Memaklumi Kemaksiatan

Yuni Astuti

 

Hmm… sebenernya judul yang tepat bukan yang bermakna “permisif” terhadap kemaksiatan yang ada ya. Tapi yang saya kamsudkan, adalah memahami fakta secara mendalam kemudian menyadari bahwa diri kita juga bisa berpotensi untuk melakukan kemaksiatan serupa. Dengan demikian kita tidak akan mudah menjudge seseorang itu telah berdosa.

Sebuah kisah yang menarik di dalam QS Yusuf, kisah lengkap yang memaparkan perjalanan hidup sang Nabi yang tampan ini. Bagian yang menarik itu adalah ketika istri Al-Aziz menggoda Yusuf as tapi tidak berhasil kemudian para wanita yang ada di kota itu dengan mudahnya mengatakan bahwa istri Al-Aziz benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata.

Istri Al-Aziz lantas mengundang para wanita yang berkata demikian itu, diundang makan, disajikan buah-buahan dan pisau untuk mengupas buah-buahan itu. Lalu Yusuf as disuruh keluar untuk sekadar menampakkan diri kepada para wanita itu. Apa yang terjadi? Yap! Para wanita itu, tanpa sadar telah mengiris kulit jari mereka sendiri seraya mengucap kekaguman: “ini bukan manusia. Ini adalah malaikat….”

Saya seringkali tersenyum kalau membaca kisah ini. Para wanita itu, yah, baru saja mendengar cerita tentang pengkhianatan istri Al-Aziz sudah berkata “kamu berada dalam kesesatan…”. Nyatanya, ketika mereka disuruh melihat Yusuf as untuk pertama kalinya malah terpesona. Bayangin aja tuh sampai ngiris jari sendiri, apa nggak karena saking melototnya lantaran kagum akan ketampanannya sekaligus ungkapan: “ini bukan manusia, ini malaikat…”

Wew banget kan? Baru sekali melihat aja udah kayak gitu eskpresinya, gimana dengan istri Al-Aziz yang sudah hidup bersama Yusuf sejak Yusuf masih kecil? Jelas-jelas melihat ketampanan Yusuf as setiap hari! Normalnya kan, kalau sekali melihat aja udah deg deg serrr apalagi setiap hari selama bertahun-tahun? Ditambah lagi akhlak Yusuf as yang sungguh mulia, ya jelas namanya juga nabi.

Bukan memaklumi keteledoran istri Al-Aziz, hanya rasanya “wajar” jika cinta itu tumbuh lantaran seringnya bertemu. Betul tidak? Nah, sebagai manusia biasa, tentu sangat mungkin tergoda imannya untuk berbuat hal yang dilarang agama. Hanya, karena Yusuf as seorang nabi maka beliau senantiasa dijaga oleh Allah.

Padahal istri Al-Aziz udah punya suami, seorang pembesar pula. Pastinya kaya raya dong! Namun kenapa istrinya masih saja terpikat pada budaknya?  Inilah manusia, yang selalu tidak puas pada apa yang sudah mereka miliki. Dan kalau kita yang berada dalam posisi orang yang bersalah itu, belum tentu kita sanggup menahan iman. Oleh karena itu, seperti apa yang dilakukan Yuauf as, hanya ketakwaanlah yang bisa menjaga kita dari buruknya perangai kita sebagai normalnya manusia yang penuh hawa nafsu. Bukankah manusia itu memang diciptakan penuh syahwat, terutama pada wanita, anak-anak dan harta benda? Iman dan takwa akan menjaga kita, agar bisa menjadi “extraordinary people” yang tidak selalu harus dicap “wajar” ketika melakukan dosa. ^_^

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.