Cukup, kali ini saja!

Anik

 

Sedari tadi aku mencari, meniti satu-persatu yang ada di hati. Aku ingin tahu apa yang mengusikku. Kelebatan bayangannya yang sama sekali tidak terbayang sebelumnya melesat begitu saja di benakku. Ah, dia. Lagi-lagi dia. Aku tidak ingin ada dia di benak dan hatiku. Entah kenapa, kali ini sulit untuk memaksanya beranjak untuk tidak mengganggu hari-hariku. Hatiku menjadi gusar. Ada apa ini? Gumamku. Rasanya tidak mungkin jika dia juga memikirkanku seperti sekarang, karena dia sudah memiliki yang lain. Sudah tidak ada tempat untuk aku di hatinya.

Aku ingin tahu bagaimana keadaannya sekarang, apakah dia baik-baik saja seperti apa yang dia bilang dulu atau dia sedang pura-pura baik-baik saja di depanku?

Kegusaran ini bukan karena aku merindukannya kan? Rasanya aku ingin menampar diriku sendiri. Merindukan sesosok yang sudah dimiliki orang lain adalah sesuatu yang haram bagiku. Tanpa berfikir panjang aku mencari nama yang dulu pernah berulang kali menghubungiku di sosial media tapi aku selalu mengabaikannya, salah satunya melalui facebook.

enough-is-enough

Tubuhku lemas dan tulang-tulangku serasa remuk. Kepingan hati yang dulu pernah aku susun itu sekarang berantakan lagi. Tidak, aku kuat! Ucapku pada diri sendiri. Tapi pertahananku runtuh begitu saja. Butiran lembut itu mengalir, aku mengusapnya tapi jatuh lagi. Aku kuat! Aku menyemangati diriku sendiri. Tapi rasanya percuma, kata-kata penyemangat itu hanya terucap di bibir lalu menguap begitu saja, tidak terpatri di hatiku.

Selamat menempuh hidup baru, Kawan :)

Kiriman dari temannya itu aku temukan di akun facebooknya bersamaan dengan foto pengantin yang dia upload. Wanita di sampingnya terlihat anggun dan cantik. Senyum wanita di sampingnya itu bukan senyumku, tapi senyuman wanita lain. Bagaimana dengan jalan fikiranku ini? Bisa-bisanya aku membayangkan yang ada di sampingnya itu aku. Oh, Tuhan, aku lemah sekarang. Ternyata dia memang tidak berbohong saat dia bilang harus menikah dengan pilihan orang tuanya. Meskipun itu bukan kemauannya, tapi tetap saja rasanya sakit. Aku beranjak dari tempat tidurku dan membiarkan laptopku menyala begitu saja memperlihatkan foto mereka berdua.

Aku membanting tubuhku ke ranjang. Memejamkan mata dan merasakan air lembut itu berulang kali menghujani pipiku. Aku mengusapnya. Aku mengelak kalau aku masih lemah dan masih saja menangisi dia. Usapanku itu percuma, air itu terus saja mengalir. Sampai aku lelah mengusapnya berulang kali.

***

Kurasakan ada sentuhan lembut menyentuh tanganku, aku menoleh ke arah tanganku dan kulihat tangannya menggenggam erat jemariku. Kulihat dia sibuk melihat jalanan yang ramai, dia mencari celah untuk bisa dilewati kita berdua. Setelah beberapa saat motor yang lalu lalang tak begitu banyak, dia menuntunku untuk menyeberang. Aku hanya diam tanpa mengatakan apapun. Setelah berada di seberang jalan, dengan sendirinya dia melepaskan genggamannya.

“Kamu mau makan atau nonton dulu?” tanyanya kemudian.

“Nonton dulu, bagaimana?” Aku meminta persetujuannya.

“Baiklah, mau nonton film yang mana?” Dia sibuk melihat poster-poster film yang terpasang di dalam tempat berlapis kaca itu.

“Terserah,” jawabku singkat. Tiba-tiba dia menatapku serius.

Aku mengerutkan kening, “Ada apa?”

“Kamu nggak suka nonton?“ Mungkin tadi jawabanku terdengar tidak begitu mengenakkan hingga dia harus menanyakan hal itu.

“Suka, tapi memang saat ini aku nggak tahu mau nonton apa.” Dia memalingkan wajahnya sejenak, terlihat kalau dia sedang berfikir.

“Ya sudah, tunggu disini! Aku mau beli tiket.” Aku hanya mengangguk. Dia berjalan mengantri di tempat pembelian tiket. Aku terus melihatnya yang dengan sabar berdiri mengantri tiket dengan antrian yang lumayan panjang.

Dia menoleh kearahku, bibirnya mengatakan sesuatu. Dari gerakannya aku tahu maksudnya, dia menyuruhku untuk mencari tempat duduk. Aku menoleh ke kanan dan kiri ternyata penuh. Aku mengangkat bahu memberi isyarat kepada dia. Dia membalasnya dengan senyuman. Setelah beberapa lama berdiri menunggunya akhirnya dia datang dengan membawa dua tiket. Aku dan dia masuk ke ruang teater tiga. Petugas menyambut kami dan memberi petunjuk dimana kami harus duduk.

“Kamu tunggu di sini, aku mau cari snack dan minum.” Aku menahan tangannya saat dia beranjak dari tempat duduk yang brau saja dia duduki.

“Ada apa?” tanyanya yang heran melihat sikap anehku.

“Jangan lama-lama!” ucapku pelan.

“Tentu.” Dia tersenyum lalu berjalan keluar. Punggungnya tak kulihat lagi.

Dia. Hati yang penuh cinta tapi selalu saja kuabaikan. Entah, dibilang apa hubungan kita ini. Dia yang rela menungguku hingga aku mau membuka hati untuknya, karena dia tahu di hatiku masih banyak lubang luka yang menganga. Luka yang selama ini kubiarkan begitu saja, sampai luka itu memanggilku untuk mengobatinya aku belum juga mampu membalutnya. Terasa perih memang, tapi aku masih tertatih-tatih untuk menyembuhkannya.

Lampu bioskop yang tiba-tiba mati membuyarkan lamunanku, film akan segera dimulai. Layar besar itu sudah memperlihatkan cahayanya. Dia tak kunjung tiba. Ada kegelisahan yang menyusup. Lama sekali dia tak kunjung tiba. Pandanganku tidak pada film, tapi pada sekeliling. Aku melihat pintu masuk di sampingku, setiap orang yang masuk selalu saja kukira dia. Setelah beberapa kali aku salah menduga orang, kini yang kulihat memang benar-benar dia. Aku lega.

“Maaf, terlalu lama,” ucapnya pelan lalu menyodorkan minuman dingin dan beberapa snack untukku. Aku hanya tersenyum untuk menutupi kegelisahanku tadi.

Kita berdua menikmati film Merry Riana. Kita sibuk dengan fikiran masing-masing, menikmati setiap dentuman backsound film yang membuat kami berada di antara para pemerannya. Sesekali kami semua yang ada di bioskop tertawa karena ulah lucu salah satu pemerannya.

Aku menoleh ke arahnya. Tidak begitu lama, hanya 5 detik mungkin. Setelah dia sadar aku melihatnya, dia juga menoleh ke arahku lalu aku mengalihkan pandanganku ke depan. Aku tersenyum menggodanya. Kulirik dia, cahaya layar membuatku bisa melihat dia juga tersenyum.

“Wahh, so sweet,” gumamku saat Riana akhirnya menemukan kebahagiannya disaat wisuda dan dia menemukan cinta yang tak pernah diduganya.

“SHMILY.” Aku mendengar dia mengucapkannya ke arahku.

“See how much I love you.” Aku hanya terdiam setelah dia mengucapkan penggalan kalimat itu di film Merry Riana. Sepertinya dia mengucapkan dari hati, tapi entahlah. Lampu bioskop menyala lagi setelah film selesai, semua beranjak dari tempat duduknya. Dia menggandeng dan mengajakku keluar.

Setelah keluar dari lift dia menuntunku ke arah food court.

“Makan apa?” tanyanya sambil mencari tempat duduk yang kosong.

“Langsung makan?” Aku mengerutkan kening kearahnya.

“Mau sing song atau nge-game dulu?” tanyanya lagi.

“Semua nggak asyik, asyikan makan.” Aku mendahuluinya duduk sambil tertawa.

“Aku tahu kamu butuh pemadam kelaparan,” godanya.

“Nasi goreng hantaro boleh juga tuh.” Aku menatap food court di sampingku.

“Tunggu sebentar, pesanan akan segera datang.” Dia berdiri dan segera memesankan makanan. Aku juga berdiri, berjalan membeli minuman teh madu kesukaannya.

Aku kembali ke tempat dudukku sambil membawa 2 gelas minuman. Kulihat dia membawa nomor meja berjalan ke arahku.

“Ini!” Aku menyodorkan minumannya. Dia langsung menenggaknya pelan.

“Terima kasih untuk hari ini,” ucapnya.

“Terima kasih juga kamu sudah menjadi kuas di kanvas kehidupanku.” Aku membalasnya.

“Yang melukiskan bermacam-macam warna,” tambahnya.

Ah, indah sekali rasanya. Melihatnya tersenyum seperti sekarang. Bersamanya aku ingin melupakan waktu, yang kutahu hanya sekarang saat aku bersamanya dan nanti saat aku benar-benar memilikinya. Aku tidak ingin ada yang mengingatkanku bahwa aku sedang takut kehilangan. Yang kutahu aku hanya memiliki dan tak akan pernah kehilangan.

***

Aku merogoh tasku mencari-cari ponsel yang deringnya membuatku bertanya-tanya siapa yang menghubungiku sore ini. Ada nama tak asing di layar ponselku.

“Halo El,” sapaku kepada cewek di seberang sana.

“Halo Yanda, kamu dimana?” Suaranya terdengar lemah.

“Aku di rumah, ada apa El?” Elis, teman sekelasku semasa SMA, sudah beberapa bulan ini kita tidak menanyakan kabar satu sama lain. Aku tahu dia sedang sibuk dengan pekerjaannya, begitu juga aku.

“Hanya ingin mendengarkan suaramu, Yanda.” Ada suara nafas yang tertahan di sana dan aku tak mengerti ada apa dengan dia. Yang kutahu selalu ada sesuatu yang benar-benar penting jika dia tiba-tiba menghubungiku seperti sore ini.

“Jangan mencoba membohongiku, El. Aku sudah lama mengenalmu dan aku tahu ada yang kamu sembunyikan.” Aku mencoba berbicara dengan tetap tenang.

“Aku ingin ke rumahmu sekarang juga.” Kekagetanku belum juga sirna. Ada apa sebenarnya? Pertanyaan itu yang belum juga terjawab.

“Aku menunggu, Elis.” Dia menutup telfonnya.

***

“Seberapa jauh hubunganmu dengan Binar, Yanda?” Elis memegang cangkir teh panas yang masih mengepul di hadapannya. Dia suka merasakan panasnya cangkir itu, kebiasaannya belum juga berubah.

“Entahlah.” Aku menggeleng.

“Yanda, coba lihat!” Dia menyodorkan ponselnya. Kulihat foto pernikahan dua sejoli itu. Wanitanya tersenyum melihatkan gigi rapinya, dia terlihat cantik. Pria disampingnya tidak terlihat begitu bahagia seperti wanita itu. Dan aku sudah pernah melihatnya.

“Aku sudah tahu, Elis.” Aku mengembalikan ponselnya.

“Yanda, kamu baik-baik saja kan?” Elis memegang pipiku. Sahabat SMA-ku yang selalu saja mengerti tentang perasaanku. Dia yang selama ini selalu mendengarkan cerita-ceritaku.

“El, seperti yang kamu lihat. Aku sudah mampu berdiri bahkan berlari untuk menjalani hari-hariku lagi, tidak ada yang perlu kamu khawatirkan.” Aku memegang tangannya.

“Syukurlah kalau begitu.”

“El, hatiku belum sepenuhnya tegar. Aku masih rapuh. Aku butuh kamu untuk selalu menemaniku.”

“Yanda, aku selalu ada buat kamu.” Kami berpelukan. Ada butiran lembut yang menetes di pipiku.

“Biarkan Dimas sekarang bahagia. Ingat! Tidak semua cinta akan berakhir dengan tangis. Dia hanya masa lalumu yang tidak perlu kamu rasakan lagi sakitnya tapi jadikan kekuatan agar kamu bisa lebih tegar lagi.” Aku melepas pelukannya. Dengan jelas Elis melihat mataku yang penuh dengan air.

“Yanda, Binar pantas untuk mendapatkan kepercayaanmu.” Elis mengusap air mataku.

“Aku tahu itu Elis, semoga ini bukan kesekian kalinya aku dicintai lalu ditinggalkan.”

***

Cahaya matahari sudah masuk ke kamarku. Meskipun jendelanya masih tertutup korden, tapi cahayanya masih saja kuat menembus. Mata ini terbuka lebar melihat ternyata hari sudah pagi.

Aku meraih ponsel di meja sebelahku. Kulihat ada pesan dari Binar.

From: Binar

Semoga besok pagi masih seperti malam ini, saat aku mencintaimu dan tidak ada keraguan untuk memilih hatimu. Sampai pagi yang akan datang, hingga aku tak bisa lagi merasakan pagi dan menatap terbitnya matahari. Sungguh, aku cinta kamu, Yanda.

Bibirku melukiskan senyuman. Ternyata kemarin malam dia mengirimkan pesan itu, aku sudah lelap tertidur. Jari-jariku membalas pesannya.

To: Binar

Gelapnya malam membuat hati ini tak mampu melihat seberapa besar cintamu

Aku sudah melihat mentari yang menyinari hatiku pagi ini

Now, i see how much you love me

Dan aku selipkan kata ” juga” di kalimat akhirmu.

tired

Cukup kali ini saja aku merasakan sakitnya kehilangan. Bersamamu, aku yakin mampu untuk menjalani hari lagi. Aku tahu setiap pertemuan akan ada perpisahan, tapi setidaknya aku ingin kita berpisah hanya karena kita sudah tak mampu lagi memberikan nafas di hari-hari kita.

 

 

About Anik

Seorang penulis lepas berasal dari Kediri, yang sharing tulisan-tulisannya melalui BALTYRA.com. Sekarang menetap di Jember.

Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.