Putriku, Ujian Praktek SIM dan Dosa Diam

Meitasari S

 

Judul di atas terlintas, saat saya mengikuti Misa.

Saat itu Pastor mengatakan, menurut seorang sosiolog, entah siapa namanya (karena tidak terekam dalam ingatan saya) mengatakan bahwa “carut marut di Indonesia ini terjadi karena banyak orang pintar diam“. Umumnya mereka tidak mau repot dan malas terkena masalah atau dikatakan cerewet.

silent-sinners

Hal ini mengingatkan saya saat mengantar putri saya untuk ujian SIM. Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri, ujian praktek SIM yang menurut saya sangat tidak masuk akal. Bahkan saya pikir, yang bisa lulus ujian praktek seperti ini adalah mereka yang mengendarai dengan ugal-ugalan.

Untuk mendapatkan SIM beberapa tahap yang harus kita penuhi adalah sbb :

1. Mempersiapkan fotokopi KTP

2. Mengurus surat keterangan sehat di klinik

3. Melakukan registrasi pengurusan SIM di Polres

4. Melakukan ujian teori

5. Melakukan ujian praktek

6. SIM selesai diurus

Kegiatan1-4 tidaklah terlalu sulit. Hanya pada kegiatan 2, menurut saya sering kali dilakukan asal-asalan. Tetapi pada kegiatan yang ke 5, ujian praktek sangat tidak relevan. Dari pengalaman saya mengemudi saya hampir tidak pernah menghadapi rintangan seperti yang diujikan.

Jadi apa yang dicari Polisi, jika yang mengikuti ujian praktek 100 orang dan yang lulus hanya 2 orang ? Tidak ada lain selain prasangka buruk, yaitu uang bawah tangan alias suap!

Walaupun Polisi sudah memberikan sosialisasi trik untuk bisa lulus, tetapi jika materi ujian praktek masih saja demikian, sulit sekali menghindari praktek korupsi dan suap.

Perhatikan saja video berikut, dan anda bisa menyimpulkan sendiri dari hasil ujian tersebut.

Dan harus saya akui, saya memang termasuk salah satu pendosa yang melakukan dosa diam dan tak mau repot. Bagaimana dengan anda ?

Tapi dengan menyuarakan hal ini saya berharap, semoga ada perbaikan dalam materi ujian praktek pembuatan SIM. Lebih realistis dan tidak ada maksud tertentu dari pihak kepolisian yang malah justru melegalkan kecurangan-kecurangan.

Sebaliknya ujian praktek pembuatan SIM akan memberikan pengalaman pada pengendara, cara mengemudi yang aman dan tidak membahayakan pengguna jalan lainnya.

 

Semarang, 22 April 2015

 

 

About Meitasari S

Seorang istri dan ibu pekerja yang karena pilihan kehidupan, menahkodai keluarganya paralel dengan suaminya yang satu di Jakarta dan satu lagi di Semarang. Jiwa sosialnya yang tinggi, membuatnya terlibat juga dalam kepengurusan salah satu sekolah asrama di Jawa Tengah dan juga dalam lembaga sosial Anak-anak Terang yang mendanai anak-anak kurang mampu untuk menempuh pendidikan yang lebih baik.

My Facebook Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.