Bangkalan Ta’iye

Yang Mulia Enief Adhara

 

Pagi-pagi aku sudah meluncur di atas motor. Kita asik aja menuju kawasan Jembatan Suramadu. Sekali lagi ini perjalanan dadakan. Tujuan pertama adalah Balai Pertemuan Nelayan di bagian samping kiri Jembatan Suramadu. Gak jauh dari sini juga sudah dibuat taman yang indah, aku kagum dengan beberapa pohon besar yang ditanam ‘jadi’ dan aku tau pohon itu bisa dihargai IDR 15.000.000 lantaran ‘mindah’ pohon, semoga dijaga dengan baik.

Nah di dekat situlah aku berhenti dan langsung bertemu ‘pantai’ kecil agak curam ke bawah, sekitar 2 meter lebih rendah dari jalanan.

Di situ ada beberapa kapal nelayan dan beberapa nelayan sibuk membuat jaring (mungkin benerin jaring) dan aku bisa melihat Jembatan Suramadu yang membelah Selat Madura. Like used to be (maybe kutukan) kalo di Indonesia tuh kudu banyak sampah di mana-mana, kotor dan kumuh. Dan watch your step!! Di pantai ini banyak poop orang. Nelayan poop di mana aja dia kebelet, damn!!! Teronggok di batu atau pasir, jorok dan barbar.

Setelah bertemu emas lembek lebih dari 3x, aku memutuskan out, sudah kebayang aku yang sering nggak ngeh lihat jalan bisa-bisa nginjek, yaiick!!

bangkalan (1) bangkalan (2) bangkalan (3)

*****

Akhirnya kita melintasi jembatan Suramadu, di sini kita ditarik bayaran IDR 3000 dan untuk mobil 10x lipat. Kita melintasi Jembatan ini sekitar 15 menit. Hari Sabtu suasana rada sepi, tapi panasnya memang sadeez, asli gosong deh kita. Dan si Beo dengan percaya diri tetep selfie ya di atas motor. Poke sampe panik dibuatnya hahaha…

bangkalan (4) bangkalan (5) bangkalan (6)

Perjalanan panjang di terik matahari masih sekitar 20 km menuju pusat kota Bangkalan, rasa panas yang maha dasyat tidak membuat kita balik badan, the show must go on deh.

bangkalan (7)

Di ujung jalan ada pertigaan, ke kiri Bangkalan dan ke kanan Sumenep. Ini dua kota di Madura yang menurutku pantas dikunjungi. Tapi pilihan kami saat ini Bangkalan. Menelusuri jalan ini kita akan melihat Kios Batik Madura di kiri kanan jalan, secara umum Batik Tulis dengan warna yang ceria dan memang indah. Kalau belanja jangan lupa nawar ya, harga masih bisa digoyang apalagi belinya lebih dari satu.

bangkalan (8) bangkalan (9)

Batik ini umumnya Home Industri dan dijual ya di teras rumah atau kios kecil di depan rumah. Membedakan Batik Tulis asli atau ‘palsu’ sangat mudah, lihat aja bolak balik di kainnya, kalau sama itulah yang asli. Harga jelas dibedakan dari tingkat kehalusan kain dan kerumitan coraknya. Di sepanjang jalan ini juga ada banyak Gallery Batik Madura yang menawarkan koleksi terbaik tapi tentu saja harganya lebih mahal, ada harga ada rupa.

******

Terus menelusuri jalan kita akan melihat Restoran Tera’ Bulan yang artinya Bulan Purnama. Terletak di Jalan Ketengan segaris dengan aneka Warung bebek yang sudah hits. Resto ini bisa jadi pilihan kalau mau makan enak, di sini ada Sate Gurame, Sop Gurame dan tentu masakan khas Madura, Bebek Bengal, Soto Madura yang terus terang aja beda sama Soto Madura yang pasaran, gak terlalu berlemak dan kaya bumbu.

Ada juga Topa’ Ladha yang jelas genuine masakan Madura. Topa’ artinya ketupat dan ladha? Nah ini aku sih nggak tau artinya yang jelas Ladha bukan lada lho! sebab tidak ada sama sekali unsur lada dalam masakan itu. Topa’ Ladha biasanya dimasak saat hari besar seperti Iedul Fitri dan iedul Adha. masakan ini ada Ketupat-nya trus Sayur Kacang Panjang dan irisan mirip Empal yang ditaburin Parutan kelapa dan jagung (I think) agak mirip Serundeng. Soal rasa jelas mantab deh.

bangkalan (10)

Lalu ada Bebek Songkem, ini Bebek yang dimasak pakai cabai ijo, rasanya enak ya tapi bagiku belom sampai tahap istimewa, Proses pembuatan bebek songkem ini relatif sederhana. Pertama kita harus memilih bebek yang akan kita sembelih. Usia yang lebih pas untuk dibuat bebek songkem adalah usia sekitar dua bulan. Kemudian bebek yang sudah disembelih dicuci bersih dan diberi bumbu yang terdiri dari cabe, garam, bawang merah dan bawang putih.

Lalu ulekan bumbu dioleskan ke seluruh daging bebek di luar dan dalam, Selanjutnya bebek dibungkus dengan daun pisang dan diikat erat agar aromanya menyatu saat dilakukan pengukusan. Daging bebek yang sudah dibungkus tersebut, kemudian dimasukkan ke dalam bak yang di dalamnya telah diberi potongan pelepah daun pisang. Selanjutnya daging bebek dikukus selama 3-4 jam tanpa diberi air, agar daging dan bumbunya betul-betul meresap dan daging bebek menjadi empuk. Proses pembuatan bebek songkem ini dilakukan pada pagi hari.

bangkalan (11)

Gak jauh dari situ ada Bebek Sinjay yang karena 2x kecewa atas pelayanan dan kebersihannya so aku no-comment deh ya. Mosok pesen aja antrinya kaya apaan udah gitu what you see is what you get, berharap makan paha Bebek Goreng yang muncul kepala sama sayap! Trus piring dan sendok masih berminyak seolah cuma dilap doank, trus wastafel dan toilet nan bau airnya mati bla bla bla, di sini mulai pesen makanan, bayar, pesen minuman selalu disuruh antri dan siap diserobot orang, gak segitunya deh ya pengen makan Bebek Goreng.

Terus melawan panas akhirnya kita bertemu Alun-Alun Bangkalan, di sini sepertinya sering jadi tempat mangkal hiburan rakyat, seperti umumnya Kabupaten maka Alun-Alun ini jangan dibayangkan tempat yang asik buat mejeng, tapi buat sekedar jajan, kalau sore ke malam di sini cukup ramai.

bangkalan (12)

Nah tepat di seberangnya ada Warung yang kecil, agak vintage bernama Warung Amboina. Warung bercat ijo ini very recommended, jangan bilang ke Bangkalan kalo belum mampir. Masakannya sederhana dengan bumbu dasar petis (Petis Madura berwarna kemerahan dan agak manis dan Petis Jawa atau Surabaya Sidoarjo berwarna kehitaman dan lebih asin). Warung ini buka mulai jam 7.00 Am hingga 16.00 Pm dan hari Minggu tutup, tanggal merah dan weekday-Sabtu buka. Kita menikmati hidangan dengan sambal ulek yang enak banged deh, ini penampakannya.

bangkalan (13) bangkalan (14) bangkalan (15) bangkalan (16) bangkalan (17)

Kita menikmati Nasi Campur lalu Nasi Petis dan Nasi Osek Daging, intinya masakan ini memiliki tampilan mirip opor namun dimasak dengan petis, jintan dan aneka bumbu yang menghadirkan rasa yang so sexy. Nasi Petis ini cukup enak dan tidak ada rasa amis sama sekali, bahkan rasanya petisnya hampir tidak kentara, ini high recommended so jangan ragu buat mampir deh, harga aja kisaran IDR 10.000-IDR 17.000 untuk cita rasa yang sangat bagus.

Di sebelahnya persis ada Masjid Agung Bangkalan yang menurutku sih sangat biasa-biasa aja, gak jauh dari situ ada GOR Bangkalan yang tampil multi-color.

bangkalan (18)

Di Madura kaum lelaki berbusana apa aja tapi bawahannya sarung. Dia punya motif khas dan itu dipakai ke mana saja, mulai Masjid, Mall, Bertamu sampe sekedar jalan-jalan, ya sebutlah itu gantinya celana. Laki-laki Madura yang merantau mau gak mau pakai celana panjang tapi saat balik kampung, sarung-lah menjadi pilihan utama.

Penduduk Madura tidak mengenal warna hijau, jadi saat kita melihat warna hijau, mereka keukeuh bilang itu biru, Mengenai warna hijau, sebenarnya ada kata dalam bahasa Madura yang bermakna”hijau”, yakni “éju”; namun penggunaanya sangat terbatas. Cuma kata ‘ejhu’, yang aku duga hasil serapan dari ‘ijo, masih digunakan di Madura untuk beberapa nama, seperti ‘nyior ejhu’ (kelapa hijau), ‘cang eju’ (kacanghijau), dan lain lain. Barangkali, karena limited using-nya ini, kata”éju” menjadi jarang dipakai dan otomatis jarang pula diketahui. So jangan heran kalau mereka bilang biru daun ya …

Kota Bangkalan mayoritas penduduknya Islam, so aksara Arab bisa dilihat di beberapa sudut kota. Oh iya, jangan heran saat menuju kota di Madura banyak sekali iklan berbentuk spanduk, baliho, sablon dan apa saja menyerukan KB alias Keluarga Berencana. Di sini penduduknya tidak mengenal KB sekalipun hidupnya melarat. Di sini usia 15 tahun menikah adalah hal biasa dan dianggap semestinya, balik lagi ke iklan KB yang kini gencar dikumandangkan di berbagai sudut demi menekan angka kelahiran.

Tapi jangan mikir orang Madura itu ‘biasa’, uang mereka umumnya banyak namun memang gaya hidup seadanya menjadi pilihan. Kaum perempuannya gemar memakai emas kuning 24 karat sebanyak mereka bisa pakai, bagi mereka itu keren dan bagi kaum kebanyakan ada istilah ‘kaya tukang daging atau tukang beras’ alias terlihat ‘menyala’ dan itu dianggap norak.

Bagi perempuan Madura yang bisa sekolah tinggi, itu artinya dia sudah datang dari keluarga yang pemikiran dan pandangannya maju. Biasanya sih mereka merantau ke Surabaya dan sekitarnya.

*****

Kita balik ke Surabaya tidak lagi melalui Jembatan Suramadu, kita menuju Pelabuhan … Jaraknya lebih singkat 10 km. Melintasi jalan ini kita akan melihat pepohonan, sawah dan jalanannya yang mulus.

bangkalan (19) bangkalan (20) bangkalan (21) bangkalan (22)

Pelabuhannya kurang terawat ya, namanya Pelabuhan penyeberangan Kamal Madura merupakan pelabuhan angkutan penyeberangan antar pulau yang menghubungkan Pulau Madura dan Pulau Jawa yang ada di Kecamatan Kamal Kabupaten Bangkalan. merupakan pintu utama keluar masuk Pulau Madura yang sudah ada sejak jaman Belanda.

Satu motor dengan 2 orang dikenakan tarif IDR 12.000. Itu sekaligus tiket naik Kapal Penyebrangan dengan waktu tempuh sekitar 20 menit menuju Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya melintasi Selat Madura.

bangkalan (23) bangkalan (24) bangkalan (25) bangkalan (26) bangkalan (27) bangkalan (28)

Di kejauhan Jembatan Suramadu nampak berdiri dengan anggun, dulu besi-besinya banyak dicuri dan kini sudah ada patroli rutin hingga aman terjaga.

Perjalanan ke Kota Bangkalan bersama Thomas, Ika dan Fadli akhirnya berakhir, asli deh gosong dan setiba di Hotel di Surabaya rasanya mau buru-buru mandi dan minum banyak air. Tapi bagiku ini pengalaman seru, nggak bakal kapok dan next time kudu siap sunblock buat muka dan seluruh badan.

Oke that’s it for today, pengalaman naik motor ke Bangkalan Madura gak akan sia-sia, banyak hal yang bisa dilihat dan dinikmati.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.