Di Kubur Manakah Kautemukan Tubuhku

Kang Putu

 

Sebegitu ingin tahukah engkau apa yang kupikirkan saat ini? Saat anak-istriku telah terlelap dalam tidur, saat aku merasa waktu begitu berharga sehingga eman-eman untuk sekadar merebahkan diri di samping-menyamping mereka? Padahal, tubuh dan pikiran sudah teramat letih, teramat sayah, tetapi pada saat yang sama muncul keinginan bertahan saja sebentar: sebelum sepertiga malam menghilang.

Angin mati dan suara jengkerik tenggelam dalam dingin dan kabut dini hari. Pada saat-saat seperti ini aku acap terjerat masa lalu, masa yang kelam, masa penuh kenyerian. Masa ketika kecengengan tak beroleh tempat, masa ketika penderitaan tak layak dikenang dan dikisahkan ulang. Karena, bahkan untuk mengaku sebagai korban pun butuh keberanian dan kemampuan menanggung penistaan.

“Hei! Siapa mengetuk-ngetuk batok kepalaku?” Suara itu bersipongang, serupa raungan yang memantul-mantul membantun di dinding tengkorak. “Apa yang dia alami, dialami juga banyak perempuan lain. Mereka dicincang berulang-ulang. Tubuh mereka dipentang macam kulit sapi, lalu dilindas tubuh-tubuh yang terus-menerus meneriakkan tuduhan.” Begitulah suara itu mendremimilkan kisah yang dipungut entah dari tebing ingatan siapa.

Aku tak tertarik mendengar, tetapi harus mendengar, terpaksa mendengar. Dan, itu menyakitkan. Kau tahu itu.
Ketika mereka tak lagi bisa melawan, sedang pikiran merasa diri sendiri begitu kotor, tak ada pilihan lain kecuali manda saja membiarkan diri digelandang ke mana pun, lalu berharap suatu saat bisa dikubur di lubang yang sama yang kata kawan-kawan telah ditempati tubuh para suami mereka. Lubang-lubang yang digali secara tergesa-gesa dan sembarangan. Di sanalah, di lubang-lubang itu, tubuh mereka dikuburkan. Tanpa doa, tanpa upacara.

Sekarang, ketika merasa menemu kuburan mereka, apa pula yang kaurasakan? Apa pula yang kauharapkan?
Kaupikir gampang saja bagi kami melupakan sepenggal masa yang menjungkirbalikkan kehidupan, lalu dengan riang gembira memberikan kesaksian bahwa kami, ya kami, bergenerasi-generasi menjadi korban tanpa pernah tahu apa sesungguhnya kesalahan kami? Kaupikir mudah saja untuk mengaku bahwa benar dialah itu, dia yang dikubur di liang tanpa nisan itu, adalah bapak kami, ibu kami, saudara kami, tanpa dihinggapi ketakutan?

Tahukah kamu, bahkan sekarang pun aku selalu merasa sekonyong-konyong nyawaku bisa meruap begitu saja, entah di tangan siapa. Setiap hari, di mana pun, aku merasa dikuntit seseorang tak dikenal yang selalu mencatat apa saja yang kuucapkan, selalu merekam apa saja yang kulakukan.

Oh, kau tak pernah tahu itu, tak pernah menyadari: telah berpuluh-puluh tahun aku mencari tubuhku. Dan, kini, ketika kaubilang telah menemu liang berisi belasan mayat itu, mengembanglah harapanku. Siapa tahu itulah kuburanku. Namun, jangan paksa aku mengakui itulah tubuhku. Jangan paksa aku.

buku-cover

Itulah nukilan dari kumpulan cerpen “Penjagal Itu Telah Mati” karya Gunawan Budi Susanto. Cerpen-cerpen dalam buku berkisah tentang berbagai perkara pasca-1965: antara lain kubur yang lenyap dan dilenyapkan dalam sejarah kelam bangsa kita. Buku ini diberi pengantar oleh Soesilo Toer, penyintas, adik kandung Pramoedya Ananta Toer, serta bergambar sampul lukisan “30 September” karya Dadang Christanto. Buku yang diterbitkan Pataba Press Blora ini diancangkan terbit Juli 2015.

Bersediakah Anda membacanya, kelak?

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.