Berjumpa Pirlo di Kamp Pengungsi

Gusty Fahik

 

Kepastian pemerintah untuk menerima kehadiran pengungsi Rohingya di Indonesia, dan kepastian Juventus lolos ke final Liga Champion Eropa mungkin dua hal yang amat sangat berbeda. Namun, bagi saya kedua hal ini membangkitkan ingatan akan sesuatu yang pernah saya jumpai dalam proses penelitian demi menyelesaikan tugas kuliah di Kamp Pengungsi Noelbaki, Kabupaten Kupang – Nusa Tenggara Timur. Salah satu pemain yang menjadi kunci keberhasilan Juventus tentu saja adalah Andrea Pirlo, sang jenderal lapangan tengah yang makin berkilau di masa-masa menjelang akhir kariernya. Sosok ini pula yang menjadi kunci bagi saya untuk menarik hubungan antara pengungsi Rohingya dengan ingatan akan pengalaman di Noelbaki.

***

Pertengahan Maret 2015, situasi di terminal bus Noelbaki, Kupang, Nusa Tenggara Timur tidak terlalu ramai seperti terminal lainnya. Hanya satu dua mobil angkutan kota atau bus AKDP yang sekedar lewat tanpa sempat berhenti di terminal ini. Ruang tunggu penumpang justru ramai oleh anak-anak kecil yang menjadikan tempat ini sebagai lahan bermain sehabis sekolah. Di sekeliling kompleks terminal berjejerlah kios-kios kecil dan lapak para pedagang sayur yang juga sepi pembeli. Selebihnya adalah bangunan barak yang dihuni para warga baru, korban peristiwa pengungsian besar-besaran yang terjadi pasca lepasnya Timor Timur dari pangkuan Indonesia pada September 1999 silam.

Terminal Noelbaki

Terminal Noelbaki

Di dalam barak-barak yang terbagi menjadi delapan hingga sepuluh bilik inilah para pengungsi bekas propinsi Timor Timur ditempatkan. Idealnya, setiap bilik dalam barak ditempati oleh satu kepala keluarga, tetapi dalam kenyataan dua sampai tiga kepala keluarga bersama-sama menempati satu bilik, yang berarti jumlah penghuni di dalamnya satu bilik bisa mencapai lebih dari sepuluh orang. Kondisi barak juga jauh dari standar bangunan layak huni. Meski beratap seng, setiap barak hanya berlantai tanah, dengan dinding dari pelepah pohon lontar.

Sejak awal semuanya memang serba terbatas bagi penghuni kamp yang sebagian besarnya adalah petani ini. Ketiadaan hak atas lahan garapan memaksa mereka untuk bisa melakukan pekerjaan apa saja demi mempertahankan hidup. Ada yang memilih menjadi penggarap lahan pertanian milik warga setempat, buruh bangunan, pengojek sepeda motor, sopir, kondektur, tenaga kerja lintas pulau hingga tenaga kerja di Malaysia atau Hongkong.

 

Kisah Pirlo di Noelbaki

Kedatangan saya ke kamp pengungsi ini sebetulnya untuk melakukan penelitian demi menyelesaikan kuliah yang sedang saya tempuh saat ini. Namun di luar dugaan, di kamp ini saya menjumpai sebuah kisah menarik yang cukup mengharukan dari seorang bocah kecil berusia menjelang dua tahun bernama Andrea Pirlo. Bocah kecil ini bukan seorang pengungsi layaknya penghuni kamp yang lain. Ia hanyalah seorang bayi kecil yang ditinggalkan bersama sebuah dot kumal berisi air putih oleh sepasang muda-mudi yang bisa jadi adalah bapak dan ibu kandungnya sendiri.

Kisahnya berawal dari kegelisahan sepasang muda-mudi pada suatu siang di pangkalan ojek Noelbaki. Mereka tidak hanya bedua, sebab sang pemudi ternyata membawa seorang bayi di dalam gendongannya. Para pengojek yang kebanyakan adalah anak-anak muda penghuni kamp pengungsi Noelbaki mengira ketiga sosok ini akan menggunakan jasa ojek untuk pergi ke suatu tempat, mungkin pulang ke rumah. Namun, sejak siang hingga menjelang malam, ketiganya tidak ke mana-mana, hanya bertahan di pangkalan ojek itu. Sesekali pasangan itu berusaha menenangkan sang bayi yang kadang menangis karena kepanasan, atau mungkin kelaparan.

Pirlo bersama Carlos

Pirlo bersama Carlos

Ketika hari telah menjelang malam, dan satu persatu tukang ojek telah kembali ke rumah, ketiga sosok itu kian gelisah. Mereka memilih berjalan ke arah kamp pengungsian. Dalam perjalanannya inilah mereka dihampiri oleh Carlos, tukang ojek yang sejak siang telah memperhatikan kegelisahan pasangan itu bersama bayi yang mereka bawa. Ketika itulah Carlos tahu bahwa ketiganya sedang mencari tempat untuk menginap dan Carlos akhirnya membawa mereka ke rumahnya di kamp pengungsian yang ia tempati bersama keluarga besarnya.

Malamnya, pasangan itu ditanyai oleh pemuka warga setempat tentang status hubungan keduanya dan bayi yang mereka bawa. Keduanya mengaku bukan pasangan suami istri, bukan pula pasangan yang sedang pacaran, meski si pemudi dengan jujur mengakui kalau bayi itu adalah anaknya. “Interogasi” berakhir tanpa kejelasan status hubungan pasangan itu, dan warga penghuni kamp pun kembali ke barak masing-masing untuk beristirahat. Pasangan itu dan bayi yang mereka bawa menginap di rumah milik Carlos.

Rumah yang dihuni Carlos dan keluarga besarnya adalah sebuah rumah berukuran lima kali enam meter persegi, beratap daun alang-alang dan berlantai tanah, yang selalu kebanjiran ketika musim hujan tiba. Ini adalah barak tertua yang tidak pernah direnovasi sejak awal kedatangan Carlos dan keluarganya dari Kabupaten Viqueque, bekas Propinsi Timor Timur enam belas tahun silam. Malam itu, sembian orang penghuni rumah harus berbagi tempat dengan pasangan muda-mudi bersama bayi yang mereka bawa.

Rumah keluarga Carlos

Rumah keluarga Carlos

Keesokan paginya, Carlos dan keluarganya kaget bukan kepalang. Pasangan muda-mudi itu telah menghilang entah ke mana, meninggalkan sang bayi bersama sebuah dot berisi air gula dalam pelukannya. Seluruh penghuni kamp pun tidak ada yang melihat kepergian pasangan itu. Sejak itulah, sang bayi diterima dalam keluarga Carlos, dan dianggap sebagai anak sendiri oleh Carlos dan istrinya. Carlos mengisahkan bahwa si anak sering sakit-sakitan sehingga ia dan keluarganya harus menempuh berbagai cara, untuk dapat menyembuhkan si bayi. Upaya penyembuhan sang bayi dilakukan bersamaan dengan upaya mencari tahu keberadaan pasangan muda-mudi yang menghilang pada pagi-pagi buta itu. Sang bayi akhirnya berhasil dibuat jadi sehat, tetapi ibu kandungnya tidak pernah berhasil diketahui keberadaannya.

Kini, dua tahun telah berlalu, dan anak itu tumbuh bersama anak-anak lain dalam aneka kesederhanaan dan keterbatasan di kamp pengungsi Noelbaki. Carlos memberi nama bayi itu Andrea Pirlo, mungkin dengan harapan kelak akan menjadi pemain sepak bola hebat seperti Pirlo miliknya Juventus.

Ketika saya bertanya kepada Carlos, apa yang membuat dia berani menerima bocah Pirlo dalam keluarganya sementara mereka sendiri tengah berada salam kondisi yang serba berkekurangan. Ia menjawab, “saya kasihan saja dengan anak kecil ini, kalau bukan kami yang selamatkan dia kira-kira mau kasih ke mana? Kami ini pengungsi, mungkin Indonesia tidak mengakui kalau kami ini ada, tidak ada lagi bantuan dari pemerintah untuk kami, tetapi kami masih bisa bertahan hidup. Anak ini juga begitu, dia punya orangtua tidak mau terima dia, biar kami yang terima saja, tidak apa-apa.”

 

Pengungsian dan Solidaritas

Kisah yang saya temui di Noelbaki ini membuka mata saya untuk melihat bahwa pengalaman sebagai pengungsi ternyata mampu membangkitkan solidaritas dan empati terhadap orang lain yang memiliki pengalaman serupa; terbuang, ditinggalkan, tidak diakui, bahkan tidak diinginkan kehadirannya. Pengalaman penderitaan membuat orang menjadi lebih peka terhadap kehadiran yang lain, dan lebih cepat tergerak untuk menolong mereka yang bernasib serupa atau yang lebih buruk.

Tanpa bermaksud untuk membuat perbandingan atau berpikiran buruk tentang orang lain, tetapi saya sempat berandai-andai, kalau saja si bayi ditinggalkan di depan rumah orang lain, apakah ia akan diterima dan dipelihara layaknya anak sendiri, atau jangan sampai ia langsung dibawa ke panti asuhan, diserahkan ke kantor polisi, atau menjadi bahan liputan media massa atau perbincangan di media sosial? Hal demikian tidak terjadi dengan sosok Pirlo di kamp pengungsi Noelbaki. Ia diterima oleh Carlos dan keluarganya dengan tulus dalam kesederhanaan, tanpa tendensi menjadi pahlawan yang perlu digembar-gemborkan di media massa atau media sosial untuk mendulang simpati atau menuai pujian.

Anak-anak pengungsi di Noellbaki

Anak-anak pengungsi di Noellbaki

Kisah Pirlo dan kebernian Carlos untuk menerimanya di kamp pengungsi mungkin menjadi sesuatu yang aneh. Status Carlos sebagai warga baru (sebuah sebutan untuk warga bekas Propinsi Timor Timur, setelah pemerintah menghapus status mereka sebagai pengungsi) rasanya tidak mungkin untuk membuat dia berani menerima kehadiran orang lain dalam rumahnya. Namun, justru yang tidak mungkin dalam pandangan orang inilah yang justru dilakukan Carlos. Ia menunjukkan bahwa sekalipun berstatus warga baru atau bekas pengungsi, tetapi ia adalah subjek yang mampu melakukan sesuatu untuk hidupnya dan untuk orang lain. Ia tidak selalu harus ditempatkan sebagai objek yang tidak bisa berbuat apa-aoa selain menggantungkan hidupnya pada bantuan pemerintah atau pihak lain.

Dari pengungsi saya belajar bagaimana menghadapi situasi sulit, berhadapan dengan kondisi yang tidak menguntungkan dan berdamai dengan masa lalu yang kelam. Maka ketika membaca dan mendengar berita tentang kepastian pemerintah menerima pengungsi Rohingya di Indonesia, saya teringat akan nilai-nilai di balik penderitaan mereka yang dianggap sebagai korban situasi. Mereka juga mesti dilihat sebagai subjek yang darinya bangsa ini dapat belajar berbagai nilai, terutama solidaritas dan empati terhadap sesama.

Perjumpaan dengan pengungsi adalah perjumpaan dengan subjek-subjek yang mengalami sesuatu yang mungkin tidak pernah mereka inginkan untuk dialami. Namun, dari mereka bangsa ini dapat belajar untuk menghadapi masa-masa sulit dan bagaimana mempertaruhkan hidup di tengah segala ketidakpastian tanpa harus kehilangan solidaritas dan cinta kasih terhadap sesama. Mengutip kata-kata Friedrich Schiller (1759-1805), sang penyair Jerman, hidup yang tidak dipertarukan, tidak akan pernah dimenangkan?*

 

Catatan:

Kisah Andrea Pirlo adalah kisah nyata yang terjadi di kamp pengungsian Noelbaki, tetapi karena beberapa alasan nama keluarga yang menerima dan merawat Andrea Pirlo sengaja saya samarkan dengan nama Carlos.

 

Note Redaksi:

Gusty Fahik, selamat datang dan selamat bergabung di BALTYRA. Semoga betah dan kerasan ya…ditunggu artikel-artikel lainnya. Artikel pertama yang sangat menyentuh!

 

 

About Gusty Fahik

Gusty Fahik, lahir dan besar di Atambua, NTT. Sewaktu SMP tahun 1999 menjadi saksi gelombang pengungsian warga Timor Timur (kini Timor Leste) ke Atambua, dan kota-kota lain di wilayah Timor Barat. Kini tinggal di Yogyakarta untuk menyelesaikan kuliah di Universitas Gadjah Mada, di Prodi Kajian Budaya dan Media, Sekolah Pascasarjana, UGM-Yogyakarta.

My Facebook Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.