Meninggalkanku Bersama Senja (1)

Anik

 

“De..Dea.” Suara yang masih saja sama aku dengar setiap pagi.

“Kenapa Mbak? Ada surat lagi?” Aku menebak maksud dia memanggilku. Bukan karena aku bisa membaca fikiran atau maksud seseorang. Tapi memang selalu begini kebiasaan mbak Fela memanggilku, memberikan sepucuk surat yang tergeletak di depan pintu kos. Sampai dua minggu ini aku sendiri pun tidak tahu siapa pengirimnya dan kapan menaruh surat itu di depan pintu kos ku.

Isi surat itu adalah puisi. Puisi yang selalu berisi pujian-pujian seorang pria kepada wanita. Dan selalu saja di amplop berwarna hijau itu bertuliskan untuk Dea yang aku kagumi. Kadang merasa bingung dengan pengirimnya. Apa dia tidak salah kirim? Mana mungkin orang sepertiku ada yang mengagumi. Tapi, entahlah.

“Iya, masih dengan amplop yang sama.” Mbak Fela melihati amplop surat itu. Aku hanya menggeleng saat tahu mbak Fela melihatku.

“Pacarmu ya De?” Mbak Fela meledekku.

“Pacar apa sih Mbak? Aku kan jomblo, pengirimnya siapa aja aku nggak tahu,” ucapku yang sedang sibuk membereskan buku di mejaku.

Mbak Fela hanya diam lalu pergi meninggalkanku. Aku sudah siap berangkat ke kampus. Pintu kamarku kukunci lalu aku berjalan sendirian.

“Berangkat?” Sapa cowok kos sebelah. Aku hanya tersenyum. Dia selalu ada di depan kos menyapaku dengan ramah. Dia tahu kapan aku berangkat dan pulang kuliah. Yang sering kulihat di kosan cowok itu adalah dia. Dia selalu tersenyum memandangku dari lantai 2 kosannya. Tapi aku tidak berfikir panjang. Mungkin hanya kebetulan fikirku.

***

“Kamu tumben subuh sudah bangun De, biasanya jam segini masih tidur,” sergah Gina yang sedang melihatku membereskan buku.

“Aku sekarang ada jadwal kuliah setelah subuh Gin, dosen tiba-tiba mindah jadwal.”

“Dosen mah gitu, seenaknya pindah-pindah jadwal,” ucapnya yang tetap melihatiku.

“Itung-itung cari udara pagi di kampuslah.” Aku tersenyum melirik Gina.

“Ya sudah, aku berangkat dulu ya!” Aku melambaikan tangan kepada Gina.

“Iya De, hati-hati!” ucap Gina. Aku mengunci pintu kamar. Lalu aku mendekati pintu kos depan dan membukanya. Aku dikagetkan dengan seseorang yang merunduk di depanku. Dia terdiam lalu perlahan berdiri memperlihatkan wajahnya.

“Kamu!!!” ucapku. Dia berjalan cepat menjauh dariku. Dan kulihat di bawahku ada amplop hijau yang selama ini sering kuterima. Kuambil amplop itu dan aku segera berlari mengejarnya.

“Tunggu!!!” pintaku. Dia berhenti memunggungiku.

“Kamu yang selama ini mengirim surat untukku?” tanyaku langsung. Dia tak berkata apapun, dia mengangguk tanpa menatapku.

“Kenapa?” Dia masih saja diam. Beberapa detik kemudian menghadap kearahku.

“Aku cuma ingin kenal kamu, Dee,” jawabnya.

“Dengan sembunyi-sembunyi seperti ini?”

“Aku tidak tahu harus melakukan apa. Aku pengen ngobrol, temui aku di kedai kampus pukul 12 siang. Kamu bisa?” Kali ini dia sudah terlihat biasa menatapku.

“Iya, bisa,” jawabku singkat.

Dia tersenyum. Senyuman itu masih sama dengan yang aku lihat saat dia sering menyapaku di lantai 2 kosannya.

“Terima kasih,” ucapnya. Aku hanya membalas dengan senyuman lalu mengangguk.

“Aku berangkat.” Aku berjalan berlalu di sampingnya.

***

“Oh, jadi kamu anak sastra Indonesia.” Aku mengangguk-angguk mendengar setiap ceritanya.

“Iya, kok kayaknya heran gitu.” Dia mengerutkan kening memandangku.

“Nggak heran sih, pantes aja kalau puisi yang kamu kirim ke aku itu bagus-bagus. Kan kamu anak sastra.” Aku menjelaskan dengan pelan sambil mengaduk-aduk jus apel di depanku.

“Itu belum seberapa. Masih banyak karya orang yang lebih bagus.” Dia merendah.

“Kamu jangan merendah gitu, aku saja belum tentu bisa membuat puisi sebagus itu.” Kulihat dia yang menikmati jus jambunya. Aneh. Aku baru mengenalnya. Tapi aku cepat sekali akrab dengannya. Dia asyik diajak ngobrol dan nyambung pula. Apalagi dia anak sastra, oh men padahal dari dulu aku pengen banget masuk sastra Indonesia. Karena aku tergila-gila menjadi penulis. Karena banyak pertimbangan aku lebih memilih masuk Pendidikan Ekonomi. Meskipun begitu, kebiasaan nulis itu masih melekat dan sama sekali tidak ingin aku tinggalkan.

“Kamu suka nulis kan Dee?” Pertanyaannya membuyarkan lamunanku.

“Kamu tahu darimana?” selidikku. Dia tidak menjawab malah tersenyum lalu melanjutkan menikmati minuman di depannya.

“Malah senyum.” Aku memasang wajah bete.

“Sudah sore, ayo pulang!” Dia berdiri. Aku hanya mengikutinya. Berjalan beriringan di sampingnya. Jarak kampus dan kos kita lumayan dekat, jadi tidak terlalu lelah jika ditempuh dengan jalan kaki.

“Kamu setiap hari jalan?” Aku meoleh ke arahnya. Kulihat dia memandang lurus saja ke depan.

“Iya, aku suka jalan kaki. Kampus ini indah untuk dinikmati.” Aku melihat sesungging senyum di bibirnya. Adakah yang lucu dari kata-kataku? Hingga dia selalu saja tersenyum menanggapi ucapan atau jawabanku.

“Aku baru kali ini ke kampus jalan kaki, sama cewek pula.” Dia masih saja tersenyum. Bibirku tanpa sadar tersenyum mengikutinya.

Hampir setahun berada di sini aku juga baru kali ini makan siang dan jalan kaki bareng sama cowok. Itu mungkin adalah hal yang sangat biasa untuk mahasiswa lainnya. Tapi bagiku, ini adalah hal yang istimewa karena ini kali pertamanya. Ah, aku tidak sedang jatuh cinta kan? Tidak. kurasa tidak. Aku baru saja mengenalnya. Tidak mungkin aku meletakkan hatiku begitu saja pada orang yang belum aku kenal bagaimana dia sebenarnya. Meskipun hatiku sudah lama gersang oleh kasih sayang lawan jenis, tapi aku tidak ingin terlalu cepat untuk mengatakan bahwa kebahagiaan ini karena aku sayang, kurasa bahagia ini karena aku menemukan teman baru yaitu kamu, Gilang.

 

bersambung…

 

 

About Anik

Seorang penulis lepas berasal dari Kediri, yang sharing tulisan-tulisannya melalui BALTYRA.com. Sekarang menetap di Jember.

Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.