Kejutan Sepanjang Hari

Wesiati Setyaningsih

 

Kalau jaman saya, enggak bakal berani ngerjain guru yang ulang tahun, tapi sejak saya mengajar hampir tiap ulang tahun saya dikerjain. Ada yang tahu-tahu kelas kosong melompong dan saya yang kesal hampir balik lagi ke ruang guru waktu tiba-tiba mereka muncul bawa roti tart dan menyanyi ‘happy birthday’ sambil berjalan masuk kelas lagi. Sejak itu saya selalu waspada kalau pas ulang tahun.

Tahun depannya anak kelas wali saya datang pas istirahat, bilang LCD kelas pecah dan minta saya ke kelas, tapi saya sudah tahu kalau dikerjain. Sampai sekarang anak yang meminta saya ke kelas lagi itu masih ingat dan bilang, “Bu Wesi payah, kita mau ngerjain udah tahu duluan. Besoknya lagi anak debat ngerjain saya yang lagi creambath di salon. Mereka bawa roti tart dan nyanyi ‘Happy Birthday’ sambil masuk salon. Untung saat itu cuma ada satu pelanggan karena salon baru saja buka.

Tiap beli kalender baru saya selalu melihat tanggal ulang tahun saya jatuh hari apa. Saya cek pada hari itu saya ngajar kelas wali saya atau tidak. karena kalau itu jadwal saya ngajar kelas wali saya, berarti saya harus siap dikerjain.

Hari ini, 29 April 2015, saya sudah siapkan soal ulangan. Di kelas wali saya XI IPS 3, Senin kemarin saya sudah pesankan kalau Rabu ulangan. Emir protes, “Kan itu cuma satu jam Ma’am..”

“Kan satu jam cukup,” kata saya.

Saya tahu Rabu itu jatuh hari ulang tahun saya. Pas banget, biar saya enggak dikerjain. Jadi pagi-pagi saya bikin soal dua tipe, untuk kanan dan kiri, masing-masing 20 soal. Rabu saya ngajar tiga kelas. Ketika hampir masuk kelas XI IPS 2, saya dibisiki teman yang katanya mendengar kalau ada anak yang mengatakan hari ini hari ulang tahun saya. Maksudnya memberi tahu saya bahwa saya akan diberi kejutan.

“Oke, saya sudah waspada kok kalo mau dikerjain.”

Tapi kelas XI IPS 2 cuma mengejutkan dengan menyanyikan ‘Happy Birthday’. Setelah mereka menyanyi, ulangan tetap jalan. Done. Mission accomplished. Setelah ini saya ngajar ke kelas XI IPS 3, kelas di mana saya jadi walinya.

Bel berbunyi dan saya berjalan ke kelas. Dari jauh saya melihat ada anak yang mengintip lewat jendela dan sepertinya dia memberi tahu temannya. Bedanya, kalau biasanya melihat saya dari kejauhan mereka lantas pada diam, ini malah tambah ramai.

Well, this is it, pikir saya.

Hampir sampai kelas, mereka makin ramai luar biasa kaya anak-anak liar. Jauh beda dengan biasanya, mereka kelas yang cukup tenang. Saya buka pintu kelas sedikit, takutnya dikagetin dengan apa gitu. Tampak ada sepatu-sepatu bertebaran di depan kelas. Saya tersenyum saja.

Oh, jadi ini pertunjukannya, batin saya.

Sampai di meja guru, taplak tergulung berantakan. Saya coba buka, ada sampah di dalamnya, jadi saya tidak jadi menata meja. Saya tetap tersenyum, menahan geli dalam hati. Mereka pikir mereka bisa membuat saya marah begitu saja? Nggak akan. Sementara mereka masih ramai, seperti sengaja agar kelas jadi ramai.

Karena suara saya tidak mereka dengarkan, saya ambil spidol dan saya tulis, “Belajar 10 menit. Ulangan. Don’t even think you can make me angry today!”

Protes terdengar, “Enggak mau ulangan! Enggak mau ulangan!” Mereka berteriak-teriak.

Saya biarkan dan tetap tersenyum. Tahu-tahu terdengar nyanyian Happy Birthday dan Rizal membawa tumpukan roti bundar dengan ditancap lilin dan diberi tulisan ‘43’ yang ditempel di sampingnya dengan jarum pentul. Mau nggak mau saya tertawa. Upacara tiup lilin dan membagi roti selesai. Ulangan saya batalkan dan mereka berteriak histeris saking girang.

“Ma’am Wesi kerasa nggak tadi mau dikerjain?” tanya salah satu anak.

“Oh, iya,” kata saya. “Tiap kali ulang tahun saya sudah waspada. Bukan sekali ini saya dikerjain. Dulu juga pernah, tahu-tahu kelas kosong. Ternyata mereka ngagetin dengan bawa roti.”

Karena kelas jadi kotor dengan potongan kertas yang ditaburkan waktu tiup lilin, mereka saya minta membersihkan kelas sementara saya mengambil kamera untuk foto bersama di kelas. Ketika balik lagi ke kelas, saya lihat beberapa anak keluar dari kelas. Pasti mereka mau ngerjain saya lagi. Benar saja. Kelas kosong. Saya melangkah ke parkiran samping kelas, saya lihat ada anak yang sembunyi di kamar mandi samping kelas. Lanjut ke parkiran, ada banyak anak di situ. Saya tertawa.

“Hayooo..! Mau ngerjain lagi ya?”

Anak-anak kecewa karena saya tahu duluan. Usaha mereka gagal.

“Aduh! Kurang seru nih ngerjainnya. Besok lagi, ah…” seorang anak mengeluh kesal.

Saya tidak bisa menahan tawa. Foto-foto tidak jadi di kelas karena kata Riri, di kelas gelap.

“Enakan di lapangan, Bu. Terang…” katanya.

Saya setuju. Saya berjalan ke lapangan. Map yang isinya daftar nilai, soal-soal ulangan, dan block note, saya taruh di taman pinggir lapangan. Lha kok mereka membiarkan saya berjalan sendiri ke lapangan. Well, saya tahu saya sedang dikerjain lagi. Fine, saya duduk sendiri di tangga tengah lapangan dengan santai, tidak kesal sama sekali. Beberapa anak mentertawakan saya, tapi saya tersenyum saja. Tahu-tahu anak-anak perempuan berlari-lari, berebutan untuk bisa duduk di sebelah saya. Haha…

kejutan-ultah

Selesai foto-foto, saya kembali ke tempat saya meletakkan map saya. Loh, kok hilang? Ini kerjaan anak-anak lagi, pasti. Ah, nanti pasti ketemu, pikir saya sambil melangkah ke ruang guru. Sampai ruang guru saya telepon salah satu anak, Oka.

“Cariin mapku,” kata saya. “Tadi tak taruh di taman, ilang.”

Dia juga melihat saya meletakkan map saya di depan X IPS 1, tapi sudah tak ada lagi di sana.

“Tanyain teman-temanmu. Pasti ada yang ngumpetin.”

Telepon saya tutup. Oka ini anak perempuan yang aktif dan bertanggung jawab. Tidak mungkin dia tega ngerjain saya lagi. Tunggu punya tunggu, akhirnya Oka datang membawa map saya.

“Siapa yang bawa?”

“Nggak tau, Ma’am. Tau-tau tadi di lacinya Rinto.”

Dasar anak-anak. Saya geli sendiri. Selanjutnya saya ngajar XI IPA 7. Mereka menyanyikan ‘Happy Birthday’ lagi berulang-ulang sampai capek dan saya biarkan saja. Hahaha.. Ulangan tetap jalan.

Sebelum selesai ngajar saya sudah harus pergi ke Vina House untuk menemani anak-anak yang beberapa waktu lalu menulis kumpulan cerpen. Acara berlangsung lancar dan menyenangkan. Ketika para hadirin sudah pulang dan ruang pertemuan sudah mulai sepi, Ida dan teman-temannya menyanyikan ‘Happy Birthday’ dan membawa tart kecil lengkap dengan lilin kecil.

birthday-surprise

Wah, surprisenya masih ada lagi!

Pulang ke rumah, sebuah tumpeng menunggu, buatan Ibu saya. Memang itu sudah direncanakan. Bukan surprise, tapi sama menyenangkannya. Pulang dari rumah Ibu, suami mengulurkan sekotak es krim.

“Nggak sempet nyari tart, ini aja,” katanya.

Benar-benar hari yang penuh kejutan menyenangkan. Cuma bisa bersyukur pada Tuhan atas semua yang sudah saya alami hari ini, dan terima kasih yang tak bisa terucap lagi untuk semua yang sudah menunjukkan perhatiannya untuk saya hari ini. semoga kalian semua berbahagia…

 

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *