My First Love #1

Yuni Astuti

 

Cuaca hari ini sedang susah ditebak, seperti dalamnya hati seorang wanita. Yaah…kadang panas terik, kadang hujan deras. Katanya sih ini namanya musim pancaroba. Sebab itulah banyak yang ambruk karena daya tahan tubuhnya kurang fit. Aku termasuk yang kena flu dan sekarang terpaksa harus mampir ke apotek untuk membeli obat.

Tiba-tiba saja, saat sedang menunggu antrean, seseorang menegurku.

“Rara? Kamu Rara, kan? Ah… apa kabar…?” sapanya begitu ramah. Aku agak tak ingat, hanya mengangguk sopan.

“Kamu pasti lupa!”

Lagi aku mengangguk. Dia tersenyum seraya duduk di bangku tak jauh dariku. “Aku ini kan sahabatmu dulu. Randy…”

Aku terperanjat, ah masa iya aku bisa lupa pada lelaki ini. Apa karena tampilannya sekarang lebih kebapakan dan berkacamata serta sedikit lebih gemuk dibandingkan dulu yang selalu pakai celana jeans, jaket dan tentu saja kurus. Aku benar-benar pangling dibuatnya. Dan karena itulah kini aku merasa debaran jantungku semakin cepat dari biasanya.

“Kamu kok, ada di sini?” tanyaku kaku.

“Liburan aja. Oya, kamu…sibuk apa?”

“Aku ngajar…”

***

Randy adalah pendengar setia radio kesukaanku. Saat kami masih SMA, setiap sore Randy tak pernah bosan menelepon operator radio untuk berkirim pesan dan lagu. Lambat laun, aku mengenalnya, karena sering juga bertegur sapa lewat radio itu. Seiring perkembangan teknologi, kami punya ponsel dan bertukar nomor untuk saling berkirim pesan yang lebih pribadi. Kehadirannya senantiasa mewarnai hari-hariku di sekolah abu-abu.

Aku serasa punya kekasih, sama seperti teman-temanku meskipun mereka bisa bertemu setiap hari dengan pacar mereka di sekolah. Kadang aku bertanya-tanya dalam hati, statusku ini apanya Randy? Apa benar dia menganggapku lebih dari sahabatnya? Sebab aku merasakan perhatiannya begitu besar, sering menghubungiku, mencandaiku walaupun kami jarang bertemu.

first_love

“Itu sih namanya TTM-an, Rara…” ujar temanku, ketika tahu hubunganku dengan Randy. “Kamu itu dianggap apa oleh dia? Pacar nggak resmi tapi mesra banget.” Komentarnya.

Menyakitkan sekali kalau ternyata benarlah komentar dia. Sejak itu aku tak menceritakan tentang Randy kepada siapapun. Hingga kami lulus sekolah. Hingga kami masuk universitas. Kami menempuh studi yang berbeda. Aku tetap di kota ini, sedangkan Randy pindah ke kota lain yang kultur pergerakannya lebih terasa. Awal-awal perkuliahan kami masih saling berkirim kabar.

Randy sering menceritakan tentang teman-temannya, kelasnya, kosannya, bahkan hal-hal tak penting dia sering kabarkan padaku. Begitupun aku, berusaha untuk selalu bersamanya meski lewat udara.

Teknologi semakin maju, sekadar SMS sungguh tak begitu seru. Ada fasilitas media social yang bisa semakin mendekatkan orang yang jauh. Randy masih tak lupa padaku. Foto-foto terbarunya terus bermunculan di media itu. Menggambarkan sosoknya yang semakin kurus, karena katanya sering ikut aksi bareng anak BEM di kampusnya. Syukurlah Rand, kamu sekarang jadi aktivis mahasiswa. Namun seiring itu pulalah dia menjadi semakin jauh dariku…

Aku tak ingin terpaku pada kesendirian itu, meski memang duniaku mendadak sepi tanpa kehadirannya. Kini semua terasa seperti abu-abu, hambar saja. Hingga seseorang datang menggantikannya. Bukan lelaki melainkan perempuan, yang kukenal lewat media social juga. Namanya Bulan.

Ada yang menarik darinya, Bulan dan aku sama-sama pecinta buku. Karenanyalah pembicaraan kami lebih banyak tentang buku. Kami pun sering berkirim buku ke rumah masing-masing. Persahabatan dengannya berjalan dengan baik, sampai suatu saat dia mengajak kopi darat. Tentu saja aku senang, apalagi jarak kotaku dengan kotanya tak begitu jauh. Kami memutuskan untuk bertemu di satu titik, dan terjadilah pertemuan itu.

“Aku seneng banget kita bisa ketemu…” ujarnya.

“Aku juga senang. Kamu tinggal di deket sini?”

“Ya, nanti kamu nginap di kosanku kan?” lalu setelah berbasa-basi kami jalan-jalan. Perjalanan berakhir kala petang dan aku benar-benar menginap di kosannya. Sederhana, hanya ada satu kamar dan ruang tamu serta kamar mandi.

“Kamu mau langsung tidur atau mandi dulu?” tawarnya.

“Badanku lengket. Mau mandi dulu ya…” lalu aku menuju kamar mandi, segar rasanya terkena guyuran air setelah seharian berjalan-jalan. Setelah itu aku kembali ke kamar. Bulan sedang asyik dengan ponselnya, dia senyum-senyum sendiri. Aku duduk di dekatnya. Agak salah tingkah, dia lalu keluar katanya mau mandi.

Fiuuuhh…. Aku berbaring di kasur. Ponsel Bulan bergetar, tanda ada SMS masuk. Iseng-iseng aku melihat layarnya, dan terkejut bukan main melihat sebuah nama tertera di sana: Randy. Apakah, Randy yang ini sama dengan Randy-ku?

Penasaran, aku buka saja pesan yang masuk itu. Maka terpampanglah riwayat percakapannya dengan Bulan. Banyak haha-hihi dan ah-uh-ah-uh yang membuat kepalaku pening. Ini maksudnya apaaaaa? Kucek nomor Randy dalam ponsel Bulan, ternyata memang nomornya sama dengan nomor Randy-ku. Saat itu juga, aku merasa jantungku seakan tercabut paksa dari dadaku.

Bulan datang tak lama kemudian. Tentu saja ekspresiku sudah berubah, dan Bulan menangkap perubahan itu. “Kamu kenapa?”

“Kamu yang kenapa!” balasku.

“Hey hey hey… ada apa sih? Kok tiba-tiba jadi galak gitu?”

“Lan! Kamu kenal Randy?!” tanyaku tanpa basa-basi.

“Kenal, memangnya kenapa? Kamu kenal juga?”

“Dia pacar kamu?” tanyaku lagi.

“Bukan…. Cuma teman…” jawabnya.

“Kalau Cuma teman, kok bisa begitu mesra? Bahkan….sms-sms itu…. Memalukan!” aku tak sanggup menahan emosiku. Bulan mungkin tak mengira bahwa aku adalah sahabat Randy.

“Kamu….cemburu?” dia balik bertanya.

“Nggak penting Lan.”

Bulan menghela napas panjang, lalu ia duduk bersila di hadapanku. “Well, oke. Sebelumnya maaf karena aku nggak nyangka ternyata kalian saling kenal. Aku dengan Randy, sebatas teman saja. Namun, yah… maaf jika terdengar sangat vulgar, tapi kenyataannya aku memang dekat dengannya…”

“Termasuk PS juga?!!” tembakku.

Bulan mengangguk. “Aku anggap itu main-main saja. Habisnya Randy manja banget sih… suka gitu-gituan kalau SMS…”

Aku pun menghela napas panjang.

“Tapi sungguh, aku nggak suka sama dia. Bagiku dia seperti anak kecil, entahlah… Aku nggak suka sama cowok manja.”

“Oke. Terima kasih atas penjelasanmu.” Meski rasa hatiku masih berdebum-debum tak karuan, aku mencoba menenangkan diri. Besoknya pagi-pagi sekali aku pamitan pada Bulan dan pulang ke rumah. Sejak itulah aku menghapus nomor Randy dari daftar kontak meski aku masih sangat hafal nomornya. Dia sesekali masih berkirim kabar padaku, aku tahu tapi tak pernah kubalas. Hingga bertahun-tahun lamanya, hingga aku nyaris lupa pada peristiwa itu.

***

“Oya, kamu…sudah menikah?” Tanya Randy. Aku lebih banyak diam sambil berharap kasir segera memanggil namaku agar aku bisa cepat menebus obat.

“Belum!” jawabku.

“Sama dong… Aku juga belum.”

Terus kenapa? Bahagia gitu karena menemukan teman yang masih jomblo? Hah!

“Kamu tak pernah lagi membalas pesanku, Ra… Kenapa? Apa ada yang salah denganku? Kenapa kamu nggak pernah cerita?”

“Ibu Rara…!”

Ah syukurlah…… aku segera menuju kasir. Dan membayar obatku lalu berpamitan sebentar pada Randy. Dia malah mengejarku keluar apotek.

“Ra! Rara!”

“Ada apa! Aku pikir kamu udah menikah sama Bulan.”

Wajahnya tampak keheranan. “Bulan…? Dia hanya temanku.”

“Oh begitu? Ya sudah aku pulang duluan.” Kataku tanpa mendengar penjelasannya, lalu mencegat angkot yang lewat di depan apotek. Bagaimana pula kabar Bulan? Entahlah, yang jelas sejak peristiwa itu aku pun malas berteman lagi dengannya. Mungkin benar aku telah cemburu, tapi bukankah sangat wajar? Aku tak ingin lagi berurusan dengan dua makhluk itu! Bahkan selamanya!

 

bersambung…

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.