Menunggu Hujan Reda

Dewi Aichi – Brazil

 

“Hujan malam itu semakin deras. Sudah menjelang jam 6 sore. Jika nekad pulang sekarang juga, pasti hanya terjebak macet. Akhirnya aku memutuskan untuk tetap berada di kantor menunggu hujan reda. Beberapa staf kantor juga masih duduk-duduk sambil saling mengobrol”.

———————

Ada perasaan hangat mengalir ketika mendapatkan kabar bahwa Ardi akan kembali ke Indonesia untuk beberapa saat. Ardi memintaku untuk bertemu akhir pekan ini di tempat pertama kali aku bertemu dengannya. Tiba-tiba rasa rindu itu kembali hadir di hatiku. Sosok Ardi yang 20 tahun lalu nyaris akan menjadi pendamping hidupku. Jujur bahwa rasa cinta itu masih ada. Ardi, seperti apa kau saat ini?.

Suara ombak dan angin yang berhembus semilir menerpa rambutku. Sedikit dingin. Sengaja aku mengambil salah satu tempat yang bisa memandang lepas pantai. Memandangi ombak yang datang dan pergi silih berganti, tempat ini adalah tempat aku dan Ardi saling bertemu ketika itu.

“Yanti!”

Aku menoleh ke arah suara , tapi Ardi keburu mendekapku dari belakang. Lalu dengan sigap Ardi telah duduk di sebelahku sambil tetap melingkarkan tangannya di pundakku. Ardi memang mesra dan hangat. Ia telah membuatku jatuh cinta. Dan cinta itu tetap membara hingga kini. Aku tak bisa menghindar dari sikap mesranya. Aku pasrah. Aku kangen dengan sentuhan-sentuhan hangatnya. Dan kini rasa itu sedang aku nikmati berada di dekat Ardi kembali.

“Yanti, kau masih saja cantik seperti dulu!”

“Dan aku masih mencintaimu Ardi, seperti dulu”

Ardi menggenggam jemari tanganku yang mulai dingin. Aku menatapnya. Tampan, Ardi juga masih tampan, dan lebih berwibawa dengan rambut yang mulai memutih. Namun Ardi tidak kehilangan gairahnya. Masih seperti dulu, selalu bisa menggodaku. Ardi balas menatapku, dan wajah itu semakin dekat dengan wajahku.

Hatiku bergejolak, dan aku tak kuasa lagi menahan keinginan. Ardi mengecupku lembut. Aku jatuh ke dalam pelukan Ardi. Beberapa saat kami saling memeluk erat seakan melampiaskan segala kerinduan yang sekian lama terpendam.

“Ardi, kenapa kau menghubungiku lagi?”

“Entahlah, aku merasa harus menemuimu, sebab aku tak bisa melupakan kenangan yang pernah kita lewati bersama”, 20 tahun sudah berlalu, tapi sosok dirimu masih saja berada di bilik hatiku, Yanti.”

Genggaman tangan Ardi semakin erat. Dan aku semakin larut dalam kemesraannya.

“Akupun demikian Ardi, cintaku padamu yang selama ini ingin kulupakan, justru semakin kuat, semakin ingin kumelupakanmu, semakin dekat bayangmu di benakku”.

Aku bersandar di bahu Ardi sambil memandang laut lepas. Sofa orbit di restoran ini seolah mengerti apa yang ada dipikiranku.

“Ardi, sebaiknya kau pesan minuman dulu sana, kok jadi lupa sih, kan kita belum pesan apa-apa!.

“Ohh..iya ya hehe…sampai lupa, saking kangennya sama kamu Yanti, baiklah kamu mau minum apa?.

“Kamu tau lah Ardi, kita punya minuman spesial di Beach bar ini kan?.

“Yahhh…kirain aja udah ngga ingat Yan….kita kan udah sama-sama tua!.

“Yang tua kamu Ardi, bukan aku”, Yanti menggoda. Kami tertawa bersama.

Dua gelas cocktail telah berada di hadapan kami. Deburan ombak di pantai menambah suasana malam itu semakin hangat dan romantis.

novel hujan reda

—————–

“Tiba-tiba hp di depanku berdering. Aku kaget dan mengambil hp itu. Dari seberang terdengar panggilan.

“Mah, mamah masih di kantor?”

“Iya pah, tadi nunggu hujan, sekalian menghindari macet, masih hujankah?”

“Ngga, ayo turun, sekalian pulang bareng, kebetulan tadi ada meeting dekat kantor mamah, jadi aku bisa tunggu, aku yakin mamah masih di kantor.”

Aku buru-buru menutup novel yang tadi kubaca, dan segera turun untuk menuju tempat di mana suami telah menunggu.”

 

 

About Dewi Aichi

Berasal dari Sleman Jogjakarta, saya blasteran (antar kelurahan maksudnya), happily married to a Brazilian guy. Dari Jogja merambah dunia. Pernikahan lintas benua adalah pilihannya. Setelah beberapa tahun di Distrik Aichi, Jepang, sekarang tinggal di Brazil bersama keluarga tercintanya. Tingkat sudrunnya setara dengan saudara-saudara sepersudrunannya seperti Nur Mberok, Elnino, Fire dan jelas Lani van Kona. Di sini saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, saya hanya sekedar menulis apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang menarik buat saya untuk ditulis. Jika ini bermanfaat untuk diri saya sendiri dan juga untuk teman-teman, saya sangat bersyukur

My Facebook Arsip Artikel Website

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *