First and Last Chance

Yuli Duryat

 

“Haish…, gosong! Chk!” desisnya kesal.

Ramlan mematikan kompor, mengangkat panci berisi mi rebus yang telah menghitam. Karena terlarut dalam tugas kuliah yang harus ia selesaikan malam itu juga, ia lupa kalau sedang merebus mi.

“Ini mi bungkus terakhir,” ucapnya. Kedua pundaknya luruh. Dia terpaksa harus kelaparan malam itu. Ramlan sudah tak punya uang atau makanan yang bisa dimakan.

“Ramlan ada telpon dari ibumu nih,” dari ruang tengah rumah kos tersebut, seorang wanita memanggilnya. Mengabarkan kalau ada telpon dari orang tuanya di kampung.

“Tunggu sebentar,” Ramlan berlari dari dapur menuju ruang tengah.

“Halo, Nak. Apa kabarmu di situ?” terdengar suara seorang wanita dari seberang.

“Ramlan baik-baik saja, Bu. Ibu tidak usah khawatir,” jawab Ramlan menyembunyikan keadaan yang sebenarnya.

“Sukurlah kalau begitu, Nak. Kamu sudah makan?”

“Sudah, Bu. Ramlan di sini sambil bekerja, Bu. Jadi Ramlan bisa makan enak, kuliah dan membayar uang kos.”

. “Syukurlah kalau begitu. Maafkan ibu tak bisa membantu membiyayai kuliahmu, Nak. Untuk biaya adik-adikmu saja ibu kualahan.”

“Mendengar suaramu ibu merasa senang, Nak. Jaga diri baik-baik ya, Sayang.”

Tanpa terasa kalimat yang ibunya ucapkan membuat Ramlan tak kuasa mencegah air matanya bergulir. Dia menarik nafas panjang. Berusaha tersenyum dan tertawa agar ibunya tidak khawatir. Setelah menutup telpon, ia kembali ke kamar untuk menyelesaikan tugas kuliahnya. Ramlan kelelahan dan tertidur dengan perut keroncongan.

Sejak lulus SMA tiga tahun lalu, ia bekerja menjadi pengamen jalanan untuk membiayai hidupnya. Ibunya seorang single mom sudah kerepotan membiayai hidup ke empat adiknya, hanya dengan mengandalkan usaha dagang es campur. Dia sebagai anak tertua merasa bertanggung jawab untuk merubah nasib keluarganya. Karena itulah ia bertekat untuk sekolah tinggi demi memperjuangkan masa depan yang labih baik.

Aku mulai sadar

Cinta tak mungkin kukejar

Akan kutunggu

Harus kutunggu

Sampai saatnya gilirankuuu…

Ramlan dengan penuh perasaan menghayati lirik lagu yang ia nyanyikan.

“Hai kamu….,” panggil seorang laki-laki. Telunjuknya menunjuk ke arah Ramlan yang sedang menyanyikan lagu Cintaku Kandas di Rerumputan milik Ebit G Ade.

“Bapak memanggil saya?” jawabnya terheran.

“Siapa namamu?” lanjut laki-laki tersebut dengan nada kasar.

“Ramlan.”

“Sekarang nyanyi Andai Aku Jadi Gayus untukku!” nada tegas terdengar dari suara laki-laki tersebut.

Ramlan menatap aneh pada laki-laki setengah baya yang duduk tepat di kursi bis dekat dengan tempat ia berdiri.

“Ndak usah bertanya macam-macam. Cepat nyanyikan untuku! Kamu mau uang kan?” hardik laki-laki tersebut, yang mampu membaca reaksi wajah Ramlan.

Mendengar laki-laki itu mengucapkan kata uang, Ramlan tanpa pikir panjang langsung menyanyikan lagu yang sedang hot tersebut. Namun ketika Ramlan sampai pada lirik andaiku Gayus Tambunan, laki-laki itu memperhatikan Ramlan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Sementara penumpang dalam bis tersebut ikut terlena oleh suara Ramlan yang merdu.

This is the first and last chance from me for you. Kalau kamu mau uang, ikut saya!”

“Apa maksud, Bapak?” tanya Ramlan kembali terheran pada laki-laki tersebut.

***

last chance

“Kamu mau mencoba menyalurkan bakat kamu kan? Suara kamu sangat berkarakter.” Ucap laki-laki itu. Sementara Ramlan terbengong melihat nama yang tertera di gedung megah persis berdiri di depan mata kepalanya. The first and last chance management.

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.