[Literatur Triangulasi 1890-1899] Digital Mapping and Monitoring

Mastok

 

“ Sir Thomas Stamford Bingley Raffles (lahir di Jamaica, 6 Juli 1781 – meninggal di London, Inggris, 5 Juli 1826 pada umur 44 tahun) “

Raffles diangkat sebagai Letnan Gubernur Jawa pada tahun 1811, ketika Kerajaan Inggris mengambil alih jajahan-jajahan Kerajaan Belanda dan ia tidak lama kemudian dipromosikan sebagai Gubernur Sumatera, ketika Kerajaan Belanda diduduki oleh Napoleon Bonaparte dari Perancis.

Sewaktu Raffles menjabat sebagai penguasa Hindia Belanda, ia telah mengusahakan banyak hal, yang mana antara lain adalah sebagai berikut: beliau mengintroduksi otonomi terbatas, menghentikan perdagangan budak, mereformasi sistem pertanahan pemerintah kolonial Belanda, menyelidiki flora dan fauna Indonesia, meneliti peninggalan-peninggalan kuno seperti Candi Borobudur dan Candi Prambanan, Sastra Jawa serta banyak hal lainnya. Tidak hanya itu, demi meneliti dokumen-dokumen sejarah Melayu yang mengilhami pencarian Raffles akan Candi Borobudur, ia pun kemudian belajar sendiri Bahasa Melayu. Hasil penelitiannya di pulau Jawa dituliskannya pada sebuah buku berjudul: History of Java, yang menceritakan mengenai sejarah pulau Jawa. Dalam melakukan penelitiannya, Raffles dibantu oleh dua orang asistennya yaitu: James Crawford dan Kolonel Colin Mackenzie.

Sumber Acuan

Nautical Jurnal: Ekspedisi Pelayaran di Nusantara

Botani Jurnal: Ekspedisi penjelajahan dan penelitian Belanda 1758

Bamboo Jurnal: Jurnal 3 peneliti Inggris – Jerman –Belanda

Sasaran

Titik Triangulasi di di 5 Taman Nasional atau di

1.   Tn. Alas Purwo

2.   Tn. Baluran

3.   Tn. Merubetiri

4.   Tn. Tengger

5.   Tn. Semeru

Dari sejumlah 923 titik Triangulasi yang berada di Lampung-Sumatra dan Pulau Jawa – Madura terutama yang berada di 12 taman nasional dan Cagar alam serta hutan lindung.

Uji Lapangan (GROUNDED CHECK)

A.   Pengumpulan informasi  baik berbagai Pustaka dan naskah naskah tua tentang triangulasi di Sumatra Jawa dan Madura.

B.   Membuat langkah kerja dari (KAK)  Kerangka Acuan Kerja sampai DED (Detail Enginering Design)

C.   Scenario / Metodelogi

C1   > Geografi

C2   > Topografi

C3   > Demografi

C4   > Soil / karakteristik

C5   > Botani / Bambu

C6   > titik luasan Metode Literatur   –  Naskah

 

Metode Triangulasi

Berdasarkan Peta pancang triangulasi tahun1862-1899 bahwa peneliti menggunakan triangulasi sebagai teknik untuk mengecek keabsahan data. Dimana dalam pengertiannya triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain dalam membandingkan hasil wawancara terhadap objek penelitian Triangulasi dapat dilakukan dengan menggunakan teknik yang berbeda (Nasution, 2003:115) yaitu wawancara, observasi dan dokumen.Triangulasi ini selain digunakan untuk mengecek kebenaran data juga dilakukan untuk memperkaya data. Menurut Nasution, selain itu triangulasi juga dapat berguna untuk menyelidiki validitas tafsiran peneliti terhadap data, karena itu triangulasi bersifat reflektif.

Denzin (dalam Moloeng, 2004), membedakan empat macam triangulasi diantaranya dengan memanfaatkan penggunaan sumber, metode, penyidik dan teori. Pada penelitian ini, dari keempat macam triangulasi tersebut, peneliti hanya menggunakan teknik pemeriksaan dengan memanfaatkan sumber.

Triangulasi dengan sumber artinya membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam penelitian kualitatif (Patton,1987:331). Adapun untuk mencapai kepercayaan itu, maka ditempuh langkah sebagai berikut: untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. Teknik triangulasi:

1.   Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara

2.   Membandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa yang dikatakan secara pribadi.

3.   Membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakannya sepanjang waktu.

4.   Membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan masyarakat dari berbagai kelas.

5.   Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan.

 

Sementara itu, dalam catatan yang dilengkapi bahwa dalam riset kualitatif triangulasi merupakan proses yang harus dilalui oleh seorang peneliti disamping proses lainnya, dimana proses ini menentukan aspek validitas informasi yang diperoleh untuk kemudian disusun dalam suatu penelitian. Teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu yang paling banyak digunakan ialah pemeriksaan melalui sumber lain. Model triangulasi diajukan untuk menghilangkan dikotomi antara pendekatan kualitatif dan kuantitatif sehingga benar-benar ditemukan teori yang tepat.

tujuan umum dilakukan triangulasi adalah untuk meningkatkan kekuatan teoritis, metodologis, maupun interpretatif dari sebuah riset. Dengan demikian triangulasi memiliki arti penting dalam menjembatani dikotomi riset kualitatif dan kuantitatif, sedangkan menurut Yin R.K, 2003 menyatakan bahwa pengumpulan data triangulasi (triangulation) melibatkan observasi, wawancara dan dokumentasi. Apa yang dapat saya katakan disini bahwa implementasi riset lapangan (site aqutitions) saat ini banyak dikembangkan kemitraan riset kualitatif dan kuantitatif (mix methods).

Triangulasi adalah proses penentuan lokasi titik dengan mengukur sudut untuk itu dari titik yang diketahui di kedua ujung dasar tetap, daripada mengukur jarak ke titik langsung ( trilateration ). Intinya kemudian dapat diperbaiki sebagai titik ketiga dari segitiga dengan satu sisi yang diketahui dan dua sudut dikenal,triangulasi juga dapat merujuk kepada akurat survei sistem dari segitiga yang sangat besar, yang disebut jaringan Triangulasi

Pengaplikasian triangulasi :

Dapat digunakan untuk mengitung koordinat dan jarak dari pantai ke kapal,triangulasi digunakan apabila daerah pengukuran mempunyai ukuran panjang dan lebar yang sama, maka dibuat jaring segitiga. Pada cara ini sudut yang diukur adalah sudut dalam tiap – tiap segitiga. Metode Triangulasi. Pengadaan kerangka dasar horizontal di Indonesia dimulai di pulau Jawa oleh Belanda pada tahun 1862. Titik-titik kerangka dasar horizontal buatan Belanda ini dikenal sebagai titik triangulasi, karena pengukurannya menggunakan cara triangulasi.

Hingga tahun 1936, pengadaan titik triangulasi oleh Belanda ini telah mencakup pulau Jawa dengan datum Gunung Genuk, pantai Barat Sumatra dengan datum Padang, Sumatra Selatan dengan datum Gunung Dempo, pantai Timur Sumatra dengan datum Serati, kepulauan Sunda Kecil, Bali dan Lombik dengan datum Gunung Genuk, pulau Bangka dengan datum Gunung Limpuh, Sulawesi dengan datum Moncong Lowe, kepulauan Riau dan Lingga dengan datumGunung Limpuh dan  kalimantan Tenggara dengan datum Gunung Segara.

Posisi horizontal (X, Y) titik triangulasi dibuat dalam sistem proyeksi Mercator, sedangkan posisi horizontal peta topografi yang dibuat dengan ikatan dan pemeriksaan ke titik triangulasi dibuat dalam sistem proyeksi Polyeder. Titik triangulasi buatan Belanda tersebut dibuat berjenjang turun berulang, dari cakupan luas paling teliti dengan jarak antar titik 20 – 40 km hingga paling kasar pada cakupan 1 – 3 km.

triangulasi

Koordinat dan jarak ke titik dapat ditemukan dengan menghitung panjang salah satu sisi segitiga.

Silsilah Ekspedisi naskah jurnal dan pendukung dari “LOKAL WISDOM dan LOKAL GENIUS”.

Koreksi-koreksi VL (visitinglocator) terdahulu baik semua jurnal yang beredar “HARUS” memiliki

A.   Administrasi (10 kreteria)

B.   Teknis (5 kreteria)

C.   Fakta dan kebenaran lokasi dengan (minimal 2 kreteria) dinyatakan secara administrasi pemerintah terkecil

 

“ TITIK TRIANGULASI “

triangulasi 1

Masalah yang berkembang suatu kebutuhan yang sangat mendasar adalah informasi letak/lokasi yang mempunyai potensi baik SDM & SDA, tergambar dalam “Peta Thematic” Informasi yang telah dicatat di pilah menjadi beberapa bagian, plat informasi di kembangkan secara detail dan terurai  menggunakan metrik serta pengumpulan data yang sudah tercatat baik di naskah maupun jurnal terdahulu untuk menjadi acuan

Membuat peta ground check (menyamakan lokasi) yang diaplikasikan dengan menggunakan metoda talesheet dengan memuat/mencatat lebih dari 3 peta pembanding juga alat ukur yang memadai :

Ditingkat regional mencakup

A>              Nama Kabupaten         Luas/KM2

B>              Nama Kecamatan                Luas/KM2

C>              Nama Desa                Luas/KM2

D>              Nama Dusun               Luas/KM2

E>                Nama Obyek Data      Luas/KM2

Membuat peta dengan format SHP (Gis) dengan mencatat dan memuat jenis-jenis endemik yang ditemukan dan dimuat dalam literatur naskah :

A>               Sejarah / mitos

B>               Nama tempat yang terindikasi

C>               Jenis yang spesifik

D>               Lokasi dengan mencantumkan lintang bujur dan ketinggian (DPL)

E>               Fungsi dan kegunaan serta pengembangan dan budidaya

 

bersambung…

 

 

About Mastok

Penampakannya mengingatkan para sahabatnya akan Panji Tengkorak yang berkelana ke seluruh dunia persilatan. Mastok berkelana dengan menggembol buntelannya yang lusuh...eits...jangan salah, dalam buntelannya tersemat segala gadget canggih terakhir: iPad, laptop mutakhir, koneksi wireless, smartphone model terakhir. Bertelanjang kaki ke mana pun melangkah menunjukkan tekadnya yang membara untuk back to nature, kembali merengkuh Mother Earth.

My Facebook Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.