Salam dari Pinggiran Bengawan Mengaji

Leo Sastrawijaya

 

Rembulan nampak berlari layaknya gelandangan yang tidak peduli kepada apapun dan hanya ingin berpacu dengan waktu mencapai puncak langit malam nan biru tenteram namun menggoda, sedang gemericik aliran Bengawan Mengaji, terdengar ritmis membelah hening malam. Roro Cemplon senyum-senyum sendiri memandangi potret sebadan penuh sang suami Bawor, eSHa, eMeLPhi, PeHaDe, bagaimanapun dia kadang-kadang bisa geli sendiri bila menelusur kisah dan pilihannya memilih Kang Bawor menjadi pasangan hidupnya. Bagaimana mungkin Roro Cemplon, bintang kampus yang kenes, langsing menawan dengan “inner sensual sense” yang bisa membuat Marlyn Monroe nampak seperti perawan lugu ingusan tanpa daya tarik memilih Bawor sebagai pasangan hidupnya, pasangan untuk melewati suka duka kehidupan, pasangan untuk membuat sebuah garis keturunan.

“Plon, jangan pernah bilang kalau kamu naksir Bawor karena pesona ketampanannya ya! Itu jelas pitenah!” Begitu dulu sungut Raden Roro Wargiyanti Kusumawati sepupu sekaligus karib terdekat bersungut-sungut berat kepadanya.

“Ya sudahlah mBakyu, aku memang memilih Kang Bawor untukku sendiri, bukan untuk orang lain. Pemahamanku tentang Kang Bawor juga pemahaman untukku sendiri, bukan untuk orang lain. Bagiku dia seksi, meski ya itu kalau dibilang tampan, jelas jauuuuh dan pitnah besar.” Jawab Roro Cemplon datar plus sadar.

Sontak konfirmasi Cemplon sempat membuat gempar keluarga besarnya.

“Bawor Banyumas ndobleh enggak jelas itu?”

“Gila apa itu Cemplon!!! Jangan-jangan dia sudah kena aji Semar Mesemnya Bawor !!!”

“Cemplon-cemplon mBok ya nyebut, kamu itu lebih dari cukup punya modal mengumpulkan seribu lelaki tajir yang gantengnya uleng-ulengan untuk kamu pilih jadi suami, lha kok memilih pria dengan syndrom gagal penampilan itu … Nyebut to nDuk. ”

“Bagian mananya dari Bawor yang kamu pilih, kaya jelas tidak, tampan apalagi … !?”

Begitu antara lain sumpah serapah yang dikeluarkan seluruh keluarganya, namun cemplon kekeuh menjalankan pilihannya, ini soal pilihan yang tidak boleh salah, dan Bawor dengan segala “minoritasnya” adalah pilihan tidak salah untuknya. Cemplon melawan sedih, melawan sakit hati, melawan nelangsa, melawan apapun yang bikin hatinya merasa ragu untuk memilih, merajut masa depan dengan Kang Bawor yang jauh dari kaya, dianggap fitnah pula bila dikatakan tampan apalagi menawan ….

riverside

Dan kini, lebih dari dua dasawarsa terlawati, ia merasa telah melewati ribuan petualangan jiwa bersamanya, melewati relung-relung kehidupan yang tidak dipahami banyak orang, kadang-kadang seperti diterbangkan oleh angin meliuk-liuk kesana kemari seperti tanpa arah untuk kemudian bertemu dengan eksistensi keagungan dan keindahan baru yang nikmat dan nyaman untuk dikulum dan dinikmati. Tidak sedikitpun Roro Cemplon menyesali pilihannya, ia justru bersyukur. Apalagi dua anaknya yang kini mulai dewasa tumbuh menjadi sosok yang lebih mirip secara ragawi dengannya daripada ayahnya, namun memiliki ruh dengan kualitas sosok seorang Bawor.

Lebih bersyukur lagi menyadari bahwa dahulu dia sempat berada pada ujung pilihan, antara Bawor dan Leo Sastrawijaya … tidak terbayangkan bila dia dahulu memilih Leo. Hanya memiliki wajah yang sedikit lebih realis, sedang yang lain jelas kalah jauh dari Bawor, minus klepus pokoke. Apalagi ketika kemudian dia sadar, wajah dan sosok Bawor yang tidak jelas itu, akan menjadi sangat jelas nilai artistiknya bila di lihat dari kacamata abstrak. Bawor adalah lukisan abstrak yang keindahannya hanya bisa dipahami oleh mereka yang “mengerti” !

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.