Doa Bersama

Wesiati Setyaningsih

 

“Ma, besok ada doa bersama. Harus datang,” pesan Izza pada saya.

Izza sudah kelas enam, minggu depan akan ujian. Meski ujian sekarang tidak lagi menjadi satu-satunya penentu, tapi tradisi harus dilestarikan. Dulu doa bersama ini diagendakan karena nilai ujian nasional menjadi satu-satunya penentu. Tahun ini aturan itu sudah dicabut, kelulusan ditentukan oleh ujian sekolah, selain dengan ujian nasional.

Menurut logika saya, tidak mungkin ada yang tidak lulus. Asal anak itu masuk sekolah terus, guru pasti membantu lewat ujian sekolah. Kepala sekolah tidak mungkin rela kalau ada murid yang tidak lulus. Maka guru harus mengolah nilai sedemikian rupa agar murid lulus. Demikianlah sebenarnya.

Tapi Izza bilang, doa bersama ini bersama orang tua. Dulu jaman kakaknya kelas enam, ada juga doa bersama, apalagi tahunnya Dila, pertama kali diberlakukan ujian bagi kelas enam. Tapi orang tua tidak ikut serta, hanya anak-anak saja. Kali ini saya juga bertanya-tanya teknisnya akan seperti apa.

doa

Sore itu saya datang ke sekolah setelah sms bertubi dari Izza yang saya antar lebih dulu karena katanya, “Suruh nyapu, ngepel sama nata tikar dulu…”

Di sms terakhirnya yang meminta saya cepat datang karena acara sudah dimulai, saya iyakan saja. Segera saya mandi dan berangkat. Sampai sekolah Izza, acara memang sudah dimulai. Benar-benar tepat waktu, tidak seperti biasanya saat rapat.

Di dalam Izza dan teman-temannya sedang membaca Asmaul Husna. Tikar digelar ruangan besar yang disebut aula. Orang tua duduk bersama anak mereka, berdampingan. Saya mengambil tempat yang kosong saja. Selesai pembacaan Asmaul Husna Izza mengambil tempat duduk di depan dan menoleh ke arah saya, mengajak duduk di situ. Saya menggeleng. Lalu dia sms agar saya duduk bersama dia. Ternyata tempat duduk sudah diatur sedemikian rupa sesuai absen dan orang tua harus duduk di sebelah anaknya. Sms bertubi lagi, Izza memaksa saya duduk di sebelahnya. Karena enggan melompati banyak orang yang duduk di bawah saya menolak.

Setelah pembacaan ayat suci Al Quran, anak-anak yang beragama lain masuk ruangan. Tausiyah akan disampaikan dan salah satu guru memastikan para orang tua duduk di samping anaknya. Akhirnya saya pindah ke samping Izza. Ada dua anak yang tidak bersama orang tuanya, diminta pindah ke sebelah Ibu Kepala Sekolah. Khotbah dimulai oleh seorang Ustadz.

Isi khotbah ngalor ngidul sampai ke masalah haji segala dan saya agak bingung, apakah beliau tidak membuat materi dulu sebelumnya sehingga bisa benar-benar nyambung dengan acara sore itu, memotivasi anak-anak agar jujur dalam mengerjakan dan benar-benar percaya diri. Soalnya dua hal itu yang selalu sulit saya temukan kalau sedang menjaga tes.

Karena saya datang ‘harus’ itu tadi, saya berusaha mengikuti dengan tertib. Dari pada benak saya penuh pertanyaan tidak jelas, saya main hape. Izza duduk tenang mengikuti tausiyah yang sesekali diselipi guyonan dari Pak Ustadz. Saya sendiri mulai pegal-pegal dan beberapa kali mengubah posisi kaki.

“Kata temenku to, nanti harus nangis. Soalnya kakaknya pas doa bersama nangis, habis itu nilainya bagus,” bisik Izza pada saya.

Saya mengernyit. Harus nangis? Berdoa kok harus nangis?

“Berdoa itu yakin aja bakal dikabulkan. Kenapa harus nangis?” tanya saya.

“Enggak tau, katanya gitu ok…”

Ah, sudahlah, pikir saya. Anak-anak kadang belum terlalu dalam cara berpikirnya.

Tausiyah mulai menjadi agak ‘drama’. Pak Ustadz menceritakan tentang ibu. Betapa kesedihan akan mencengkeram batin kita kalau ditinggalkan ibu. Dia ceritakan suasana ketika seorang ibu meninggal. Suara pak Ustadz semakin dibuat bergetar. Pak Salamun, guru agama Islam, yang duduk di sebelahnya sudah mulai menangis. Isak tangis mulai terdengar di sana sini, tapi saya malah ingin tertawa. Saya teringat sesuatu.

***

Ceritanya waktu bekerja di kelurahan, saya kenal seorang modin. Di tiap kelurahan ada dua modin yang ditugaskan oleh Kantor urusan agama untuk menangani masalah keagamaan di kelurahan. Dia bukan pegawai kelurahan, tapi karena ‘ngepos’ di kelurahan tiap hari, orang pasti mengira modin itu pegawai kelurahan padahal mereka pegawai honorer yang dibayar oleh Depag. Kedua orang ini menangani pernikahan dan kematian.

Salah satu dari keduanya memiliki perilaku yang mengesalkan. Saat menangani pernikahan bisa benar-benar tega menentukan uang jasa yang cukup tinggi. Meski dia fasih berdoa, tapi semua tahu dia playboy. Sudah berkali-kali dia ‘main’ perempuan dan terakhir dia sampai meninggalkan istrinya karena pembantu rumah tangga yang bekerja di perumahan mewah dekat kantor. Ketika saya sudah pindah, kabarnya perempuan yang sudah sempat punya satu anak dari dia itu ditinggalkan dan dia kembali pada istrinya.

Nah, saya punya pengalaman yang membuat saya tidak bisa ikut menangis di acara doa bersama sekolah Izza. Suatu kali ketika ada kematian, saya ikut menyaksikan hingga ke penguburan. Seperti biasa, setelah tanah kuburan rapi dan bunga-bunga ditaburkan, modin akan mempimpin doa. Awalnya dia berdoa biasa saja, lama-lama suaranya bergetar-getar seolah dia menahan tangis. Makin lama dibuat makin menyedihkan. Orang-orang mulai menangis sementara saya bertanya-tanya.

“Kan dia nggak kenal si mayit, kok bisa dia sampai sebegitunya? Ikatan batin apa yang membuat dia sampai terharu biru begitu?” batin saya heran.

Kebetulan saya berada agak di belakang si modin. Ketika doa selesai, dia berbalik dan saya bisa melihat wajahnya yang cerah, dia meringis ke arah saya.

“Gayanya, dibuat kaya yang nangis-nangis, “ kata saya.

“Lhoo… harus begitu to…” jawabnya sambil meringis tanpa dosa.

Padahal modin satunya tidak seperti itu kalau memimpin doa di pemakaman. Dia biasa saja, berdoa dengan penuh khidmat. Tidak dengan acara menangis yang dibuat-buat. Tapi kali itu saya memahami sesuatu bahwa akting itu bisa dilakukan siapa saja, bukan cuma artis, tapi juga oleh modin.

***

Sudah jam lima sore, khotbah di acara doa bersama sekolah Izza belum tampak akan selesai. Ustadz kini meminta semua berdiri, orang tua memeluk anak mereka masing-masing. Dia berseru dengan suara seolah penuh tangis dan air mata. Tangisan di sana sini terdengar makin keras. Saya melirik ke belakang, teman-teman Izza yang laki-laki juga menangis hebat. Saya geli sendiri mengingat anak itu sering diceritakan Izza suka sekali mengejek teman-temannya bahkan dengan kata yang tidak pantas.

“Ivan nangis, tuh. Ingat dosa-dosa dia, kali.” Saya berbisik di telinga Izza untuk menggoda.

Izza terkikik kesal karena dalam suasana haru biru begitu saya malah bercanda. Ustadz masih terus bicara tentang hal-hal yang menyedihkan tentang peran orang tua dan andai mereka meninggalkan kita. Orang tua maupun anak bahkan para guru hampir semua ikut menangis. Sementara bayangan modin yang membalik badan dengan seringai di wajah setelah berhasil membuat orang-orang di pemakaman menangis sedih membuat saya gagal ikut menangis sore itu.

“Sudah, nggak usah nangis. Yang penting itu kamu yakin besok bisa mengerjakan, terus nilainya jadi bagus…” kata saya berulang-ulang di telinga Izza yang masih memeluk saya.

Setengah enam sore acara selesai. Ketika orang lain ke luar ruangan dengan mengusap air mata, saya dan Izza beranjak pulang dengan menahan geli. Gara-gara pengalaman saya dengan Pak Modin teman saya itu, saya gagal ikut terharu biru sore itu.

 

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

4 Comments to "Doa Bersama"

  1. fia  6 August, 2015 at 22:51

    hahahaha
    asli loetjoe

  2. wesiati  9 July, 2015 at 08:58

    Hihihi….

  3. Chandra Sasadara  6 July, 2015 at 10:02

    tambah keras nangisnya kan kliatan tambah kusyu’ dan pemimpin do’a juga terlihat lbih hebatt

  4. Ocha  6 July, 2015 at 08:09

    Hahahahahahaaaa, nangis itu kalo kehilangan dompet pas waktunya mbayar angkot Bu Wess

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *