[Mangole] Maukah Jadi Istriku?

Imam Dairoby

 

Kampung Watambo persis berada di bibir pantai, kampung yang berpenghuni tak lebih dari 100 kepala keluarga. Pada saat siang hari cuacanya sangat panas, tetapi hembusan angin mampu menepis kegerahan yang ada. Sebaliknya pada malam hari aku harus menahan dinginnya udara dengan membungkus diriku memakai sarung. Angin yang berhembus dari Hutan Lindung Lambusango yang asli masih terpelihara menambah malam menjadi semakin dingin.

Kampung yang sebagian besar penduduknya bergantung kepada keramahan laut yang memberi mereka ikan segar dan usaha kerang serta rumput laut. Cukup untuk membuat roda perekonomian berputar walau sangat lambat. Hingga hal tersebut memaksa beberapa orang di kampung itu merantau ke daerah Maluku dan Irian. Ingin mengubah nasib untuk bisa menjadi lebih baik.

            Hari ini deburan ombak terdengar bergemuruh bagaikan suasana hatiku, di bawah pohon ketapang yang tumbuh menjorok ke laut aku dan Tia duduk berdua. Angin bertiup kencang mempermainkan rambut ikal terurai panjang miliknya. Gadis ku tak terlalu cantik tetapi sorot mata tegas dan mandiri membuat aku tertarik padanya.

Sosok ibu ada padanya, mungkin itulah yang membuat aku jatuh cinta. Walau terkadang keras kepalanya sedikit membuat aku jengkel. Namun pagi ini terasa dia sangat istimewa dan teramat cantik di mataku.

Kulitnya yang agak gelap khas gadis yang bermukimdi tepi pantai membuat pikiranku melayang pada artis Salma Hayek. Ku pandangi lekat-lekat wajahnya. Dia menepis wajahku dengan lembut.

“Kok memandangiku seperti itu mas?” katanya sambil mempermainkan pasir di depan kami.

“Kamu cantik,” kataku singkat.

“Ih….mas gombal ah, orang saya hitam kayak gini kok “

“Cantik hatimu,” aku sembarang meracau karena tak tahu harus bicara apa.

Lama kami terdiam, aku pun seperti susah untuk mengucapkan kalimat-kalimat yang sering aku tuliskan pada surat-surat yang ku kirim untuknya. Ada sebuah kalimat yang ingin aku utarakan, tapi kenapa begitu kelu lidah ini untuk mengucapkannya.

“Tia……”

“Ya mas ?”

“Kamu mau jadi istriku?”

marry me

Jedhaaaaarrrrrr !

Akhirnya kalimat itu yang keluar, padahal tak terpikir tadi olehku untuk menyampaikannya. Dalam pikiranku aku hanya ingin mengucapkan apakah dia mau menjadi pacarku dan kita akan serius pacaran. Tapi kok malah itu yang terucap.

Detak jantungku berdegup semakin kencang apalagi aku tak melihat respon yang seperti ku harapkan. Tak ada ekspresi terkejut atau semu merah di pipinya, yang ada hanya sebuah ucapan yang aku tau maksudnya.

“Terserah mas saja,”

Aku merasa itu adalah jawaban bahwa dia bersedia menjadi pacar atau istriku. Di antara deburan ombak yang terdengar makin jelas, hatiku terasa takjub dan bahagia. Yah…..mungkin ini adalah rencana Tuhan bagiku dan aku harus ikhlas menjalaninya.

Malam harinya aku mencoba untuk berbicara dengan bapak dan ibu Tia. Di antara kesederhanaan dalam tutur kataku aku mencoba meyakinkan kepada orang tuanya sebesar apa keinginanku untuk menjadikan anak mereka sebagai calon istriku.

Ada tatapan ragu dalam mata mereka, aku melihat silih berganti wajah bapak dan ibu. Mencoba memberi pandangan bahwa aku bisa membahagiakan anak mereka. Ah……suasana seperti ini sangat tak aku sukai. Suasana yang membuat aku jadi kikuk dan tak tahu harus berkata-kata.

Mungkin sudah menjadi takdirku atau Tia memang sudah menjadi jodohku, ketekatanku serta kesungguhanku datang ke kampung ini ternyata membuat bapak dan ibu percaya bahwa aku bisa membahagiakan anak mereka. Aku sungguh bersyukur, tak ada halangan apa pun sampai mereka memberi kepercayaan kepadaku.

Aku sangat gembira mendapati mereka bisa menerima diriku. Dan aku pun mengajukan sebuah janji bahwa aku akan kembali saat cuti pada tahun berikutnya untuk menikahi Tia. Mereka pun menyetujuinya dan memberi restu akan hal tersebut.

Perjalanan panjang yang ku tempuh ternyata tak sia-sia, keteguhan hati serta kesungguhan hatiku berbuah manis. Kampung Watambo telah memberikan hembusan mesra alamnya padaku.

Aku kembali ke Pulau Mangole dengan rasa bahagia karena pencarian tulang rusukku telah berakhir. Sekarang waktunya untuk mempersiapkan segala hal demi terlaksananya sebuah peristiwa besar dalam hidupku.

Dan aku pun merasa bahwa takdir baikku semakin menaungiku, sebab setelah beberapa minggu selesai cuti aku diromosikan menjadi kepala seksi laboratorium yang tugasnya melingkupi semua devisi.

Kebahagiaan serta kebanggaan menaungiku, dan dengan gembira ku beritahukan kepada Tia apa yang terjadi. Dengan penuh syukur dia berkata bahwa mungkin itu adalah rejeki atas kebersamaan kami.

Tetapi yang terlebih penting dari segalanya, aku telah menemukan seseorang yang padanya aku bisa berbagi baik kebahagiaan ataupun kesedihan. Sebab dengannya aku menemukan sebuah kedamaian.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.