My First Love #2

Yuni Astuti

 

Artikel sebelumnya:

My First Love #1

 

Berita di berbagai media penuh dengan permainan politik yang pelik. Kritik dan demo datang dari berbagai kalangan, terutama mahasiswa. Mereka semua menuntut adanya perubahan, seperti yang pernah dijanjikan oleh bapak Presiden. Nyatanya, baru beberapa bulan berjalan pemerintahannya yang baru, yang diangkat dari jalan demokrasi, rakyat sudah begitu gerah dan geram. Bapak Presiden, kebijakannya lebih banyak membuat rakyat mencekik lehernya sendiri.

Tentang kebobrokan penguasa, Randy bercerita. Bagaimana ia dan kawan-kawan BEM-nya merencanakan aksi yang akan mengguncang istana. Katanya demokrasi itu palsu, bukan untuk rakyat melainkan hanya untuk pejabat. Tiap kali aku mendengar ceritanya, aku selalu tersenyum. Sejak SMA, Randy memang terlihat berbeda. Aktivitasnya lebih banyak berkutat dalam hal politik seperti itu. Sedangkan aku, seperti tuan puteri yang lebih banyak diam di rumah. Apa yang dipikirkan anak SMA selain tugas sekolah, jalan ke mall bersama genk dan pacaran, iya kan? Namun Randy tidak begitu….

“Kalau bukan kita yang memikirkan bangsa ini, siapa lagi? Apa kamu mau Negara kita perlahan-lahan terenggut oleh penjajah berwajah pribumi? Jangan dikira kita sudah merdeka, kenyataannya kita selalu menderita!”

Ah, Randy… bagaimana aku merasa menderita? Hidupku aman terjamin. Papa dan mamaku bekerja. Aku anak tunggal yang segala keinginanku pasti akan dipenuhi oleh mereka. Sekolah diantar jemput sopir, kuliah boleh bawa mobil. Uang saku tak pernah kurang, lalu apa yang harus kupikirkan tentang perubahan? Toh selama ini aku aman-aman saja, baik-baik saja, tak bisa merasakan apa yang kaurasakan…

Kutahu, kamu pun orang berada. Seringkali kamu bercerita tentang keluargamu yang katanya memiliki sawah berhektar-hektar dan kalau musim panen kamu bisa beli mobil terbaru. Kebun di kampung-kampung yang dikelola oleh warga sekitar dan segalanya kau serba ada. Mengapa harus berlelah-lelah memikirkan perubahan?  Rupanya, kau sudah sejak lama berlepas diri dari dana orang tuamu. Bekerja sendiri, dengan hasil keringat sendiri demi mencukupi biaya kuliah dan hidup sehari-hari. Jadi itukah sebabnya kau kurus?

“Aku salut sama kamu. Orang macam kamulah yang dibutuhkan rakyat. Biar bagaimanapun aku selalu mendukung perjuanganmu.” Ungkapku kala itu.

“Rara… Kau tahu, kita bisa makan nasi dan buah-buahan, sebagiannya bukan kita yang menanam. Kita tinggal membelinya saja di pasar. Semua itu orang lain yang menanam, dan ini yang mesti kamu sadari. Kebaikan apa saja yang kita tanam, bisa jadi bukan kita yang menikmati tetapi orang lain. Dan oleh karena itulah kita menjadi pahlawan sejati, yang mungkin namanya tidak terpatri dalam prasasti. Namun, ada banyak orang yang akan berbahagia nanti, bila perubahan yang kita lakukan ini penuh arti. Jadi jangan sia-siakan kebaikan sekecil apapun yang kita perbuat.”

Aku selalu tersenyum saat mendengar ceritamu. Kaukirim e-mail, kaukirim foto, dan itu membuatku merasa selalu ada di sampingmu. Kita pernah tinggal satu kota, dan hanya satu kali kita pernah bersua. Satu kali, di toko buku dan tidak lama. Itu pun aku mengajak teman baikku.

“Jadi, kamu.. Rara?” kamu memastikan.

“Ya, dan ini sahabatku, Diani.” Aku memperkenalkan mereka. Randy dan Diana bersalaman.

Lalu, kita hanya saling senyum, tak tahu harus bicara apa. Padahal kalau kita bertelepon atau SMS, bisa seharian tanpa pernah putus. Mungkin karena baru pertama bertemu dengan sahabat udara…

“Ra, kapan-kapan kita bisa ketemu lagi kan?” tanyamu. Aku mengangguk. Akan kupersiapkan diriku jika ada kesempatan bertemu lagi.

“Kalau begitu, sekarang aku pamit ya…” dan pandanganku melepas kepergiannya sampai sosoknya hilang dari jangkauan. Aku merasakan telapak tanganku sangat dingin. Diani senyum-senyum melihatku. Itulah pertemuan pertama dengannya, tetapi sejak itu tak pernah lagi ada jadwal pertemuan. Kami masih sering berkomunikasi, masih sering dia menjadikan aku tempat curhatnya, bahkan hingga ia pindah ke kota lain untuk kuliah. Hingga nyaris aku merasa bahwa hubungan ini bernama LDR. Terasa manis bila itu terjadi pada sepasang kekasih, nyatanya aku dan dia tetap seperti ini. Dia menyebutnya: sahabat.

***

Tanpa terasa, mataku berkaca-kaca. Laju angkot yang begitu cepat tak kurasakan hingga tersadar diri ini sudah dibawa amat jauh oleh pak sopir. Kebablasan! Rumahku sudah terlewat dan ya ampuuuun ini sih sudah kelewat jauhnya. Sekalian saja aku berhenti di titik akhir dan masuk ke dalam mall terdekat. Barangkali dengan shopping sebentar, bisa meredakan debur-debur kegundahan hati ini.

Melihat-lihat tas, sepatu dan baju keluaran terbaru di butik dalam mall itu ternyata cukup ampuh membuatku agak baikan. Setidaknya window shopping ini bisa menjadi referensi untuk nanti kalau benar-benar niat belanja.

Mengapa aku harus bertemu lagi dengan makhluk itu? Seharusnya dia sudah lenyap selamanya dalam ingatan paling buruk tentangnya. Namun ia menyeruak paksa, membuka lembaran lama kisah kami berdua di masa lalu. Andai saja aku dan dia tak pernah bertemu, atau andai saja tak ada Bulan di antara kami… ah itu sulit untuk kupikirkan.

Bukankah sangat menyakitkan bagi seorang gadis yang sudah diberikan perhatian dan dijadikan tempat curhat oleh seorang lelaki yang terus-menerus seperti itu hingga sang gadis menganggapnya special dan merasa diistimewakan tetapi sang lelaki menganggapnya hanya sebagai sahabat? Sebaliknya ia menjadikan gadis lainnya sebagai tambatan hatinya, begitu mesra dengannya hingga tampak seperti….suami dan istri??

Aku sangat tak menyangka Randy yang begitu menggebu dan semangat ingin melakukan perubahan untuk negeri ini agar lebih baik, ternyata berhubungan dengan Bulan seperti sepasang kekasih yang kehausan.

“Di setiap SMS dan telepon, Randy kadang minta dipeluk, dicium, dicumbu rayu. Bermanja-manja, seakan kami sedang berdua. Aku turuti saja, toh ini Cuma main-main, dan tidak secara langsung… Aku sih nggak tahu yang kami lakukan itu bikin dia horny apa nggak….” Dengan polosnya Bulan menceritakan itu. Membuatku mual jika membayangkan sosok Randy dan Bulan yang tengah melakukan phone sex .

Apa kau tahu, Randy, sejak aku tahu kenyataan itu aku pulang ke rumah dalam kondisi hatiku hancur berkeping-keping. Pecah semua harapan yang sudah terukir indah, yang kau sendiri yang mengukirnya dalam hatiku.

“Mungkin aja Bulan itu berbohong….” Hibur Diani.

“Kalau dia sendiri yang cerita, bisa jadi dia bohong. Tapi aku melihat sendiri dalam HP-nya. Suatu bukti yang gak bisa dibantah. Apa yang harus aku lakukan Dy….” Hanya kepadanya, aku berani curhat. Dia saja sahabatku yang paling mengerti.

“Ya sudah… Kamu bersikap biasa saja. Kalau memang nggak ada kepentingan, ya gak usah berurusan dengan Randy. Untung dia nggak melakukan itu sama kamu. Itu tandanya dia masih menghargai kamu. Tentang Bulan, lupakan saja. Randy menganggapnya hanya sebagai pemuas imajinasi gratisnya. Pelacurnya…”

“Kok Randy bisa begitu sih….. teganya!”

“Apa kamu mau klarifikasi sama Randy? Siapa tahu ada orang iseng yang menggunakan nomornya untuk kepentingan dia sendiri. Jadi bukan Randy pelakunya. Bisa jadi, temannya.”

php

“Aku nggak mau lagi berurusan dengan Randy! Sejak saat ini.” Aku pun bertekad kuat untuk menghapus ingatanku tentangnya, mulai dengan menghapus nomornya dari HP-ku, memblokir pertemanan dengannya, dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya aku hilangkan. Bagiku berakhir sudah, harapan-harapan yang belum lagi mekar telah terbakar sampai hangus. Aku tak peduli lagi tentang perasaan GR yang kurasakan. Nyatanya Randy memang tak pernah menganggapku sebagai kekasihnya.

Memangnya ada rasa yang lebih menyakitkan dari di-PHP-in?—-

 

bersambung….

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.