Menikmati Indahnya Alam Papua

Wiwit Sri Arianti

 

Lima tahun yang lalu aku pernah mendapat tawaran untuk mengevaluasi sebuah program pendidikan di Teluk Bintuni. Jadwal dan beberapa informasi yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan di Papua sudah dikirim, aku juga sudah mempersiapkan diri untuk pergi mengarungi belantara Papua. Mungkin memang belum saatnya aku menginjakkan kaki di tanah Papua, karena tiba-tiba saja hasil pemerksaan gigi dan rahang putriku mengharuskan operasi atau bedah mulut untuk memperbaiki gigi yang rusak dan membetulkan rahangya supaya lebih presisi. Karena ayahnya sedang tugas ke Kalimantan sehingga yang memungkinkan menunggunya di rumah sakit adalah aku. Maka resmi sudah rencana keberangkatan ke Teluk Bintuni dibatalkan dan digantikan oleh anggota tim yang lain.

Sejak itu, mengunjungi Papua menjadi mimpi yang terus bergelayut di anganku dan entah kapan akan kesampaian. Namun aku percaya selagi niat kita baik, diserta usaha yang sungguh-sungguh dan berdoa, insha Allah suatu hari nanti dapat tercapai, tinggal tunggu waktu yang pas aja.

Ech, ternyata suami tercinta yang duluan dapat kesempatan blusukan ke tanah Papua. Sebetulnya aku berharap beliau dapat mengirimkan foto dan tulisannya tentang keindahan alam Papua dan aktifitasnya mengisi hari-hari di sana tanpa keluarga. Mungkin karena kesibukan dan lain hal, maka harapanku itu tak pernah kesampaian, beliau hanya mengirimkan foto dan satu dua kata untuk menandai foto apa dan di mana. Kupikir sayang sekali kalau hanya kunikmati sendiri, maka kurangkailah foto-foto yang indah dan kubagi untuk sadaraku di keluarga Baltyra. Tulisan ini sudah dibaca dan diedit oleh Pak Warno. Selamat menikmati yaaaaa….

“Gedung Diklat PU Jayapura”

“Gedung Diklat PU Jayapura”

Kalau dilihat dari jendela kamar suami, Gedung Diklat PU ini nampak seperti di atas pepohonan seperti negeri di awan aja hehehe…

“Pelabuhan Jayapura dipandang dari Bukit Menara TVRI”

“Pelabuhan Jayapura dipandang dari Bukit Menara TVRI”

“Kapal ferry antar pulau sedang melewati pelabuhan Biak”

“Kapal ferry antar pulau sedang melewati pelabuhan Biak”

“Teluk Humboldt Jayapura”

“Teluk Humboldt Jayapura”

“Teluk Humboldt Jayapura”

“Teluk Humboldt Jayapura”

Pemandangan Teluk Humboldt yang indah ini dapat dinikmati dari warung makan langganan. Setiap kali datang ke warung bisa makan sambil menikmati indahnya teluk Humboldt dan sejuknya semilir angin spoi. Teluk Humboldt ini terletak di depan Kantor Gubernur Papua, wilayah Port Numbay atau dikenal dengan Kota Jayapura, Papua. Di teluk ini setiap tahun diadakan festival dan jadwal festival masuk dalam kalender Kementerian Pariwisata, keren ya. Pada festival ke V dilaksanakan pada tgl 5 – 7 Aguatus 2013 dengan tema Love, Culture and Green.

Di festival tersebut kita bisa menyaksikan kesenian tradisional berupa tari-tarian adat dari suku asli yang ada di wilayah pesisir Teluk Humboldt, seperti Suku Tabi dan Suku Engros. Kita juga bisa menikmati pameran kuliner menu kearifan lokal setempat dan juga pameran cenderamata khas masyarakat daerah pesisir pantai di Teluk Humboldt. Yang menarik lagi pada Festival ke V ditampilkan Tumpeng Humboldt Nusantara yang melambangkan bulan tahun kemerdekaan Indonesia setinggi delapan meter dan berisi 1945 buah kue jajanan pasar, termasuk 5.000 papeda bungkus. Hmm….jadi makin ingin ke Papua hehe..

“Pak Warno & Bombardir CJR di Bandara Frankaisiepo Biak”

“Pak Warno dan Bombardir CJR di Bandara Frankaisiepo Biak”

Meskipun Pak Warno base di Jayapura, beliau juga harus travel ke Biak, Mimika, Jayawijaya Provinsi Papua dan kabupaten Sorong dan Manokwari Provinsi Papua Barat. Perjalanan ke kota/kabupaten tersebut dilakukan dengan menggunakan moda transportasi udara, salah satunya dengan pesawat jenis Bombardir CJR, type pesawat andalan GA untuk penerbangan jarak pendek. Memang keren ya dan dalam foto tersebut Bombardir CJR siap mengantar Pak Warno menuju Manokwari.

“Lapangan tenis tempat mengisi akhir pekan & membunuh kerinduan”

“Lapangan tenis tempat mengisi akhir pekan dan membunuh kerinduan”

Lapangan tenis ini menjadi tempat favoritnya ketika week end untuk berolah raga sambil membangun relasi di Jayapura. Melalui olah raga tenis lapangan ini beliau bisa mengenal para pejabat di Papua sehingga melalui diskusi informal berbagai informasi penting terkait dengan pemerintahan dapat diperoleh. Dari obrolan santai di lapangan tenis pula beberapa ide program untuk kepentingan masyarakat dapat dia sampaikan ke pejabat.

Kita semua sudah tahu seperti apa kualitas anggota dewan kita, memang tidak semuanya tapi sepertinya mayoritas mereka jauh dibawah harapan, terutama kualitas moralnya. Mohon maaf untuk teman2 anggota DPR/DPRD atau yang mempunyai anggota keluarga di lembaga tersebut. Saya sudah sampai pada rasa muak menyaksikan kelakuannya di TV, seperti berantem di sidang paripurna, membuat anggaran siluman (menurut Ahok), minta naik gaji padahal hasil kerjanya belum ketahuan, dll. Memperbaiki kualitas legislatif, itulah kira2 tugasnya di Papua dengan melakukan pelatihan2, istilah kerennya awareness rising. Di bawah ini foto beliau di depan gedung DPRD Jayawijaya.

“Bandara Wamena di Kota Wamena Kab.Jayawijaya”

“Bandara Wamena di Kota Wamena Kab.Jayawijaya”

“Inilah tempat pengambilan bagasi di Bandara Wamena”

“Inilah tempat pengambilan bagasi di Bandara Wamena”

“Pak Warno bersama Genk-nya di ruang tunggu Bandara Wamena”

“Pak Warno bersama Genk-nya di ruang tunggu Bandara Wamena”

Jangan membayangkan bandara Wamena dengan bandara Soekarno Hatta di Jakarta, karena bangunan di bandara Wamena seperti rumah biasa dengan atap terbuat dari seng berdinding kayu. Kondisi alam dan masyarakat sangat mempengaruhi operasional bandara yang unik ini. Wamena merupakan sebuah kota yang ada di wilayah pergunungan di Kabupaten Jayawijaya Papua. Di kota ini kita bisa melihat bukit berpasir putih, mumi ratusan tahun dan suku asli Papua yang masih berkoteka.

Pesawat yang parkir di Bandara Wamena adalah pesawat tipe perintis jenis Hercules, ATR, ada pesawat boing 737-200 tapi khusus untuk angkutan barang. Penerbangan sangat bergantung kondisi cuaca. Kalau cuaca buruk, jangan berharap bisa terbang dari dan ke Wamena.

Satu hal yang menyenangkan pak Warno adalah punya sahabat masyarakat asli Wamena yang selalu berada disekitar bandara (semacam gelandangan). Orang ini mendapat uang dari berfoto dengan pendatang layaknya selebritis lalu setelah itu dia akan minta bayaran minimal Rp.100.000,- Bagi Pak Warno foto dengan dia tidak perlu membayar karena dengan gaya dan pendekatannya beliau diterima sebagai temannya.

“Pak Warno bersama temannya di Wamena”

“Pak Warno bersama temannya di Wamena”

Ketika suatu hari kunjungan ke Kab. Sorong, beliau sempat blusukan ke pasar tradisional dan menemukan buah merah yang terkenal berkasiat untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit. Menurut pengamatan beliau, bentuk buah merah menyerupai buah nangka yang masih sangat muda, kami orang Jawa menyebutnya “babal”. Sehingga jika sudah terlepas dari pohonnya tidak bisa disimpan lama-lama karena buah tersebut bisa “mrotholi”, atau lepas kulit luarnya dan tinggal isinya atau buah bagian dalam.

Olahan sari buah merah dapat dikonsumsi sebagai obat dengan cara diminum atau bisa juga dicampur dengan sayur atau bahan makanan sehari-hari. Aku pernah dibawakan sari buah merah dan kuminum setiap malam 1 sendok makan dengan aturan, sebelum dan sesudah minum sari buah merah disarankan untuk minum air putih. Di dalam label yang tertempel pada botol kemasan tertulis manfaat sari buah merah antara lain untuk meningkatkan stamina, mengobati tumor, kanker, jantung coroner, HIV/AIDS, ketergantungan narkoba, kesehatan mata, dll.

Sama dengan obat apapun, jika cocok dengan tubuh yang minum, maka manfaatnya dapat dirasakan dan bisa menyembuhkan penyakit yang diderita. Namun jika tidak cocok dengan tubuh peminum sari buah merah, maka sudah pasti tidak akan sembuh. Sama to dengan jenis obat apapun? Jadi tidak perlu risau, tapi yang jelas bahwa Allah itu menciptakan semua tumbuhan di bumi pertiwi tercinta ini pasti ada manfaatnya, tugas kita untuk mencarinya, hehehe…

“Buah Merah dari Sorong”

“Buah Merah dari Sorong”

“Pak Warno dan buah merah, supaya teman2 bisa membayangkan sebesar apa buah ini”

“Pak Warno dan buah merah, supaya teman2 bisa membayangkan sebesar apa buah ini”

“Indahnya Lembah Baliem”

“Indahnya Lembah Baliem”

Foto di atas adalah foto Lembah Baliem yang diambil dari atas pesawat yang membawa Pak Warno ke Wamena. Lembah Baliem terletak di lembah pegunungan Jayawijaya dengan ketinggian 1600 meter dari permukaan laut, dengan suhu bisa mencapai 10-15 derajat celcius pada waktu malam. Lembah Baliem dikelilingi oleh pegunungan dengan pemandangan yang sangat indah dan alami.

Lembah Baliem juga dikenal dengan nama Grand Baliem Valley, di lembah itu terdapat suku Dani yang tinggal di desa Wosilimo, 27 km dari Wamena, salah satu kabupaten di Papua. Selain suku Dani juga ada suku lain yang bertetangga di lembah Baliem namanya suku Yali dan suku Lani. Saat ini lembah Baliem juga sudah dibuka untuk pariwisata dengan adanya Festival Lembah Baliem.

“Pulau di tengah danau Sentani”

“Pulau di tengah danau Sentani”

Foto di atas adalah salah satu pulau kecil di danau Sentani, foto diambil dari pesawat ketika Pak Warno sedang terbang melintas di atas danau Sentani.

Danau Sentani berada di bawah lereng Pegunungan Cagar Alam Cyclops yang memiliki luas sekitar 245.000 hektar. Danau Sentani merupakan danau terbesar di Papua dan terbentang antara Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura, Papua. Danau Sentani memiliki luas sekitar 9.360 hektar dan berada pada ketinggian 75 mdpl, di dalam danau Sentani terdapat 21 buah pulau kecil menghiasi danau yang indah ini. Menurut orang Papua, Sentani berarti “di sini kami tinggal dengan damai” dan nama Sentani pertama kali disebut oleh seorang Pendeta Kristen BL Bin ketika melaksanakan misionaris di wilayah danau ini pada tahun 1898.

Saat ini, danau Sentani sudah dikelola menjadi objek wisata yang dilengkapai dengan perahu wisata untuk berkeliling danau. Jarak yang tidak terlalu jauh dari Jayapura, sekitar 50 kilometer dan mudah dijangkau, menjadi potensi pengembangan wisata yang sangat baik. Selain itu, di danau ini juga diadakan Festival Danau Sentani (FDS) untuk menarik wisatawan. Festival Danau Sentani sudah ditetapkan sebagai festival tahunan dan masuk dalam kalendar pariwisata utama diadakan pada pertengahan bulan Juni tiap tahun. Festival ini diisi dengan tarian-tarian adat di atas perahu, tarian perang khas Papua, upacara adat seperti penobatan Ondoafi, dan sajian berbagai kuliner khas Papua.

Terimakasih, semoga suatu hari nanti aku bisa menikmati langsung keindahan alam Papua…

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *