[Kisah-kisah di Dapur Reot] Persekutuan Mince dan Timluk

Wina Rahayu

 

Setelah olahraga ringan di halaman belakang rumah milik tetangga sebelah yang tak ditinggali, tak biasanya Mince mandi sepagi ini. Ada banyak alasan yang selalu Mince buat untuk menggugurkan keabsahan mandi saat jam belum lewat pukul 09.00. Namun hari ini sepertinya cukup spesial atau mungkin Mince “kesambet” sehingga membuat ia segera bergegas mandi. Mince menikmati guyuran air dingin dari gayung plastik warna hijau. Di saat Mince menikmati ritual mandi, terdengar teriakan dari pintu samping dapur, “mbak, mbak Mince…”. Teriakan itu samar-samar bersaing dengan bunyi air dari kran kamar mandi. Untuk membuat pendengarannya lebih tajam menangkap suara itu Mince mematikan kran. Mince diam sesaat untuk menunggu suara itu kembali terdengar.

“Mbak…lagi pada di mana kok sepi, pintu depan ditutup.”

“Woaalah, kamu tho Timluk, bikin kaget wae.”ucap Mince sambil sedikit membuka pintu kamar mandi yang sudah reot dan tidak bisa ditutup rapat.

Dialog itu terputus dan Mince melanjutkan ritual mandi yang tentu saja tidak lebih dari 10 menit.

Di pintu samping yang terbuka, nampak gulungan asap mengepul dari rokok yang dihisap Timluk. Di situlah tempat favorit Timluk memuaskan hajat merokoknya, pintu samping menghadap ke kebun dengan pohon-pohon yang rindang. Bukan hanya asap yang “kedal-kedul” membaui dapur reot rumah Mince. Bau kopi instan yang menyengat juga menambah campur aduk aroma di dapur Mince yang jika malam hari menjadi ajang bermain sekawanan curut dengan baunya yang menyengat. Sekalipun dapur Mince reot karena mulai keropos disantap rayap dan bau tapi di dapur inilah Mince dan para solmet Mince bisa mengekpresikan dirinya. Salah satunya Timluk, seorang perempuan dengan profesi sebagai PRT (Pembantu Rumah Tangga) freelance di beberapa rumah di komplek tempat Mince tinggal. Untuk memenuhi hajad merokok tentu saja tidak mudah Timluk lakukan di sembarangan tempat, semua itu terjadi karena dia perempuan. Penilaian bahwa Perempuan merokok identik dengan perempuan “nakal” mengganggu pikirannya.

++++++++++

Sudut kenikmatan Timluk

Sudut kenikmatan Timluk

Penilaian inilah yang Mince dialogkan dengan Timluk setelah beberapa saat kenal dengannya. Saat itu Mince masih punya uang lebih untuk mengunakan jasa Timluk menyetrika baju.

“Ngomongin rokok kaitannya bukan dengan jenis kelamin yo Mluk…” ucap Mince.

“Kok bisa mbak, bukannya yang boleh merekok hanya laki-laki.” bantah Timluk.

“Kata siapa…?” Mince mencoba mengajak Timluk untuk berpikir ulang atas pendapat itu.

“Sekarang nyatanya mbak, kalau perempuan juga boleh merokok kenapa kok kalau ada perempuan merokok di bilang perempuan nakal.”

“Nah kalau menurutmu sendiri piye Mluk?”

“Bingung aku mbak, aku cinta banget sama rokok. Tapi aku juga ati-ati sampai menahan nafsu merokokku kalau di rumah. Takut ketahuan anak-anak, apa pikirannya mereka kalau lihat ibunya merokok. Padahal aku tersiksa, akhirnya ya tetap merokok sambil umpet-umpetan.” ungkap Timluk.

Itulah perilaku Timluk di depan anak-anaknya, sekalipun itu semua sangat menyiksanya. Timluk memilih menggunakan topeng “alim” daripada terkena label “perempuan atau ibu tidak baik alias nakal”.

“Nah pemikiran itu yang kudu kita kaji Mluk. Ini yang disebut pandangan tidak adil, karena laki-laki dan perempuan punya hak yang sama, termasuk soal merokok.” jelas Mince.

Nampak ada ekspresi kebingungan di raut Timluk, dia berada pada zona kebimbangan. Mau sebenci apapun Timluk terhadap yang namanya rokok, hal itu tetap tidak bisa ia lakukan. Rokoklah yang menjadi pendamping setianya saat ia frustasi dan minggat ke Jakarta, saat kedua orang tuanya bercerai.

Timluk kembali bertanya pada Mince,”kalau penilaian mbak Mince sendiri piye? Khan mbak Mince juga bukan perokok, apa penilaian mbak kalau lihat perempuan merokok.”

“Kalau ngomongi soal rokok tidak berdasarkan jenis kelamin atau kesopanan tapi soal efek merokok. Menurutku ya Mluk, kalau kamu merokok tapi nggak sampai berlebihan bahkan nggak bikin sakit ya nggak opo-opo. Apapun sing penting nggak berlebihan, apalagi kayak kamu yang punya bibit bengek. Trus kalau kamu merokok juga kudu berpikir orang di sekitarmu, jangan kamu yang dapat nikmat orang lain yang sakit. Kasihan para perokok pasif kalau mereka memanen apa yang kamu lakukan.“jawab Mince.

“Oh…ngono ya mbak, makanya di kantor mbak Mince ada ruang di atas khusus untuk para perokok ya. Ngerti aku mbak, jadi soal merokok iku bukan kaitannya dengan laki-laki atau perempun tapi soal kesehatan dan menghargai orang lain yang bukan perokok. Tapi memang bener sih mbak, aku sendiri walaupun perokok tapi kalau lihat orang ngrokok di bis umum aku juga sebel…. Syukur dheh jadinya aku sekarang ora isin kalau mau merokok di sini.”ujar Timluk dengan sumringah.

Perjuangan Timluk masih panjang soal rokok, bagaimana ia bisa bicara ke anak-anaknya tentang kekasih setianya itu. Hanya dengan rokoklah Timluk bisa melepaskan kepenatannya menghadapi hidup bak gelombang laut Selatan yang ganas.

++++++++++

Inilah tempat persekutuan Mince, Timluk dan para solmetnya

Inilah tempat persekutuan Mince, Timluk dan para solmetnya

Di sinilah ruang kemanusiaan terjalin yang melahirkan pencerahan dan “pembebasan”...

Di sinilah ruang kemanusiaan terjalin yang melahirkan pencerahan dan “pembebasan”…

Dapur reot itu bersaksi atas banyak cerita yang keluar dari bibir Timluk yang seksi bergincu merah. Namun gincu merahnya hanya menghiasi bibirnya saat dia sedang bungah alias gembira. Jangan harap keseksian bibir bergincu itu akan ada saat Timluk gundah gulana. Mince akan melihat penampilan Timluk yang tidak sedap dipandang, bibir pucat, rambutnya kriting awul-awulan seperti 7 hari tidak disisir. Saat seperti ini Timluk akan serta merta berbicara bak kran bocor, meluapkan perasaan gundahnya dan Mince pun setia menampung kebocoran hatinya.

Sebagai PRT freelance, Timluk mendapat upah dan job yang tidak tentu. Seperti saat ini, di dua tempat kerjanya yang sudah menguras tenaganya Timluk mendapat uang 600 ribu sebulan. Uang itu harus dapat memenuhi urusan makan dan sekolah anaknya. Dengan penghasilan sebesar itu Timluk hanya mampu membeli beras yang banyak krilil alias batu-batu kecil dengan harga 7 ribu. Sebenarnya 2 bulan yang lalu Timluk mencoba bekerja tetap di satu juragan namun ia diputus hubungan kerja oleh majikannya. Timluk mencoba kerja tetap karena bertimbang Debrot (anak pertamanya) akan masuk sekolah menengah. Timluk berpikir kalau ia tidak bekerja tetap bagaimana bisa nyekolahin anaknya. Sedang bojonya Sudimin yang sontoloyo itu hanya bisa marah-marah kalau diajak bertimbang permasalahan yang mereka hadapi.

“Mbak Mince, kira-kira gimana kalau aku terima strikaan di rumah ya? Aku punya 2 strika, biar si Debrot juga bantu strika. Jadi dia punya duit sendiri, paling nggak untuk uang saku dan ongkos ke sekolah. Kalau nunggu Sudimin, bojoku yang sontoloyo sepanjang masa mana bisa maju mbak.”keluh Timluk sahdu.

Dapur Mince yang reot dan bau untuk kesekian kalinya menjadi saksi persekutuan antara PRT dengan mantan majikan. Mince tidak bisa bicara banyak, dadanya nyesek. Namun Mince mencoba untuk memperjelas apa yang menjadi rencana Timluk,

“Mluk, kata kamu listrik di kontrakanmu masih jadi satu sama pemilik rumah ya? Apa itu nggak diperjelas dulu, nanti jadi masalah lho. Kata kamu listriknya juga sering mati kalau semua pada strika, jangan-jangan hanya 450 watt untuk 3 rumah.”

“Iya sih mbak, aku juga mau ngomong dulu sama yang punya kontrakan.” Jawab Timluk.

Begitulah situasi yang Timluk hadapi, setiap mau buat usaha sendiri selalu ada hambatan. Pernah Timluk bilang, apa memang takdirnya menjadi PRT sepanjang masa. Jual tenaga, itulah yang menjadi andalannya. Kadang Timluk menyangkal sendiri apa yang dia bilang takdir. “Dari buku yang aku pinjem dari kantor mbak Mince, ada tulisan yang ngomongin soal takdir. Menurutku benar kalau kita jangan hanya pasrah dan mengatasnamakah semua dengan kata takdir. Yang paling utama ya upaya, takdir adalah timbal balik atau hasil dari upaya manusia. Mosok Tuhan terus yang di “kambing hitamkan”, kalau gagal dengan mudah bilang takdir Tuhan.”ucap bijak Timluk.

++++++++++++

Bukan hanya cerita sendu merayu-rayu saja yang di dengar Mince di dapur reot ini. Timluk juga cerita urusan “ranjang reot dan kusur tipisnya yang sudah keras bak papan penggilesan”. (Sebenarnya cerita Timluk tentang urusan yang satu ini cukup detail dan mak syurr…., tapi demi konsentrasi membaca ya disensor aja ya…). Dari cerita tentang Sudimin yang mudah loyo kalau lagi “main”, sampai bagaimana Timluk mengawali permainan ranjangnya dengan menonton film-film barat di tipi.

“Aku kalau lihat cowok-cowok bule di film barat yang ganteng sering gampang greng,” cerita Timluk tanpa tedeng aling-aling.

Belum lagi cerita permainan “jari” Sudimin yang dasyat dan mantap, bikin Timluk menyerah kalah. Di antara cerita yang syurrr dan dasyat, terselip juga pertengkaran Timluk dan Sudimin soal per”ranjang”an itu.

Timluk cerita soal gaya Sudimin yang njelehi, “ kalau nganggur maunya minta setiap hari. Ini yang bikin aku marah. Aku bilang sama Sudimin emang hidup cuma mikirin kayak gitu aja. Kalau sekarang aku berani menolak mbak, tapi dulu aku cuma nahan perasaan sampai akhirnya sakit bengek.. ”

“Mluk, kok kamu sekarang berani menolak?” tanya Mince.

“Ia mbak, aku jadi tahu setelah baca buku di kantor mbak Mince. Buku tentang KDRT itu lho mbak. Kalau hubungan seksual dipaksakan itu termasuk kekerasan seksual sekalipun itu suami istri. Kalau dulu takut dikutuk malaikat sampai subuh..haa..haaa…haaaa..hhaaaa (tawa ngkak Mince dan Timluk saling bersautan).

“Aku udah kerja “pekdar” alis sampek modar, laaa kok dia seenaknya saja maksain hubungan seksual. Udah gitu nggak mau beli kondom. Punya duit dari hasil buat kandang malah buat beli rokok. Ya aku nggak mau, aku bilang orang kok nggak belajar dari kejadian yang lalu.” ucap Timlum tandes.

Ternyata dari kejadian yang lalu Timluk belajar cukup dalam, kecerobohan mereka berhubungan seksual tanpa pakai kondom membuat Timluk hamil. Kondisi seperti ini jelas tidak pas buat Timluk dan Sudimin kalau punya 1 anak lagi. Umur Timluk dan Sudimin sudah tidak muda lagi, dengan 2 anak saja sudah membuat hidup mereka mulur mungkret.

++++++++++++

 

Sampai ketemu di cerita persekutuan berikutnya…

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.