[Mangole] Senandung Cinta

Imam Dairoby

 

Kriiiiiiing……kriiiiiiing……kriiiiiing….

Telepon di kamarku berdering. Ah…siapa lagi ini pikirku. Aku baru saja pulang dari pabrik, penat masih melanda. Aku memang sengaja belum mandi dan masih berleha-leha di depan televisi.

“Halo…’” suara seorang perempuan dari ujung telepon.

“Ya halo, ini dengan siapa ya mbak ?” jawabku agak malas.

“Boleh bicara dengan mas Nirwan mas ?” tanya perempuan itu. Aku berpikir apakah nirwan temanku kepala seksi elektrik yang telah mundur dari perusahaan.

“Nirwan supervisor elektrik ya Mbak ?”

“Benar mas, dia ada ya ?”

“Wah, setahuku mas Nirwan udah tidak bekerja lagi di sini Mbak,”

“Aduh, udah lama ya Mas dia tak bekerja lagi,”

“Iya, setahuku sudah beberapa bulan.”

Tiba-tiba ada sebuah suara lagi di sana yang terdengar lirih, mungkin teman dari perempuan itu. Tak begitu jelas apa yang di bicarakannya.

“Mas……”

“Ya mbak ?”

“Boleh tanya tidak….”

“Tanya apa Mbak..silahkan saja.”

“Kenal dengan Imam yang di divisi particle Board tidak ?”

Deg……..jantung ku berdegup, siapa perempuan ini kok menanyakan tentang aku.

“Mbak siapa ya?”

“Oh…bukan saya yang kenal, ini temanku ada mengenal orang yang bernama Imam di divisi particle board, kalo mas kenal…….dia minta dititipkan salam.”

“Siapa teman mbak itu, boleh saya bicara dengan dia ?”

“Wah dia malu mas….Rus…..kamu coba bicara dengan mas ini.” Terdengar suara saling menolak untuk berbicara denganku.

“Mbak aku ini Imam, siapa temanmu.”

Lama mereka saling berdebat untuk menerima teleponku.

“Halo………ini dengan siapa?’

“Ini benar dengan Mas Imam.” Suara perempuan tadi berganti dengan suara tegas yang seperti ku kenal.

“Iya saya Imam, ini dengan siapa ya ?”

“Mas……saya Rustia.” Suara itu menjadi lemah dan ada nada tersendat.

“Tia…..Masya Allah……,” aku sangat terkejut ternyata dia adalah Rustia yang telah lama tak ku dengar beritanya. Ku dengar sesenggukan dari ujung sana.

“Maafkan saya mas karena sudah lama tak menghubungi mas,” suaranya kembali terdengar dengan sedikit gemetar. Aku pun belum hilang dari rasa terkejut bercampur gembira karena tak menyangka akan bisa berhubungan lagi dengan dia.

Semenjak malam itu kami saling berkirim berita melalui surat, hingga aku memutuskan untuk cuti dan mengunjungi kampung halamannya di Pulau Buton Sulawesi Tenggara.

Ketika itu adik bungsuku sedang liburan di Falabisahaya dan aku mengajaknya untuk pergi ke tempat Rustia. Bagaimanapun tidak baik rasanya seorang lelaki mengunjungi kampung halamn seorang wanita tanpa ditemani anggota keluarga yang lain.

Tiba waktunya aku dan adikku akan ke Buton, dengan harus terlebih dahulu mengarungi lautan lepas menuju ke Kota Ambon. Perjalanan ke Ambon di tempuh dengan 24 jam berada di atas kapal kayu kecil yang terdengar suara derakan ketika ombak menghempas.

Terlebih ketika melewati pusaran air di Selat Capalulu yaitu selat di antara Pulau Sanana dan Pulau Taliabu. Ketika melewatinya kapten kapal memberitahu kami para penumpang agar berdoa menurut keyakinan masing-masing. Setelah itu alunan lagu-lagu rohani mengalun dengan syahdu.

Olengan kapal membuat hati berdesir, terasa bahwa manusia hanyalah segelintir jiwa yang sangat rapuh tanpa adanya kasih sayang dari Sang Pencipta. Betapa besar kekuasaan Sang Pencipta. Dalam ketakutan akan dahsyatnya alam, meyakinkan diri bahwa Tuhan adalah Pemilik Segalanya.

Selat Capalulu hanyalah salah satu dari beberapa perairan yang sangat di takuti oleh para pelaut. Memasuki kota Ambon kapal kami harus melewati lagi sebuah tempat yang bernama Tanjung Alang. Arus laut yang sangat kencang membuat kapal kami kembali terombang ambing.

Melewati Tanjung Alang berarti kota Ambon telah dekat. Kapal kami akhirnya bersandar di pelabuhan Ambon. Aku dan adikku harus menunggu semalam untuk kembali melanjutkan perjalanan mengarungi laut lagi menuju Pulau Buton.

Ambon adalah kota yang sangat indah, aku menyusuri bersama adikku berjalan kaki dari mess perusahaan tempat kami menginap menuju ke Pasar mardika. Menelusuri tepian pantai menikmati suasana pergantian sore ke malam.

Setelah sholat magrib di Masjid Al Falah sebuah mesjid yang terbesar di Ambon, kami berdua kemudian mencoba kuliner yang semua masakannya serba ikan. Diiringi alunan musik tradisional Ambon yang mendayu-dayu, kami menikmati malam di Ambon sebelum terombang ambing lagi di laut keesokan harinya.

Lagu Sio Mama terdengar mengelun lembut dari mulut seorang remaja di meja samping tempat kami duduk, suaranya indah disela sela petikan gitar oleh jarinya.

            Berapa puluh taon lalu

            Beta masih kacili

            Beta inga tempo itu

            Sio mama gendong, gendong betae

            Sambil mama bakar sagu

Mama manyanyilah buju-buju

Lah sampe basar bagini

Beta seng lupa mamae

Sio Mama e…..beta rindu mau pulange

Sio mama e…..beta so lia kurus lawange

Beta balum balas mama

Mama pung cape sio dolo dolo

Sio Tete manise, jaga beta pung mama e

            Keesokan paginya kami dengan menumpangi KM Ciremai bertolak menuju pelabuhan Sultan Murhum Kota bau-bau. Dengan ticket kelas ekonomi, yang kami dapatkan adalah berjubel dengan para penumpang lain di seluruh ruangan kapal. Tak ada fasilitas lebih bagi penumpang kelas ekonomi, yang ada hanyalah bahwa kami bisa ikut berangkat bersama kapal.

Aku dan adikku harus mengeluarkan uang lagi untuk sebuah tempat di bawah tangga antar dek. Sebuah tempat yang cukup nyaman untuk sekedar berbaring melepas lelah dan jenuh selama 15 jam perjalanan.

Suara pengumuman dari ruang informasi kapal yang memberitahukan bahwa sekitar satu jam lagi kapal akan tiba di Bau-bau membuatku kaget. Rupanya aku tertidur karena kelelahan. Ku lihat adikku telah bersiap-siap mengemasi tas kami berdua. Penumpang lainpun terlihat sibuk mengatur barang bawaan mereka baik yang akan turun di pelabuhan Bau-bau maupun mereka yang akan melanjutkan perjalanan.

Sinar matahari pagi menyambut kami keluar dari kapal Pelni, seiring dengan riuh rendahnya suara manusia yang hilir mudik. Jejalan penumpang yang tak sabar ingin turun dan naik membuat peluhku mengucur deras. Adik ku pun terlihat kepayahan.

Dengan susah payah kami berdua bisa melalui himpitan lautan manusia dan bergegas menuju pintu keluar dari pelabuhan. Sebuah senyum manis telah menungguku di situ. Senyum yang selalu datang menghiasi mimpi-mimpiku di beberapa bulan terakhir.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.