Cherry Blossom dan Udud

Dian Nugraheni

 

Apa hubungannya Cherry Blossom dan udud..? Udud, itu sebuah kata yang berasal dari bahasa Jawa, bisa berarti kata benda, rokok. Bisa juga berarti kata kerja, merokok. Cherry Blossom adalah sebutan ketika ribuan bunga Pink Cherry atau bunga Sakura, mekar serempak. Nah, hubungannya kayaknya jauh banget antara mekarnya bunga Sakura dengan rokok atau merokok.

Baiklah aku ceritakan ya.. Tentu saja ini cerita yang lumayan selfish, tapi siapa tau asyik juga dibagi buat teman-teman ya..? Begini, jadi, bunga Sakura itu adalah bunga impianku, sejak aku masih kelas dua atau tiga Sekolah Dasar. Awalnya aku dengan beberapa teman, yang sedang bermain di sekitar tanah lapang yang dipagari perdu liar, menemukan bunga kecil-kecil berwarna merah jambu. Kami pun berdebat tentang nama bunga itu. Seingatku, tak satu pun teman punya ide tentang apa nama bunga itu, sehingga aku memutuskan untuk menamainya, Sakura. Jangan tanya dari mana ide nama itu, karena aku tak ingat lagi.

Tapi yang jelas, habis itu bunga Sakura menjadi bunga pujaan dalam hati, meski belum jelas benar, senyatanya, seperti apa bentuk bunga dan pohon bunga Sakura itu. Hanya ada satu clue, adanya di Jepang. Cuma anehnya, aku ga tertarik mendalami apa-apa soal Jepang, kecuali bunga Sakura dan pintu geser yang hampir selalu ada di rumah-rumah tradisional Jepang.

cherryblossom01 cherryblossom02

Sampai, puluhan tahun kemudian, ketika pertama kalinya ada yang mengajakku melihat ribuan bunga putih, ada juga yang berwarna pink lembut, sampai pink yang sungguh terang dan terlihat mewah, di sekitar Tidal Basin, Washington, DC., kemudian membaca sana-sini, bahwa bunga itu bibitnya dihadiahkan oleh Jepang kepada Amerika hampir seabad yang lalu dan seterusnya, akhirnya, setiap tahun diadakan sebuah acara yang disebut Cherry Blossom Festival, yang bertepatan dengan saat mekarnya bunga Pink Cherry di awal musim semi. Dari situ, barulah aku paham, bahwa bebungaan putih sampai pink yang sedang berbunga serempak itulah yang disebut sebagai bunga Sakura alias bunga pink cherry. Sebagai informasi sekilas, bahwa bunga Sakura itu ternyata banyak sekali jenisnya, yang tentu saja nama-namanya aku nggak bakalan dengan mudah tau dan menghafalnya, karena semua dalam bahasa Jepang.

cherryblossom03

Jadi, pertemuan pertamaku dengan Sakura pujaan hati itu ternyata bukan di tempat asalnya, Jepang, tapi malah di Amerika. He..he.., agak lucu juga ini.

Ya, semakin berjalannya waktu, semakin aku menyadari, dan meyakini, bahwa Amerika, adalah negeri “pengasingan” buatku. Kata pengasingan ini, kok nampaknya dramatis banget ya..? Ya, karena dalam pengasingan memang bisa ditarik unsur-unsurnya seperti, jauh dari orang-orang yang dikenal atau kerabat, tidak leluasa melakukan banyak hal sesuka hati dan dibatasi dengan banyak aturan, dan seterusnya, yang intinya adalah rasa tidak enak, tidak bebas, dan tersisih, tapi juga sekaligus melihat dan menemukan hal-hal baru, yang mungkin di tempat asal dulu, sama sekali tidak ada atau tidak terbayang akan ada.

Pembatasan-pembatasan itu, tentu ada tujuannya, dan tujuan dari pembatasan-pembatasan atas hal yang berlebihan, apalagi hal-hal yang buruk, pasti adalah hal yang baik.

Kalau aku ceritakan tentang hal-hal yang rumit, seperti karma, reinkarnasi, dan seterusnya, pasti ceritanya akan lumayan mumet. Maka akan aku katakan gamblang-gamblang saja, bahwa manusia hidup, makin bertambah usia, itu mestinya harus makin menjadi baik, lahir batin, ya.. Tapi, nggak semua orang, dong, menyadari hal itu, lalu dengan rela melepas hal-hal duniawi yang masih terasa sangat nikmat buat dia. Nahh, kadang, ada “daya paksa” agar orang melepaskan diri dari hal-hal buruk. Hal-hal buruk itu, banyak lho yang rasanya aduhai nikmat dan susah amat bercerai darinya.

Okay, ga usah muter-muter deh. Ini aku sendiri. Aku adalah perokok sejak usia 20 tahun, sampai hari ini nyaris 25 tahun dong, aku merokok. Tanyalah pada para perokok, apa nikmatnya ngisep asap..? Hanya perokok yang tahu. Pokoknya enak, pokoknya mau, pokoknya perlu. Satu batang tinggal puntung, maunya nambah lagi, terus dan ga berhenti.

Tapi, tetep dong, merokok itu buruk..? Dulu sih, aku masih cari-cari pembenaran “enggak lah, nggak selalu merokok itu buruk, bla..bla..bla..”

Okay, ga usah banyak alasan. Taruhlah dari segi kesehatan, merokok itu buruk. Ada orang-orang tertentu, yang untuk berhenti merokok itu, dia kena “daya paksa” yang tidak menyenangkan, sakit misalnya. Meski nafsu dan mulut masih mau merokok, tapi pastilah dengan pertimbangan ini itu, akhirnya dia berhenti juga.

Padaku, kayaknya Gusti Allah juga bergerak, pengen “mepet’ aku, teruus…, di semua lini, sehingga hal-hal buruk yang banyak aku lakukan, harus aku tanggalkan, baik dengan sadar maupun daya paksa.

Soal udud, merokok, bagaimana Gusti Allah mepet aku terus menerus agar aku tengsin, lalu nggak lagi bandel-bandel amat udad-udud sesuka hati..? Okay, aku confess ya.. Ada rasa malu, nyesel, tertohok, karena dipepet, maka merasa terpepet juga, sedih dan lain-lain campur aduk.

Malu dan sedih pertama, dulu ketika masih di Indonesia, aku biasa suruh anak-anak, ponakan, atau siapa pun, belanja ini itu, dengan dikasih catatan dalam secarik kertas, “tolong ke toko Cik Lina ya, kasihkan aja dafar belanjaan, nanti bayar, lalu bawa pulang..” Gitu deh selalu aku minta mereka belanja, dan di dalam daftar belanjaan, lebih sering ada kata “Marlboro mentol, atau XMild mentol’ Itu artinya, aku menyuruh anak-anak membeli rokok untukku.

Menyuruh anak-anak membeli rokok, itu tidak “beradab”, keterlaluan, jahat, sengaja memperkenalkan hal buruk buat anak-anak. Aku tertohok dengan kenyataan ini, setelah tinggal di Amrik, bahwa di Amrik, hanya orang usia 18 tahun ke atas boleh beli rokok, bahkan standard ini akan dinaikkan menjadi minimal usia 21 tahun. Seperti apa yang sudah aku kisahkan sebelumnya tentang hal ini, maka siapa pun yang ketahuan memberi atau menjual rokok pada kalangan minor, atau anak-anak di bawah umur, maka akan mendapat sanksi denda sampai kurungan dalam penjara.

Lalu soal terpepet ini, yang pertama adalah aturan bahwa tidak boleh merokok dalam ruangan publik, seperti dalam mall, cafe, rumah makan, apartemen, dan lain-lain. Dulu di apartemen lama, masih bisa curi-curi karena inspeksi ga ketat, sekarang di apartemen baru, sama sekali ga boleh, atau kena denda. Jadi kalau mau merokok, silakan keluar gedung.

Terpepet musim, terutama winter alias musim dingin, di mana suhu udara sering terjun jauh di bawah titik beku, bahkan hingga minus 17 Celsius. Sejak winter tahun ini, aku baru satu kali merokok, karena ada teman Indonesia yang datang dan mengajak merokok waktu itu. Hasilnya, nikmat nggak, kedinginan, iya. Mana nikmat coba, merokok sambil menggigil begitu, salah-salah dada pun sakit.

Kaum perokok di Amrik ini memang sedikit demi sedikit, dimarginkan. Contohnya, toko CVS yang semula menjual rokok, akhirnya memilih untuk tidak menjual rokok. Groseri yang menjual semua barang sehat dan organik, juga terang-terangan ga mau jual rokok.

Bla..bla..bla….

Nah, ceritanya sudah tiga bulan lebih enggak merokok sama sekali ya, karena serba kepepet tadi, maka kemaren waktu mengunjungi ribuan bunga Sakura yang sedang blossom serentak, aku sudah siapkan satu pak Marlboro mentol yang belum dibuka, masih baru beli. Rencananya nanti di sana, aku akan menyingkir barang sepuluh menit, duduk sendiri, udud, sementara anak-anak biarin deh berfoto-foto atau makan siang dengan bekal pikniknya. Mana cuaca hangat, mengarah ke agak panas gitu, pasti nikmaat, hmmm…terbayang asyiknya menarik-narik asap ke dalam hidung.

Laluuu, apa yang terjadi teman-teman..?

Kalau pas Cherry Blossom itu ya, yang datang tumplek blek itu orang tua muda, laki perempuan, yang pakai kursi roda pun didorong-dorong demi menikmati suasana. Sudah lebih satu kilometer aku berjalan mengitari danau, dengan melihat ratusan bahkan ribu orang yang lalu lalang, ada yang duduk-duduk santai sambil makan, tidur-tiduran di rumput, tapi kok…nggak satu pun yang udud..? Sueeer…ga satu pun. Maka aku tambah tengsin, dengan mengira bahwa di suasana santai di alam terbuka, bersimbah hangat matahari, para perokok akan menyempatkan diri merokok sambil ngobrol. Ternyata tidak…

Ada beberapa kemungkinan, mengapa orang-orang tidak terlihat satu pun yang merokok di sekitar danau tempat pesta bunga Sakura sedang berlangsung, di antaranya adalah, memang ada larangan, bahwa di taman itu tidak boleh merokok, dan kemaren itu aku nggak sempat melihat papan larangannya. Ya, di Amerika banyak tempat terbuka seperti area taman kota, atau kampus yang menerapkan larangan merokok, bukan hanya di dalam gedung-gedungnya. Kemungkinan lain adalah, bahwa kekuatan keindahan kehadiran ribuan kelopak bunga Sakura yang mengambang di udara memenuhi langit sekitar Tidal Basin, terlalu menyihir mereka dalam ketakjuban, kebersyukuran, kebersamaan, keceriaan, yang membuat mereka sejenak menyisihkan kepentingan-kepentingan pribadinya.

Whatever, maka, klunthung deh aku.., kayak Donald Bebek yang kalah saingan sama sepupu si Untung Bebek, berjalan dengan sayap tertangkup luruh, aku kembali berjalan menemui anak-anakku yang sedang asyik duduk dan berfoto-foto. Marlboro kembali kusimpan dalam tas tanpa sempat kubuka. Dan sampai aku nulis ini, juga dia masih tetep utuh.

Lumayan lucu juga, perokok bangkotan yang sudah mulai merokok sejak 25 tahun lalu, bisa “terhenti” karena terpepet-pepet itu tadi. Mestinya, aku bersyukur bahwa yang mepet-mepet tadi masihlah hal-hal yang menyenangkan, setidaknya, kalau aku harus berhenti udud, merokok, bukanlah karena aku sedang diberi sakit. Iya kan..?

 

Salam Cherry Blossom dan Udud Yang Tertunda,

Dian Nugraheni

Virginia, Senin, 13 April jam 11.33 malam

(Seperti biasa, musim Semi hanya ditandai dengan mekar bunga-bunga, tapi suhu udara sudah mengarah seperti Summer, musim panas..)

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *