Hati-hati

Anwari Doel Arnowo

 

Itu adalah tindakan bagi mereka yang sudah bijak. Siapa sajapun biar anak-anak sekalipun sudah ada yang bijak. Justru di dalam kehidupan manusia ini kita amat sering melihat kelakuan yang tidak bijak dari mereka  yang sedang menjabat pimpinan dari sekumpulan manusia. Tiap hari kami menyaksikan tindak ke-tidak-bijaksana-an-nya pemimpin dan setiap hari berita media menyajikan pertujukan seperti sirkus dari para pengamat macam-macam survey dan politik serta ekonomi. Malah banyak yang cuma bisa memanggul peran sekedar hanya sebagai pimpinan saja kelasnya. Kelas? Iya malah ada pimpinan yang tidak berkelas yang sepantasnya. Ini semua akibat kekurangan rasa kehati-hatian yang inti artinya adalah dari kata FIDUSIA, sebuah kata benda di dalam bahasa asing yang sudah resmi di Indonesiakan karena sudah ada tercantum di dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia).

Artinya = pendelegasian wewenang pengolahan uang dari pemilik uang kepada yang didelegasi. Menyusul kata ini adalah kata FIDUSIARIUS = penerima fidusia. Istilah ini biasa dipakai di pekerjaan bidang keuangan atau hukum. Mengapa kehati-hatian itu saya kaitkan dengan uang??

Sudah menjadi kenyataan yang terang benderang bahwa orang jujur saja terkadang berubah karena silau dengan mengkilatnya uang yang lalu lalang di depan matanya. Korupsi tetap ada di jabatan yang manapun sepanjang menyangkut uang yang banyak, di kalangan Pejabat Negara atau pejabat swasta. Malah amat banyak di kalangan religi. Indonesia sudah mengalami kecurangan di Kementerian Agama sejak jaman Boeng Karno, dan terbukti dari saat beliau meresmikan sebuah kapal yang diberi nama Cut Nyak Dhien, kapal khusus untuk menunaikan pergi dan pulang berhaji. Beliau berpesan: “Saya minta agar kapal ini dipelihara sebagaimana mestinya dan tidak digunakan secara lain. Saya akan hukum dan donder bila ada yang berbuat seperti itu !!!” Saya ingat sekali suara beliau amat keras dalam mengucapkannya. Tetapi apa daya, tidak lama kemudian terjadilah sudah tindakan koruptif oleh pegawai Kementerian yang menukar kasur tidur bagi mereka yang tidur di dek dengan sekedar tikar saja. Sekian minggu lamanya bila berhaji pada waktu itu.

Sungguh tega hati mereka, para pelaku buruk di Kementerian itu. Nah sampai hari ini rupanya fidusia itu tidak dihayati artinya oleh para pejabat Negara. Memegang tugas kehati-hatian saja tidak mampu. Bukankah telah terwujud adanya seorang Menteri Agama yang telah dipidana dan sudah selesai dalam menjalani hukuman penjara? Sekarang ada lagi satu orang bekas Menteri Agama yang sudah tersangka.

hati-hati-hati

Sungguh mengecewakan hal ini, meskipun tentu saja bukan terjadi hanya di kalangan rohani saja. Kurang berhati-hati atau tidak berhati-hati dalam mengelola uang milik rakyat terjadi setiap menit di Negara kita. Seperti sudah sering saya kemukakan bahwa para fidusiarius ini yang telah diadili dan divonis bersalah oleh lembaga KPK menonjol sekali bertampang tidak bersalah, bermuka cengengesan tidak mempunyai rasa malu, tersenyum melambaikan tangan seperti selebriti, dan sebagian besar telah ber”gelar” haji. Sadarkah mereka ini bahwa haji yang sesungguhnya adalah nomor lima dari Rukun Islam, sebaiknyalah membereskan untuk diri sendiri nomor satu sampai dengan nomor empat terlebih dahulu pra melakukan yang nomor lima. Apa yang dipanjatkannya di dalam berdoa waktu menunaikan ibadah berhaji sebelum dia terlibat kasus korupsi? Ah, kita teringat kata-kata  Gus Dur: di dalam Kementerian Agama itu semuanya ada, kecuali satu, yaitu agama. Kata-kata ini sudah dimuat media dimana-mana.

Ya, meskipun perbuatan jelek itu dilakukan di semua instansi pemerintah, tetapi yang membuat hati pilu adalah yang dilakukan oleh kalangan religi juga oleh kalangan penegak hukum sendiri. Sudah mencuat soal rekening tidak wajar yang dilakukan oleh para petinggi Kepolisian, lalu bila kita ingin melaporkan sesuatu mengenai kejahatan, kepada siapakah kita bisa melapor dan diberi khabar yang baik berupa  penyelesaiannya yang tuntas dan adil?  Masakan harus mimpi lagi?

Hari ini di koran Kompas dimuat berita dengan judul: Duka Komunitas Internasional dan koran Jakarta Post dengan judul: RI ambaassador’s wife killed in crash. Isinya memberitakan jatuhnya sebuah pesawat helikopter di pegunungan Gilgit-Baltistan di   Pakistan, 7 orang tewas termasuk istri Duta Besar Republik Indonesia, Hery Listyawati Burhan. Ada sekitar 32 orang rombongan  dengan empat buah  helokopter. Isi Helikopter yang celaka ini ada 17 orang dan Bapak Duta Besar kita bernama Burhan Muhammad selamat tetapi dalam keadaan luka-luka, tidak seperti 11 orang lain yang meninggal dunia.  Ini mengingatkan saya beberapa puluh tahun yang lalu ada juga sebuah kecelakaan pesawat udara yang isinya ada belasan anggota militer Mesir yang  semuanya berpangkat Jenderal kalau tidak salah Mayor Jenderal.

Beberapa tahun lalu sejak sekitar 20 tahun yang lalu apalagi sejak tahun 1996, saya telah membuat peraturan yang isinya mengenai diri saya sendiri. Karena saya sering menggunakan pesawat Udara dan helikopter ber“tamasya kerja” di hutan-hutan Kalimantan, saya bersikeras tidak mau bersama-sama berada dengan wakil saya, seorang berkulit putih asli Australia di dalam semua kondisi / keadaan apapun jua, untuk berada dan duduk di dalam satu pesawat dalam satu penerbangan. Ini juga berlaku apabila bepergian dengan menggunakan speedboat di sungai-sungai. Apa pasal?

Sudah ada preseden menimpa sebuah perusahaan sejenis dengan yang saya kelola, pertambangan, mengalami musibah penerbangan yang terjadi di Australia. Perusahaan itu kehilangan Direksi dan Komisarisnya, karena secara bersamaan bersama-sama duduk di dalam satu pesawat yang mengalami kecelakaan. Apa akibatnya? Terjadilah sebuah situasi sebagian besar dari sejumlah karyawannya yang ada di Sulawesi Utara terhalang tidak bisa menerima gaji bulanannya. Itu dahsyat sekali karena stagnasi kerja dalam melakukan operasinya di hutan-hutan yang terpencil. Hal seperti itu terjadi segera setelah saya tengarai ketika saya mulai bertugas dalam menjalani kewajiban saya di posisi pimpinan. Lalu apa tindakan lanjutan yang saya antisipasi?

Saya mengelola banyak rekening Koran di bank-bank sesuai dengan jumlah 30 lebih perusahaan. Peraturan yang saya keluarkan adalah seperti berikut ini. Pada setiap rekening diberi empat orang pemegang wewenang untuk ikut bersama-sama menandatangani rekening bersama satu orang lain. Dua penandatangan bersama di atara tiga orang harus selalu menjaga agar bisa menandatangani.

Orang ke empat adalah saya sendiri, yang bisa menandatangani secara sendiri atau bersama-sama dengan salah satu dari ketiga orang yang lainnya. Meski demikian saya telah berhasil membuat sistem ini berjalan dengan jumlah tanda tangan saya yang amat minimum jumlahnya. Kalau saya harus dengan amat terpaksa menandatangani secara sendirian, maka saya segera mengembalikan semua dokumen, termasuk buku checque dan buku gironya kepada siapapun yang sudah kembali dari ketiga orang lainnya yang berhak tadi.

Maka selamatlah saya dari segala tetek bengek mengeluarkan uang-uang yang ada di dalam bank-bank milik perusahaan itu. Saya telah berhasil menjalani semaximum mungkin dalam hidup yang sejujur-jujurnya mengelola uang-uang, meskipun saya sama sekali bukanlah ahli di dalam ilmu administrasi keuangan. Sekarang saya tidur nyenyak dan bangun tidur tenang-tenang saja. Tidak ada utang di mana-mana.

Yang telah saya lakukan itu bukan sesuatu yang luar biasa, justru amat biasa dan memang seharusnya demikian tata caranya. Sayapun yakin sebagian besar manusia di planet Bumi ini juga amat mampu seperti itu. Yakinlah dan percayalah!!

Menjadi miskin memang berbahaya karena bisa menjadi kufur (= 1. tidak percaya kepada Allah swt dan Rasulnya serta Nabi dan 2.ingkar, tidak pandai bersyukur) dengan mudah. Karena itu gunakanlah karunia Allah yang berupa tubuh kita yang dilengkapi dengan 12 organ yang canggih canggih itu. Sayang sekali bila tidak dipakai terutama otak kita. Otaklah yang selama ini mengatur tubuh kita termasuk detak jantungnya, kapan keluar keringatnya bahkan kedip mata sekalipun, otaklah yang menetukan.

Saya memang tua, tetapi saya belum kedaluwarsa. Saya berharap agar mampu untuk tidak menjadi kedaluwarsa sampai akhir hidup saya.

 

Anwari Doel Arnowo  –  2015/May/09

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.