Utang

Anwari Doel Arnowo

 

Seorang pemuda mahasiswa asal non Jawa bertanya kepada pemilik warung di Yogyakarta: “Ibu! Apa satu dalam bahasa Jawa?

Jawab Ibu Warung: “Setunggil, Den Mas…”

“ Itu tadi aku makan nasi, tahu dua tunggil, tempe satu tunggil dan kerupuk tiga tunggil”

Si mahasiswa melanjutkan : “Utang !!”

Ibu Warung: “Oooh Allaaaah, deeen deen, wong mau utang saja kok tanya satu itu apa bahasa Jawanya! Iyo uwisss!!”…….

Silakan ikuti topik menarik tentang utang kita:

Silakan buka link ini

http://sp.beritasatu.com/ekonomidanbisnis/sejak-rezim-sby-setiap-warga-diwariskan-utang-rp13-juta/87707  

Bagi yang tidak bisa membukanya, silakan baca copy paste sebagian isinya:

Sejak Rezim SBY, Setiap Warga Diwariskan Utang Rp13 Juta
Jumat, 22 Mei 2015 | 8:26

Berita Terkait

Kasihan Presiden Selalu Diberi Informasi Tidak Akurat Oleh Bawahannya

[JAKARTA] Kementerian Keuangan merilis data posisi utang Indonesia pada 2014 atau utang yang ditinggal oleh rezim Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebesar Rp 2.604 triliun.

Dan sekarang ini, di masa rezim Joko Widodo, utang sementara sampai bulan maret tahun 2015 baru sekitar Rp 2.795 triliun.

“Artinya, utang Indonesia dari Presiden SBY ke Presiden Jokowi bertambah hanya sebesar Rp 191 Triliun saja. Dan penambahan utang ini baru sedikit, dan angkanya juga baru sementara saja,” kata Direktur Centre For Budget Analysis (CBA), Uchok Sky Khadafi dalam rilis yang diterima SP di Jakarta, Jumat (22/5).

Dikatakan, sejak APBN-P 2015 disahkan oleh DPR, ternyata Presiden Jokowi membutuhkan anggaran untuk kebutuhan pembiayaan sebesar Rp 507 triliun.

Dana itu dibutuhkan untuk menutupi adanya defisit anggaran dalam APBN-P 2015 sebesar Rp 222.5 triliun, juga untuk pembayaran utang yang jatuh tempo sebesar Rp 223.0 triliun, dan pembiayaan non utang sebesar Rp 62 triliun.

Anggaran sebesar Rp 507.5 triliun untuk menutupi pembiayaan seperti di atas berasal dari utang sebesar Rp 502.4 triliun, dan sebesar Rp 5.1 triliun dari non utang.

“Utang sebesar Rp 507.5 triliun hanya dipergunakan seperti gali lubang untuk menutupi lubang yang bernama utang. Bukan untuk kebutuhan investasi dalam bentuk proyek proyek yang produktif,” katanya.

Jadi, kata Uchok, pada akhir tahun nanti atau akhir tahun 2015, pemerintahan Jokowi akan punya utang sebesar Rp 3.303 triliun, yang akan dibebanin pembayaran kepada pajak.

“Artinya, gara-gara pemerintah saat ini punya utang sampai sebesar Rp 3.303 triliun, maka setiap penduduk akan punya utang sebesar Rp13 juta per orang,” katanya
Sumber Utang

Menurut Kementerian Keuangan, pada bulan Maret 2015, posisi utang Indonesia sebesar Rp 2.796 triliun yang berasal dari pinjaman luar negeri sebesar Rp 696 triliun dan SBN (Surat Berharga Negara) sebesar Rp 2.099 triliun.

Utang yang berasal dari pinjaman luar negeri sebesar Rp 696 triliun berasal dari pinjaman bilateral dari Jepang sebesar Rp 219.6 triliun, Prancis sebesar Rp 24.9 triliun, Jerman sebesar Rp 20.4 triliun, dan negara lainnya sebesar Rp.77.92 triliun.

Kemudian utang Indonesia berasal dari pinjaman dalam bentuk multilateral seperti Bank Dunia sebesar Rp 182,8 triliun, ADB sebesar Rp110,4 triliun, IDB sebesar Rp 7,8 triliun, dan lainnya sebesar Rp 2,6 triliun.

Ada juga pinjaman Indonesia dari Komersial Bank sebesar Rp 46,1 triliun, suppliers sebesar Rp 0,21 triliun, dan pinjaman dalam negeri sebesar Rp 3,3 triliun.

“Sudah jelas, masih banyak utang luar negeri kita ini sangat menganggu kedaulatan negara ini. Tidak punya kemandiri di atas kaki sendiri, sehingga tugas pemerintah setiap tahun hanya mencari utang baru, dan banyak pejabat negara juga tidak ada rasa malu menjadi sales untuk melobi dan mencari utang baru tersebut,” kata Uchok. [PR/L-8]

hutang-luar-negeri1

Angka-angka berbicara. Ini yang saya ingat: Boeng Karno selama pemerintahannya jumlahnya 2.5 (dua setengah) miliar USDollar utangnya dengan nilainya waktu itu, entah berapa  nilai Rupiahnya.

Suharto selama 32 tahun kalau tidak salah 200 miliar USDollar (Saya bisa saja keliru karena dapat ingat hanya dari berita di media. Kemudian dalam Masa Reformasi sekian banyak Presiden dan hasilnya mungkin benar apa kata  Uchok Sky Khadafi – Direktur Centre For Budget Analysis (CBA).

Saya ingat Utang jaman Boeng Karno itu membuat armada pertahanan kita:laut Udara dan Darat menjadi yang terkuat di bagian Selatan Planet Bumi. Irian Barat pun masuk ke dalam pangkuan Bumi Pertiwi. Selanjutnya mungkin pembaca yang mestinya lebih muda usia dari saya ingat apa saja yang membuat utang kita menumpuk seperti itu. Saya malah sudah tidak ingat untuk apa saja utang sejak Suharto sampai yang dibawah Presiden yang sekarang ini. Saya ULANGI: UNTUK APA Utang itu?

Menurut pendapat saya seperti biasanya Presiden-Presiden yang telah mantan ini akan menjawab dengan kata-kata enteng seperti: “Isih enak jamanku, toh? Ddisambung dengan segudang pengalih perhatian. Yang berujung SURGA ILUSI. Beberapa tahun yang lampau saya serukan agar kita tidak mempercayai ungkapan: Masyarakat Yang Adil dan Makmur oleh karena saya belum mengalaminya spanjang hidup saya. Kalau sebagian kecil masyarakat memang mungkin makmur. Sebagian masyarakat kecil ini mungkin juga jumlahnya di bawah sepuluh juta jiwa saja,  mungkin mendapatkan uangnya yang berasal dari utang tadi. Bukankah hanya berbeda dengan huruf t itu saja !!

Beberapa hari yang lalu saya mendengarkan cerita keluh kesah seorang ajudan salah satu Kepala Staff Angkatan Perang kita yang berbintang empat (eh delapan, karena  ada di kedua pundaknya) yang sudah almarhum.

Bila malam hari di Luar Negeri suka begini begitu, yang tidak  dilakukannya di Dalam Negeri. Almarhum suka menerima setumpuk uang tunai yang ratusan ribu bahkan lebih dari satu juta USDollar, sebagai kick back (komisi / suap) pembelian alat-alat perang dari negeri lain. Yang unik sekali adalah perlakuan terhadap ajudan selalu dicampur aduk dengan pran kewajiban seperti pembantu Rumah Tangga biasa tetapi dengan disiplin militer, serta selaku kasir.

Kasir? Iya. Sering membayari keperluan pribadi untuk pembelian makanan burung yang spesial (langka) milik anaknya sang Panglima yang harganya mahal, terpaksa menggunakan uang dari gaji sebagai ajudan. Dan seterusnya kisah menyedihkan dari   sang Panglima yang tidak berperikemanusiaan, sehingga dia akhirnya menolak jabatan itu setelah sekian tahun, dan dijawab dengan memindahkan tempatnya bertugas ke daerah terpencil selama lima tahun sampai almarhum Sang Panglima itu berpindah tempat tinggalnya ke Alam Baka. Saya belum melakukan elaborasi apapun untuk mengetaui apakah “beliau” dimakamkan di Taman Makam Pahlawan? Ya mestinya ya IYA dong. Seperti biasanya kan sesuai “jasa-jasa”nya.

Sudah lama saya tinggalkan rasa dendam dan rasa tidak nyaman sebagai akibat kelakuan banyak pejabat atau malah pegawai rendahan yang menghabiskan uang Negara kita. Apa ada pegawai rendahan biasa dan bisa  seperti itu? Ada kan ada beberapa orang Pegawai Pajak yang telah dihukum penjara akibat diproses oleh KPK, yang kekayaannya luar biasa besar. Besar?

Mungkin sekali juga lebih besar karena penghitungannya saya meragukan telah mmang sempurna dan jujur. Siapa lah yang bisa diyakinkan?

hutang-luar-negeri

Bukankah Narapidana ataukah yang masih berstatus tersangka saja sudah ada yang pernah lolos pergi ke luar negeri dan bisa sekali telah mengatur buka rekening Bank rahasia di sana? Ada yang lolos dan pergi nonton pertandingan Tenis di Bali? Huh!

Jadi bilamana utang Negara kita itu telah terbocorkan dan digunakan oleh para pegawai pemerintah kita selama ini, mengapa anak cucu kita telah diwarisi dengan utang sebanyak Rp. 13 juta per orang. Apa dosa mereka yang keturunan langsung kita itu? Apa benar mereka akan mengalami masyarakat adil dan makmur? Lalu para Yang Mulia yang disebut sebagai Abdi Negara itu atau para “pahlawan” itu memang patut dihormati terus? Biarpun secara Undang-Undang dan secara resmi ke-Negara-an mereka ini dihomati, saya merasa bahwa menghormati seperti itu silakan saja dilakukan seperti selama ini, tetapi saya tidak sudi melakukannya. Saya juga yakin bahwa saya tidak melakukan pelanggaran undang-undang yang manapun. Justru membiarkan yang seperti ini secara sengaja terus menerus tidak sesuai dengan isi inti dari Undang-Undang Dasar Negara. Saya simak ada seseorang yang menuliskan bahwa utang kita itu, bila diangsur dengn kemampuan perekonomian kita seperti sekarang ini, akan mampu dilunasi pada tahun 2050.

Itu 35 tahun lagi.

 

Anwari Doel Arnowo  –  25 Mei, 2015

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.