Menginap di Rumah Oshin di Jepang

Ady Nugroho

 

Masih ingat Oshin sodara-sodara? Serial drama ini diputar TVRI di era 80-an dan sukses berat. Maklum waktu itu belum ada banyak saingan sinetron menye-menye. Tapi alur cerita drama ini memang bagus menurut saya yang waktu itu masih duduk di bangku SD. Buat pembaca yang waktu itu belum lahir, masa kecil si gadis miskin bernama asli Shin Tanokura ini penuh penderitaan di Yamagata, Jepang. Baru berusia 7 tahun, Oshin sudah harus bekerja sebagai pengasuh anak (babysitter) untuk mendukung keuangan keluarganya. Masih jelas di ingatan saya bagaimana Oshin yang selalu berpakaian kimono harus bekerja keras mencuci pakaian, memasak, dan mengepel sambil menggendong anak yang diasuhnya.

oshin

Drama ini mengenalkan saya pada kehidupan dan keseharian masyarakat Jepang yang ternyata saat itu nggak secanggih kondisi Jepang sekarang. Buktinya Oshin masih mencuci memakai tangan, sedangkan sekarang mungkin nggak ada lagi orang Jepang yang mencuci memakai tangan, hampir semua menggunakan mesin cuci. Selain itu, gambaran tentang rumah dan pakaian tradisional Jepang juga saya dapat dari serial drama ini.

Musim semi ini, saya punya kesempatan liburan ke Jepang, mumpung harga tiket agak miring karena harga minyak dunia sedang anjlok awal tahun ini. Saya pikir daripada menginap di hotel yang biasa-biasa saja, kenapa nggak menginap saja di penginapan tradisional Jepang (ryokan) toh harganya nggak beda jauh. Memasuki ryokan seolah membawa saya masuk ke kehidupan Oshin. Lantai tertutup tatami (tikar jerami), pintu geser kertas, dan bantal untuk alas duduk lesehan di sekeliling meja rendah di ruang utama merupakan pemandangan pertama begitu masuk ryokan.

traditional-japanese-house

Bedanya, Oshin hidup dalam keterbatasan fasilitas, sedangkan ryokan lengkap dengan perangkat rumah tangga modern seperti mesin cuci, kompor listrik, toilet otomatis, dll yang bisa dipakai tamu tapi harus beli deterjen, sabun mandi, sampo, dan bahan makanan sendiri. Kebetulan di dekat ryokan yang saya sewa, terdapat sebuah toko swalayan mini yang menjual sembako, termasuk berbagai pilihan deterjen, sabun, dan bahan makanan itu tadi. Jadi semua kebutuhan dasar mudah didapat demi menghemat pengeluaran untuk makan.

Salah satu ciri khas ryokan dan mungkin juga rumah tradisional Jepang adalah keberadaan ruang utama sebagai ruang serbaguna—ruang makan iya, ruang tamu juga, dan kalau malam disulap menjadi kamar tidur. Di luar waktu tidur, kasur tipis (futon), bantal, dan selimut disimpan di lemari yang menyatu dengan dinding ruang utama. Nah, menjelang waktu tidur, kasur digelar di ruang itu juga untuk bobok. Biarpun tipis, kasurnya tetap nyaman.

Selain ruang utama, ada juga ruang-ruang lain. Kamar mandi modernnya dilengkapi dengan WC duduk otomatis ala Jepang yang punya banyak tombol—mau buka penutup tinggal pencet tombol ini, mau menyiram tinggal pencet tombol itu, mau ceb*k tinggal pencet tombol sini, mau dudukannya hangat tinggal pencet tombol sana. Dapur modernnya lengkap dengan mesin cuci baju, mesin cuci piring, kompor listrik, kulkas, dan microwave. Semua perangkat ini bebas dipakai asalkan nggak merusak. Karena tombol-tombolnya berbahasa Jepang, pemilik ryokan meninggalkan petunjuk pemakaian dalam bahasa Inggris untuk setiap perabot, malah kadang-kadang sampai disertai dengan petunjuk takaran deterjen yang diperlukan jika ingin memakai mesin cuci.

Waktu itu, saya menyewa ryokan di sebuah kota di antara Hiroshima dan Osaka bernama Kurashiki, tepatnya di kota tuanya. Suasana tradisional Jepang pun semakin kental terasa karena rumah-rumah di sekitar penginapan saya juga tradisional, belum lagi keberadaan dua kuil Shinto di tengah-tengahnya.

Selain di Kurashiki, saya juga menginap di penginapan tradisional di Kyoto dan Pulau Miyajima. Hanya saja, penginapan di kedua tempat ini bukan berbentuk rumah, melainkan hotel yang setiap kamarnya memakai desain interior tradisional seperti ruang utama di ryokan. Lesehan di atas tatami. Tetap menarik tapi kurang terasa Oshin-nya.

 

 

About Ady Nugroho

Tukang jalan-jalan keliling dunia yang sekarang tinggal di Inggris. Memutuskan meramaikan BALTYRA.com dengan spesialisasi artikel-artikel yang terkait dengan jalan-jalan. Baik di dalam maupun di luar negeri, pengalaman perjalanan, tips perjalanan seperti cara berburu tiket murah, mengemas tas backpack, tidur nyaman di bandara, dll. Artikel-artikel tersebut akan dikaitkan dengan cara perawatan perlengkapan jalan-jalan khusus, misalnya cara mencuci sleeping bag, cara mencuci selama perjalanan dan banyak lagi hal yang terkait dengan jalan-jalan menyusuri bumi ini.

Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.