DINASTI

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta

 

TAK penting dengan Pansel KPK. Hanya menariknya, ada lagi nama Alisjahbana dari 9 anggota Panita Seleksi KPK. Betti Alisjahbana. Barusan, selesai Armida Alisjahbana jadi menteri Bappenas selama 5 tahun. Keluarga Alisjahbana selalu hadir dalam banyak segi kehidupan negeri ini sejak 1930an, ketika sang ‘Paramount’ Sutan Takdir Alisjahbana (STA) menghias dunia sastra, bahasa dan budaya negeri ini jauh sebelum Indonesia merdeka. Anak cucu, mantu, cucu mantunya mengikutinya dengan integritas ilmu pengetahuan. Betti adalah menantu STA dan Armida menantu dari anak STA, Iskandar.

dinasti

Putranya, Iskandar Alisjahbana, bapak Satelik Domestik (ahli nuklir juga) dan dosen ITB paling fenomenal karena akrab dengan mahasiswa jaman demo anti Soeharto 1977-78 (ya, dicopot lah jadi rektor). Mantunya, Ibu Pia, akademisi dan sosialita serta pendiri majalah Gadis. Ibu Pia suka mamer kalau lagi di Paris ketemu Mick Jagger di sebuah pesta kalangan atas dan minta tanda tangannya untuk pembaca majalah Gadis. Putri STA yang lain, Mirta, pendiri Femina Group. Keluarga ini juga punya percetakan, Dian Rakyat.

Waktu kecil saya suka baca majalah kakak saya, Gadis dan Femina (punya dinasti Alisjahbana). Bacaan di SD, juga dipaksa untuk membaca ‘Layar Terkembang dan lainnya. Bahasa yang kita pakai, banyak sumbangan linguistic dari STA. Dulu tiap bulan suka terima surat dari Citibank yang ditandatangi Diita Amarhoseya (cucu STA). Untung saya gak kuliah di Universitas Nasional yang didirikan STA. Mati lah saya dikuasai oleh elemen Alisjahbana.

Struktur masyarakat Indonesia hanya dikuasai oleh ‘orang itu-itu juga’. Ada keluarga Soekarno, keluarga Soeharto, Djojohadikusumo, keluarga kraton Mataram (Jogja, Solo, Mangkunegara, Pakualaman) dan ini paling banyak dan menggurita. Di bidang ekonomi, Indonesia dikuasai segelintir keluarga Tionghoa kaya, ya Om Liem, keluarga Gudang Garam, keluarga Djarum, Sampoerna, bla bla… Di bidang rohani, romo-romo sering banyak yang bersaudara. Habib-habib? Hampir semua sodaraan dalam ikatan keluarga Alawiyin.

Monyet-monyet dari pinggir hutan, cuma ngelihatin sambil makan buah…

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.