Aku Menunggu JawabanMu, Tuhan

Anik Cahyanik

 

Lama sekali aku tak bergeming. Menikmati setiap angin yang membelai manja rambut panjangku yang kubiarkan terurai. Pandanganku kosong. Pikiranku sibuk menghapus ucapannya tadi siang. Ingin rasanya aku tak ingat sama sekali dengan kejadian tadi, tapi nyatanya tetap tak bisa. Tidur berjam-jam pun tak mampu membuatku lupa akan semuanya. Setelah bangun, ingatanku menjadi lebih tajam lagi mengingatnya. Aku ingin tidur lagi, lama sekali, sampai aku benar-benar bisa melupakannya. Lampu jalanan yang masuk ke kamarku memberikan cahaya sedikit di gelapnya kamarku. Aku membiarkan kamar ini gelap agar semua orang rumah tahu aku sedang tidur dan tidak ingin diganggu. Meskipun sebenarnya aku sudah bangun. Aku tidak ingin bertemu siapa-siapa, apalagi dia.

Brak..brak..

Suara jendela yang membentur tembok karena tiupan angin sama sekali tak membuatku kaget. Jantungku sudah membeku hingga tak mampu lagi berdenyut seperti biasanya. Ada yang sesak di relung hati ini. Aku menoleh ke sampingku, ponselku bercahaya. Kulihat ternyata dia menelepon. Aku ingin mengabaikannya tapi rasanya tak mungkin aku begini terus-menerus. Diamku tidak akan menyelesaikan masalah.

“Hallo.” Suaraku terdengar serak.

“Kamu kenapa?” Gibran terdengar cemas.

“Aku nggak apa-apa.” Air itu tiba-tiba menetes lagi. Padahal sudah beberapa jam yang lalu mataku tidak bisa mengeluarkan air lembut itu. Aku menghapusnya. Aku tidak ingin dia tahu keadaanku sekarang.

“Elsa, aku minta maaf!” ucapnya tiba-tiba.

“Iya,” jawabku singkat. Aku diam lagi. Aku tidak tahu harus mengucapkan apalagi.

Aku ingin segera menyelesaikan masalah ini, tapi aku sendiri pun tidak tahu apa yang harus aku perbuat.

Klik. Kumatikan teleponnya. Padahal selama ini aku paling tidak suka ada yang mematikan telepon tanpa berpamitan, aku rasa itu tidak sopan. Tapi kali ini, aku serasa mati kutu. Aku tidak tahu apa yang harus aku ucap dan ini caraku menghindar agar tidak berbicara lebih jauh lagi. Karena aku belum tahu apa yang akan aku ucapkan.

Cahaya dari ponselku terlihat, dia meneleponku lagi dan aku mengabaikannya. Aku memasukkan tubuhku ke selimut. Aku ingin memejamkan mata lagi, berharap semua akan membaik setelah aku membuka mataku nanti.

***

Dia menggenggam erat tanganku. Merasakan sakit yang menjalar seluruh tubuhku.

“El, pergilah! Jika itu yang terbaik untuk kamu. Aku rela asalkan kamu bahagia.” Suaranya terdengar tegas. Benarkah kamu sudah siap untuk kehilanganku? Ah, apa mungkin aku yang kehilanganmu?

Aku bukan manusia sempurna, aku manusia yang tanpa disadari berlumpur dengan dosa. Salahkah aku jika aku menjauhinya karena hal itu?

Bibirku kelu tak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Ah, Tuhan. Apakah aku ini manusia sok suci? Tapi aku tidak bisa membohongi diriku sendiri. Ini sebuat komitmen yang selalu aku jaga dari dulu, aku sulit untuk bisa menerimanya.

“Aku selalu berharap ada lelaki yang lebih baik untuk kamu, aku memang tidak pantas untuk kamu, El.”

Ah, Gibran. Jangan merendah seperti itu. Apa kamu tidak tahu seberapa dalam cinta ini untuk kamu? Apa kamu tidak bisa merasakan kekecewaanku ini karena aku benar-benar menginginkanmu menjadi pendamping hidupku, dan nyatanya semua keyakinanku telah berubah. Aku tidak bisa menerima seorang lelaki yang sudah menjadi bekas wanita lain. lelaki yang membiarkan kado terindah untuk istrinya dibuka begitu saja oleh wanita lain. Aku tak bisa. Selama ini aku membungkus kado itu dan kusimpan rapat untuk pemilik hati yang dipilihkan Tuhan nantinya.

Sudah bertahun-tahun kita bersama, menjaga perasaan dan janji ini. Tapi semuanya hancur hanya karena kebohonganmu. Andai saja aku tahu dari dulu, saat aku belum terlalu jauh masuk dalam hatimu, saat aku belum memberikan hatiku sepenuhnya untukmu. Meskipun nantinya hasilnya tetap sama, aku tetap tidak bisa menerimanya. Tapi setidaknya tidak sesakit ini.

Cinta ini seperti pohon yang sudah berakar kuat di hatiku. Dan kali ini aku mencabutnya dengan paksa, rasa sakitnya masih terasa. Bekas-bekas cabutannya menyisakan lara yang perih.

“Ayolah, El! Jangan diam dan beri aku kepastian!”

Aku harus mengucapkan apa? Aku memejamkan mata dan menggigit bibir ini kuat-kuat. Bibirku bergetar akan mengucapkan sesuatu.

“Gibran, maaf aku tidak bisa menerimamu lagi dan semoga ada wanita yang lebih baik yang bisa menerimamu,” kataku dengan pelan.

Aku mengambil tas di sampingku lalu berjalan menjauh dari Gibran. Dia tidak mengucapkan apapun, tidak menahanku seperti kemarin. Dia benar-benar merelakan kepergianku, kurasa dia sudah lelah untuk mengejarku. Dia fikir percuma mengejarku lagi, toh aku juga tidak akan mau untuk kembali. Sampai aku berjalan sejauh ini, dia membiarkannya.

Sebenarnya ingin sekali merajut kembali cinta yang dulu pernah tertancap di hati ini. Aku berharap dia memanggil dan menahanku. Aku ingin itu, karena aku masih mencintainya. Tapi karena sakit ini aku memilih untuk pergi.

Ponsel di tas ku berdering, kulihat ada namanya di layar ponselku. Ada sedikit kebahagiaan menghampiriku.

“Elsa,” sapanya.

“Iya,” ucapku singkat.

“Aku minta maaf untuk semuanya.”

Tut..tut..tut dia mematikan teleponnya.

***

Cinta yang membuatku bertahan. Cinta pula yang memintaku untuk memaafkan dan menerimanya lagi. Tapi hati ini tidak bisa dibohongi. Hati ini tidak bisa terlalu lama menahan sakit. Meskipun di hati ini juga aku masih menyimpan cinta untuknya. Aku ingin dia kembali, tapi…

Selalu saja ada kata tapi yang menghantui. Aku dilema. Aku di tengah persimpangan yang aku sendiri pun tidak tahu arah mana yang harus aku pilih.

WaitingForAnAnswer

Aku hanya menunggu jawaban Tuhan. Siapa laki-laki yang pantas untukku? Aku disini berusaha untuk memantaskan diri untuk mendapatkan seseorang yang pantas.

Orang lain pikir aku terlalu suci melakukan hal ini. Terserah. Aku hanya ingin imam dalam keluargaku nanti adalah orang yang lebih baik. Jika memang Tuhan menggariskan dia untukku, aku ingin Tuhan juga menyiapkan hatiku untuk menerimanya.

Aku menunggu jawabanMu, Tuhan.

 

 

About Anik

Seorang penulis lepas berasal dari Kediri, yang sharing tulisan-tulisannya melalui BALTYRA.com. Sekarang menetap di Jember.

Arsip Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.