang tak bisa berkata apa-apa menyaksikan adegan di depanku yang begitu cepatnya itu. Sambil masih tetap menggandeng “pemuda”ku aku berjalan pulang karena Maghrib segera tiba..

Sebenarnya apa yang kusaksikan itu adalah sesuatu yang sangat biasa dan tak ada yang istimewa. Tapi yang kemudian terus menggelitikku karena “para pemeran kisah nyata” itu adalah pemuda dan gadis-gadis kecil seumuran anak pertamaku. Aku sangat yakin kedua gadis itu masih duduk di bangku sekolah dasar, kira-kira kelas 5 atau kelas 6. Lalu si pemuda gusar itu sepetinya baru kelas 6 atau kalaupun sudah SLTP mungkin baru duduk di kelas 7.

Duh… inikah kemajuan??? Inikah modernisasi???

kemajuan-modernisasi

Seingatku dulu ketika aku seumuran mereka bertiga, kalaupun harus bertengkar, biasanya karena berebut mobil-mobilan atau layangan. Atau ada yang berlaku curang saat bermain petak umpet atau gobag sodor…

 

Sahabat-sahabat hati…

Mudah-mudahan note ini dapat sedikit membuka cakrawala kita semua bahwa sepertinya ada yang salah menyikapi modernisasi ini.

Dan marilah kita semua jaga malaikat-malaikat dan bidadari-bidadari kecil kita.

Agar bertumbuh sesuai dengan usianya

Meskipun modernisasi dan kemajuan jaman harus tetap ada.

 

 

About Didik Winarko

Asal Purworejo – Jawa Tengah, yang saat ini menetap di Tangerang, Banten. Cukup lama saya menjadi penikmat “pasif” di Balytra. Artikel-artikel dan tulisan-tulisannya membuat saya tak pernah bosan kembali dan kembali lagi ke sini. Belakangan saya coba "pensiun" jadi silent reader dan coba menulis.

Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *