Berkunjung ke Seoul – Negeri Kimchi

Hennie Triana Oberst – Shanghai

 

Jadilah rencana perjalanan ke Negeri Kimchi yang tertunda tahun lalu itu kami wujudkan. Tepat pada liburan musim semi Sekolah (Jerman) di Shanghai, selama dua minggu. Beberapa teman-teman di Indonesia banyak yang berkomentar, “Sekolah Jerman banyak hari liburnya ya.”

Walaupun pelaksanaan hari libur sekolah di Jerman dilakukan tidak serentak di tiap negara bagian, juga Sekolah Jerman yang berada di luar negara itu sendiri, tetapi pada dasarnya jumlah hari liburnya sama Dalam satu tahun terdapat hampir 15 minggu liburan sekolah. Memang jumlahnya lumayan banyak jika dibandingkan dengan liburan sekolah di Indonesia.

Penerbangan kami melalui Shanghai Hong Qiao Airport, bandara yang berada di bagian barat kota Shanghai dan jaraknya relatif dekat dari tempat tinggal kami. Bandara ini lebih kecil dibandingkan Shanghai Pudong Airport, di bagian timur kota Shanghai, yang menampung rata-rata hampir seluruh penerbangan internasional, di samping penerbangan domestik juga.

Penerbangan hanya menempuh waktu perjalanan selama 1 jam 30 menit. Kami mendarat di bandara lama, Gimpo (Kimpo) Airport di kota Seoul, ibukota Republik Korea Selatan. Sedikit mengantuk, walaupun jarak yang sebentar, karena kami harus berangkat ke bandara pada pukul 6 pagi. Semua berjalan lancar, petugas imigrasi Korea bekerja sangat efisien dan bersahabat. Sama seperti petugas di bandara kota Beijing dan Shanghai.

Begitu keluar dari pintu bandara terlihat beberapa wanita muda dengan pakaian tradisional Korea (Hanbok) mengucapkan “Selamat Datang“ dan membagikan cendera mata dan peta kota dan selebaran objek wisata. Kami kemudian menumpang taxi menuju penginapan.

Foto 1: Bandara Gimpo, Seoul

Foto 1: Bandara Gimpo, Seoul

Foto 2: Salah satu pemandangan kota Seoul

Foto 2: Salah satu pemandangan kota Seoul

Setelah istirahat sejenak, kami memutuskan memanfaatkan waktu yang ada, menikmati suasana kota sekalian makan siang. Kami berjalan menuju Pasar Namdaemun, yang letaknya tidak jauh dari hotel. Kebetulan hotelnya juga terletak di pusat kota, jadi gampang ke mana-mana.

Di jalan, kami harus sedikit menunggu rombongan demonstrasi yang panjang sekali. Tidak mengerti, mereka sedang mengadakan demo apa. Terlihat barisan yang rapi, terdengar sorak-sorai tapi tidak memekakkan telinga.

Foto 3: Barisan Pedemo

Foto 3: Barisan Pedemo

 

Namdaemun

Gerbang yang terletak di pusat kota Seoul ini nama resminya adalah Sungnyemun, yang artinya Gerbang Upacara Agung. Disebut Namdaemun karena letaknya di bagian selatan gerbang-gerbang yang melindungi kota Seoul. Bangunan yang terbuat dari kayu yang didirkan pada tahun 1395 ini bagian atapnya hancur ketika terjadi kebakaran pada bulan Februari 2008. Sebelumnya musibah tersebut, Namdaemun merupakan bangunan kayu tertua di kota Seoul.

Foto 3: Barisan Pedemo

Foto 3: Barisan Pedemo

Pasar Namdaemun sendiri berada di sisi pintu gerbang ini. Di sini terdapat segala macam barang, termasuk juga penjual makanan yang menggelar dagangan dengan kursi dan meja yang mereka sediakan. Pasar ini cukup bersih, juga dagangan yang mereka pajang relatif sangat bersih.

Foto 5: Gerai makanan di pasar

Foto 5: Gerai makanan di pasar

Foto 6: Seafood

Foto 6: Seafood

Di pasar ini banyak gerai makanan seperti terlihat di foto. Kita tinggal memilih makanan yang ingin kita santap, maka penjual akan memasak dan menyajikannya. Berbagai jenis makanan laut juga banyak. Ini salah satu jenis seafood yang aku belum pernah lihat dan tidak tau namanya. Tadinya aku kira umbi-umbian, karena seperti ada akar serabutnya. Ketika di pasar aku lihat orang-orang ramai berkerumun di meja sambil menyantap makanan ini. Penjualnya seorang wanita, yang sibuk menggunting makan ini dan menyajikannya kepada pemesan. (Orang Korea hampir selalu menggunakan gunting untuk memotong bahan makanan seperti daging). Seafood ini disantap dengan saus merah, “sangat pedas” kata salah satu pembeli. Ia menawarkan pada kami untuk mencoba makanan yang ia pesan. Aku tidak berani mencobanya, karena seafood ini disantap mentah.

Foto 7: Ulat Sutra

Foto 7: Oktopus

Foto 8: Oktopus

Foto 8: Ulat Sutra

Ulat sutra yang gepeng kering mirip kripik ini banyak dijual di pasar. Ada yang sudah dikemas dalam kantong-kantong plastik, ada juga yang dijual di dalam wadah besar. Tinggal ditimbang ketika kita akan membelinya. Aku masih tidak sanggung untuk mencobanya. Walaupun sekilas terlihat seperti jenis kacang-kacangan dan mungkin saja rasanya garing dan gurih.

Foto 9: Lalu lintas kota

Foto 9: Lalu lintas kota

Kota Seoul sangat rapi, bersih dan lalu lintasnya teratur dan tertib. Tidak terdengar suara klakson mobil dari pengendara, yang riuh rendah. Di zebra cross pengendara akan berhenti jika mereka melihat ada orang yang akan menyeberang. Tertib, seperti seharusnya pengendara bersikap di jalan.

Kesanku selama beberapa hari di kota ini, bahwa orang Korea itu cinta produk mereka. Barang-barang yang mereka gunakan adalah produk dalam negeri, seperti lift, peralatan elektronik rumah tangga, juga gadget. Begitupun juga dengan kendaraan mereka, seperti mobil dan bus adalah buatan negara sendiri. Memang ada terlihat mobil merek dari negara lain, tetapi jumlahnya sedikit sekali. Warna mobil mereka hampir semua warna yang netral, seperti putih, silver dan hitam. Jarang ditemui mobil dengan warna cerah. Kecuali ada taxi dengan warna oranye cerah seperti warna wortel. Aku suka dengan sikap santun dan sopannya masyarakat di kota ini. Baik orang umum yang aku temui di jalan, pedagang pasar, supir taxi, petugas di bandara dan stasiun subway.

 

Salam hangat dari Korea (masih melanjutkan perjalanan, 20150504).

Foto 10: *Eine Reise nach Korea*

Foto 10: *Eine Reise nach Korea*

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *