Suami Bule

Jeng Margi

 

Dulu sekali, zaman sekolahku, teman-temanku kalo pada ditanyai guru, Cita-citanya apa, rata-rata pada menjawab jadi dokter, insinyur, dosen, guru, Polisi, tentara. Akupun menjawab pengin kerja kantoran saja. Tidak spesifik memang. Tapi jauh di lubuk hatiku terdalam (meski waktu itu aku malu untuk mengakuinya, takut dibully), cita-citaku cuman satu: punya suami bule, titik. Mengapa demikian?

Waktu itu aku membayangkan, dengan bersuamikan bule aku bisa bepergian kemana saja, bisa  merasakan banyak hal mulai dari naik pesawat saban waktu, tidur di hotel, tinggal di apartemen, pulang pergi LN tak pusing dengan kantong, karena bule itu keren, banyak duit, romantis pula. Selain itu aku bisa belajar langsung (native speaker) bahasa Inggris dengan suami bule. Aku bisa berkeliling dunia kemana aku mau dengan kemampuan bahasa Inggrisku yang cas cis cus hahahahaha syaratnya itu tadi, suaminya  bule dulu hahahaha…

Kalo Pembaca ada yang bertanya, mengapa cita-citanya tidak diubah saja, belajar yang keras dan giat agar kelak bisa (mendapat beasiswa) kuliah di Luar Negeri dan tentu saja bisa mewujudkan keinginanku keliling dunia.  Ohhhh No…! Di sini aku cukup tau diri, karena kemampuan akademikku yang hanya  rata-rata bahkan boleh dibilang pas-pasan aku tak punya cita-cita yang muluk-muluk, simple cukup dinikahi bule saja hehehehe…

Namun hingga berjalannya waktu sekolah, kuliah hingga punya anak, aku tak pernah menikah dengan bule. Jangankan menikah, berpacaran dengan bulepun tidak. Alamaaak……

Tulisan ini ada, tak hendak memprotes Tuhan yang sudah mengirimkan jodohku yang bukan bule.  Aku bersyukur karenanya. Tuhan Tahu mana yang aku butuhkan dan mana yang kuinginkan. Dan waktu itu, keinginan dinikahi bule sebatas keinginan terpendam saja. Tak pernah sekalipun aku panjatkan dalam doa harianku. Lagi-lagi karena aku malu. Dan mungkin itu juga yang membuat doaku tidak terkabul.

Kini setelah menikah, aku jadi tahu, pemahamanku jadi meluas. Tak selamanya bule itu kaya. Bule yang miskin juga banyak, bule yang menganggur juga ada. Coba, bagaimana aku bisa traveling,  kalo suami buleku hanyalah seorang pengangguran….??????

Namun begitu, terhadap kawan-kawanku perempuan yang berjodoh dengan bule, aku salut banget. Sambil tetep kepikiran, hebat buangett nih cewek, sanggup menggaet seorang bule…hehehehe…

Kepada hubby di rumah, aku sering cerita cita-citaku dulu yang ngebet dinikahi bule. Di luar dugaan, hubby bukannya cemburu tapi malah terbahak-bahak menertawakanku. Aku dibilang perempuan yang hobi ber-halusinasi.

Begini katanya, “Pergi ke Bali Island, dimana destinasinya para bule, belum pernah kamu lakukan, Bagaimana bisa meet and greet dengan bule….??”. “Kamu ini Aneh sekali….!”

Aku menjawab tak kalah sengit, “Beuh…! Masih bagus ber-halusinasi, bermimpi, daripada hidup tak punya mimpi sama sekali”, aku mencoba membela diri.

Hubby…. hubby….hubby, katanya pengin istri yang jujur, apa adanya, tak ada yang ditutup-tutupi. Giliran jujur malah ditertawakan. Siapa yang tak kesal…..!

Pembaca, aku memang bisa bercerita apa saja dengan hubby, aku tak pernah peduli, dia mau mendengarkan atau tidak. Yang penting aku cerita..cerita..dan cerita. Hasilnya signifikan. Semakin ke sini-sini, hubby adalah seorang pendengar yang baik meski terkadang juga sering menyebalkan. ceile…ceile…ceile.

i have a dream

Dan kami adalah pasutri yang tak menganut falsafah kuno, istri harus tunduk pada suami. Kami adalah pasutri moderat, yang duduk sama rendah berdiri sama tinggi,   istri yang selalu ada di samping suami bukan di depan atau di belakangnya. (aahhh preeeett…..)

Pembaca, inilah  sekelumit cerita tentang cita-citaku dulu,  walo tak kesampaian. Terus apa yang menjadi cita-citamu dulu, kini dan nanti…..???? Wkwkwkwk….

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.