Meninggalkanku Bersama Senja (2)

Anik

 

Artikel sebelumnya:

Meninggalkanku Bersama Senja (1)

 

Sudah tidak ada lagi temuan tanpa nama pengirim amplop hijau. Dan sudah tidak ada lagi puisi-puisi penyambut pagi yang sering diam-diam dikirimkannya. Tapi senyuman itu masih ada, senyuman itu masih dia tujukan untukku. Bahkan, sekarang aku bisa melihat senyuman itu sangat dekat. Aku bisa mendengar suaranya sangat jelas di sampingnya.

“Ternyata di sini rame ya kalau malam.” Aku tak melepaskan pandanganku dari sekitar alun-alun kota. Melihat keramaian malam seperti ini bersamanya terasa sangat menenangkan.

“Ya wajarlah, ini kan malam minggu.”

“Aku mah malam minggu atau nggak yang aku tahu cuma kosan melulu.” Tiba-tiba tawanya membeludak setelah mendengar ceritaku.

“Kamu kuper banget sih,” ejeknya.

“Aku terlalu cinta dengan kamarku.” Aku memeluk lututku dan memandangi langit. Yang gelapnya hampir tak pernah kunikmati.

“Aku ajari kamu untuk melihat indahnya ciptaan Tuhan.”

“Maksudmu?” Aku menengok kearahnya. Kulihat dia melihati langit sama sepertiku.

“Besok pagi kita ke pantai, mau?”

“Pantai?” Aku secepat kilat berbalik ke arahnya. Menggoyang-goyangkan lengannya. “Serius?” Aku seakan tak percaya mendengar kata pantai.

“Kamu kenapa De? Bukannya pantai itu sudah biasa?” Dia menatapku aneh.

“Bagiku itu amazing Gilang, menikmati ombak itu hal yang aku rindukan,” ucapku dengan antusias.

“Kenapa kamu tidak ke pantai dari dulu? Bukankah di sini banyak pantai?” Aku terdiam lalu menggeleng.

Dia mengangkat bahu dan tangannya. Ekspresi menunjukkan bahwa dia tidak tahu sesuatu hal. Aku suka dengan ekspresinya itu. Kupandangi lalu aku tersenyum.

“Karena baru kali ini ada yang mengajakku ke pantai,” kataku lemah. Aku malu mengakuinya. Hampir setahun di perantauan ini aku jarang sekali menikmati alam di sini. Aku lebih suka menikmati kesendirianku di kamar bersama laptop dan buku. Menghabiskan waktu berjam-jam dengan deretan kata.

“Setidaknya kamu di sini punya teman kan?”

“Punya. Tapi aku sering menolak ajakan mereka.”

“Dan untuk kali ini kamu tidak menolak.” Kami bertatapan lalu tersenyum. Ya memang benar, untuk kali ini aku tidak menolak. Untuk pertama kalinya aku keluar menikmati malam bersama lelaki yang baru saja ku kenal.

***

Berjalan beriringan di bibir pantai. Sesekali kami berlari karena ombak mengejar. Hanya melihat ombak saja kita sudah tertawa dengan sendirinya, bagiku kami tertawa tanpa alasan. Entahlah, memang tidak ada yang lucu saat ini. Aku bahagia. Ya, hari ini aku bahagia tanpa alasan. Aku bisa tertawa sepuas hatiku. Sayapku mengepak terbang jauh dan aku merasakan kebebasan di alam lepas ini.

Sesekali aku berdiri dan tersenyum lalu dia memfotoku. Kita berlarian bergandengan tangan menghindari ombak yang terus mengejar. Dia berhenti dan duduk di pinggir pantai, aku mengikutinya.

“Gilang, pasirnya halus sekali.” Aku mengambil segenggam pasir lalu kulihatkan padanya. Dia melihat sejenak pasir ditanganku dan mengambil pasir sendiri.

“Iya, memang halus,” sahutnya.

“Raja siang telah meninggalkan tahtanya,” ucapnya tiba-tiba. Aku menoleh kearahnya. Kulihat dia memandang ke arah matahari terbenam.

“Bagus senjanya,” gumamku.

“Ada bayangan cahaya di pantai, indah sekali kan. Kamu mau foto?” Tanpa berfikir panjang aku langsung mengangguk. Aku berlari mengambil posisi.

“Sudah,” teriaknya setelah fotonya selesai. Aku berlari ke arahnya melihat hasil fotonya. “Bagus Lang.” Aku memandangi hasil foto-foto tadi.

Lama sekali kita tak berucap. Dia diam menikmati ombak. Aku melihati hasil foto, sesekali aku melihat sekeliling yang menawarkan panorama alam yang indah.

“Aku betah Lang ada di sini,” ucapku tiba-tiba.

“Nyaman ya?” tanyanya.

“Banget, kalau aku nulis di tempat ini pasti rasanya wow banget.” Aku tak memandangnya. Aku melihat ombak yang berkejaran di depanku. Tapi aku tahu dia sedang memperhatikanku.

“Banyak inspirasi kalau kamu berada di sini. Apalagi kalau ada aku.” Kata-katanya yang terakhir membuatku sedikit berfikir. Apa maksud ucapannya. Aku hanya diam. Aku tidak tahu harus berucap apa.

“Dee, kamu nyaman kan berada di sini? Seperti halnya aku, aku juga nyaman berada di sampingmu.” Dia menggenggam tanganku. Aku menarik tanganku dari genggamannya.

“Aku juga nyaman Lang, aku senang bisa kenal sama kamu,” ucapku pelan.

“Aku nggak salah kan kalau aku sayang sama kamu?” Aku tersentak mendengar pertanyaannya. Secepat inikah dia mengucapkan sayang? Padahal kita baru seminggu kenal.

“Kamu mau kan menjadi milikku, Dee?” Dia menoleh kearahku. Dari tatapannya kulihat dia ingin meyakinkan bahwa perasaannya sungguh-sungguh.

“Ini terlalu cepat, Gilang. Kita baru kenal.” Aku memandangnya dalam-dalam. Agar dia bisa membaca bahwa kenyamanan di hati ini hanya sekadar teman, tidak lebih. Aku sendiri pun tidak salah kan? Orang lain pun juga menilai kita terlalu cepat untuk memutuskan bersama.

“Tapi aku sudah lama mengagumimu.”

“Itu saja tidak cukup.”

***

“Dee, ada surat buat kamu.” Aku mengerutkan kening. Siapa lagi yang mengirimkan surat? Gumamku. Bukannya Gilang sudah tidak pernah lagi mengirimkan puisi? Aku meraih surat yang diletakkan mbak fela di meja kamarku. Ternyata memang benar gilang. Tapi kenapa dia mengirim surat?

Aku pergi bukan karena aku tak lagi mencintaimu. Aku masih sama seperti kemarin. Sosok yang selalu mencintai dan mengagumimu. Maaf Dea, karena satu alasan aku harus pergi. Tapi bukan karena aku ingin menjauh. Karena ada hal lain yang memaksaku untuk beranjak dari hari-harimu. Yang perlu kamu tahu, hatiku masih untukmu. Meskipun aku tidak tahu apakah nanti kita akan bersua lagi. Semoga kita menemukan jalan terbaik.

Yang mengagumimu,

Gilang

 

 

“Kamu kenapa Lang?” tanyaku setelah dia mengangkat telfonnya.

“Ada masalah keluarga, makanya aku harus berhenti kuliah dan pulang.”

“Tapi karena apa?” Ada penasaran yang menyusup.

“Ini privasi Dea.”

Aku menghargai alasanmu untuk pergi. Setidaknya tidak ada luka yang kamu torehkan di perpisahan ini. Dan meskipun itu hanya sekejap, terima kasih kamu telah membahagiakanku. Akan selalu kuingat senja yang kau berikan kala itu. Meskipun tidak ada rasa yang lebih yang kuberikan. Tapi hati ini tetap merasa kehilanganmu.

 

 

About Anik

Seorang penulis lepas berasal dari Kediri, yang sharing tulisan-tulisannya melalui BALTYRA.com. Sekarang menetap di Jember.

Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.