[Kisah-kisah di Dapur Reot] Sang Pencari Surga

Wina Rahayu

 

Pagi ini seperti hari kemarin dan kemarinnya lagi, Timluk memenuhi hajatnya menyerutup kopi instant dan rokok 76 filter sebelum menjalankan tugasnya sebagai PRT freeland. Penampilannya lebih sumringah, tapi hal itu tidak menjadi tolak ukur bahwa itu mencerminkan kecerahan fakta hidupnya. Bisa jadi Timluk sudah lupa untuk harus berekspresi sedih atau menampakan kesedihan dan kegalauan hidupnya. Untuk bermimpipun sepertinya sudah tidak sempat ia lakukan. Timpluk, dan 2 anaknya Dembrot dan Cenil sama-sama menghadapi hidup mereka dengan menjalani fakta apa adanya.

“Buk, hidup ini ternyata berat ya…” ucap Dembrot.

Dan Timpluk hanya bisa berujar seperti layaknya para miskin kota dan desa,”begitulah mbak, makanya gimana caranya kamu bisa sekolah dan tidak kayak ibu yang seumur-umur jadi pembantu.”

Hanya ujaran seperti itu yang mampu Timluk sampaikan pada anaknya yang belum genap 12 tahun walau tubuhnya bongsor melebihi ibunya yang bertinggi seratus lima puluh meter tak sampai.

“Mpluk, Dembrot mau masuk SMP tinggal beberapa bulan lagi. Piye persiapan biaya untuk masuk SMP?” tanya Mince menyelidik.

Jawaban Timluk mengejutkan batin Mince, tapi itu juga membuatnya bahagia. Ilmu bertahan hidup yang coba Mince bagikan kurang lebih 4 tahun lalu mampu diimplemetasikan dalam bentuk pikiran yang cerdas menghadapi hidup yang tak berpengharapan ini.

“Masuk ajaran baru nanti sesudah Lebaran khan mbak..,” jawab Timluk.

“Trus….,” Mince belum paham arah pikiran Timluk.

“Aku bilang sama Dembrot dan Cenil, seperti biasa kalau Lebaran sering khan dapet uang dari tetangga, saudara. Lha…uang itu yang nanti untuk beli seragam dan buku. Bagian ibu yang nyiapin biaya lain.” Urai Timluk dengan ringan dan lugas.

Uraian Timluk membuat Mince sadar bahwa apapun pikiran alternatif Timluk adalah bentuk keoptimisan dan “kecerdasan situasional” menghadapi hidup. Berbeda sekali dengan 4 tahun yang lalu.

^^^^^^^^^^^^^^^^^^

 

Ya….empat tahun lalu saat Cenil lulus dari TK dan harus masuk SD, ada sepenggal kisah. Timluk tidak bisa mengambil ijasah TK Cenil, padahal ijasah itu salah satu syarat untuk masuk SD. Keuangan yang cekak membuat Timluk memilih menggunakan uang tersebut untuk persiapan masuk SD Cenil daripada untuk nebus ijasah TK nya. Saat itu Timluk belum mengalami proses “metamorfosis” di dalam dirinya. Untuk mengambil keputusan bagi anak-anaknya masih tergantung pada keputusan Sudimin.

“Mluk, kamu harus berani ke TK untuk minta kepala sekolah Cenil membolehkan kamu ambil ijasah anakmu. Dan uang tunggakan biaya dibayar nanti pas udah ada uang.” Saran Mince.

“Nggak bisa mbak, kemarin juga ada yang mencoba begitu tidak bisa. Sepertinya sekolah sendiri juga kondisi keuangnnya juga memprihatinkan.”

Dialog saat itu lebih dari 30 menit untuk membuat keputusan langkah mana yang akan diambil.

“Mluk, kamu berani nggak menghadap kepala sekolah SD tempat sekolah Cenil nanti? Bilang kalau ijasah TK Cenil nggak bisa ditebus karena tidak punya uang. Kamu harus berani, kalau bukan kamu siapa lagi yang akan mengupayakan semua ini. Bilang ya, pak atau bu minta kebijaksanaannya… tolong saya dibantu, biar anak saya bisa sekolah.”

Akhirnya pilihan ini yang diambil Timluk, seperti ada sebuah energi yang menggerakannya untuk melakukan itu semua. Rasa cintanya dan keinginan untuk menerbangkan harapan agar kedua anaknya dapat sekolah membuatnya kehilangan rasa takut dan mindernya. Persoalan Cenil adalah media buat Timluk untuk menjadi perempuan dan ibu yang mampu dan berani membuat keputusan. Dan ini menjadi loncatan bagi pembentukan mental Timluk setelahnya, ia menjadi perempuan yang punya kepercayaan diri.

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

Pikiran alternatif Timluk yang menggunakan moment lebaran dan melambungkan harapan untuk mendapatkan “berkah” dari para “pencari surga” yang membagikan sebagian rejekinya kepada sang fakir adalah sebuah hal yang sebenarnya bertentangan dengan nuraninya. Timluk bukanlah orang fakir dengan bermental “Pengemis”. Timluk malu mengharapakan pemberian orang, bahkan seringkali juga terganggu “indenpendensi dirinya”.

“Piye ya mbak, mereka yang suka kasih-kasih sedekah itu bisa dibilang ikhlas nggak ya?” tanya Timluk dengan wajah galau.

“Nggak ikhlas gimana maksudnya Mluk?” tanya Mince.

“Ya gimana ya mbak, kalau ikhlas itu memberi berarti tanpa embel-embel. Tapi yang tak rasain mereka yang kasih sedekah itu ada beberapa yang maksain aku untuk juga seperti mereka. Ada yang nyuruh pakai jilbab lah, ada yang nyuruh aku sholat lah…, biar banyak rejeki dan hidup nggak susah lah. Pokoknya sepertinya kemiskinanku ini terjadi karena aku kurang “beriman”. Coba piye menurut mbak Mince?”

“Begitulah Mluk, kamu juga harus mememahami pola pikir mereka itu. Kalau kayak kamu sudah mati-matian bekerja, trus tetap miskin masak masih dibilang karena kurang beriman dan akhirnya Tuhan menakdirkan kamu jadi miskin, ya jelas tidak bener pikiran itu. Jadi…. soal orang-orang yang suka kasih sedekah atau apa namanya itu, kalau ada yang di embel-embeli sikap seperti yang kamu bilang tadi, ya kamu tetap harus bersikap tegas dan punya prinsip. Memberi bukan berarti menjajah “hak berketuhanan” orang yang diberi. Soal kamu mau pakai jilbab, soal kamu sholat atau tidak itu khan urusanmu sama Tuhanmu sendiri.” tegas Mince.

“Itu dia mbak Mince, aku tidak nyaman. Kebetulan Sudimin juga begitu, kita sampai pindah kontrakan karena sikap tetangga se RT yang suka ikut campur soal sholat di rumah atau di masjid. Tidak nyaman sering ditanya, kok nggak pernah sholah di Masjid.”

Itulah salah sekian dari gangguan para “pencari surga” terhadap si fakir yang miskin. Bisa jadi karena kemiskinannya itulah Timluk dan Sudimin mengalami intervensi dalam “berketuhanannya”. Dan Timluklah yang paling sering mendapat intervensi dengan beragam modus maupun tingkatan levelnya. Ada yang setiap memberi sedekah disertai perintah pakai jilbab, ada yang mempekerjakanya dan mendikte setiap saat apakah sudah sholat atau belum.

Namun hal yang bertentangan dengan nuraninya untuk kali ini tidak mampu Timluk tolak. Ia bahkan mengharap rejeki dari mereka yang “menginginkan surga” bagi mereka yang katanya “berderma”.

^^^^^^^^^^^^^^^^^^

 

yin-yang

Yin Yang

Setahun yang lalu Timluk dan Sudimin tidak bisa berdiam untuk membiarkan intervensi itu mengganggu independensi mereka. Saat kontrakan selesai, akhirnya memilih kost di sebuah kamar ukuran 3 x 2,5 m2 dan harus dibayar 150 ribu perbulan. Pilihan ini bukan hal yang lebih enak buat mereka, dengan 2 anak yang sudah mulai beranjak pubertas jelas ini hal super sulit. Kamar kost itu hanya cukup di isi 1 buah ranjang besar dan 1 meja. Ada sisa 2 petak lantai yang jika malam digunakan untuk Sudimin meletakan tubuhnya di atas kasur-kasur lipat yang sudah menipis. Kaki Sudimin harus masuk kolong ranjang jika ingin tidur dengan posisi lurus.

Semua aktifitas dilakukan di kamar dan di atas ranjang itu, dari makan, belajar sampai menonton tipi termasuk aktivitas kemesraan Timluk dan Sudimin…, untung rajang itu cukup “kuat” untuk menjalankan perannya. Jika malam tiba, ibu dan 2 anak pinak itu tidur berbagi ruang untuk merebahkan tubuhnya. Ranjang berukuran 2 x 1,5 meter ini harus mampu menampung mereka bertiga. Pilihan posisi tidur sangat menentukan agar ketiganya mampu merebahkan tubuh. Tubuh Demrot dan Timluk yang cukup besar jelas dengan posisi memanjang, ketiganya tidak akan muat di ranjang itu. Akhirnya dipilihlah posisi menyamping dengan kaki menggelantung. Si kecil Cenil mendapatkan ruang sisa untuk tidur di antara Dembrot dan Timluk. Seringkali paha Debrot yang besar menimpa tubuh Cenil yang kecil mungil itu.

Itulah malam-malam yang harus mereka setubuhi untuk sesaat terbebas dari intervensi para penderma “Sang Pencari Surga”.

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.