Bencana itu Tidak Memilih

Dwi Isti

 

Pagi itu di sebuah panti rehabilitasi korban narkoba, yang berlokasi di sekitar Kalasan DIY, para pembina panti terlihat sangat panik, seorang binaan mereka bernama Teguh (bukan nama sebenarnya) ternyata telah melarikan diri tadi malam. Dan ini adalah pelariannya untuk yang ke 5 kali sejak pertama kali Teguh dititipkan di panti itu untuk menjalani rehabilitasi.

Teguh pertama kali diantarkan oleh beberapa petugas kepolisian yang menangkapnya karena melakukan pencurian di rumah warga, dan hasil curiannya itu dijual untuk membeli narkoba jenis shabu-shabu. Namun karena si Teguh masih di bawah umur, dia tidak menjalani proses pengadilan melainkan menjalani rehabilitasi.

drugs

Teguh hanya kerasan 2 minggu ketika pertama kali dimasukkan panti, dia melarikan diri dengan melompati tembok panti yang tinggi, lalu lari entah ke mana. Dua bulan setelah pelariannya, Teguh diantar lagi untuk dibina di Panti ini, kali ini yang membawanya lagi adalah beberapa petugas kepolisian, dengan informasi bahwa si Teguh baru saja membacok tetangga nya untuk merampas HP dan perhiasan. Dan kejadian itu berulang hingga 5 kali ini, dan setiap kali tertangkap kejahatan Teguh selalu lebih sadis dan lebih lihai dari sebelumnya.

Anda tahu berapa usia Teguh saat ini? Dan pada umur berapa dia pertama kali mengkonsumsi dan akhirnya kecanduan narkoba? Teguh saat terakhir melarikan diri, usianya baru 10 tahun, dia pertama kali mengkonsumsi narkoba dan akhirnya kecanduan di usia 7 tahun, bayangkan…….anak sekecil itu sudah berkenalan dengan racun yang begitu ganas…bagaimana itu terjadi?

Rupanya, latar belakang ekonomi keluarga yang minim mengharuskan keluarga Teguh tidak bisa berkumpul, ibunya menjadi TKW dan ayahnya seorang kenek bis antar kota, Teguh harus menghabiskan waktunya di terminal. Bila ayahnya sedang jalan dengan bis yang dikeneki, Teguh diasuh oleh teman-teman ayahnya yang biasa hidup di terminal itu, rupanya …mereka sudah terbiasa mencoba-coba barang haram ini..dan dengan alasan iseng, mereka mencoba mengajarkan kebiasaan itu kepada Teguh…hingga akhirnya seperti saat ini.

Kisah ini bukan sekedar cerpen, ini adalah sebuah kisah nyata, dari sebuah Panti Rehabilitasi Narkoba. Dan Kisah setragis Teguh ini bukan hanya satu atau dua yang mengalami, ada puluhan, ratusan bahkan ribuan lagi….Bagi anda yang memiliki keluarga bahagia, serba cukup secara materi dan mungkin pula memiliki latar belakang religius, sekali-kali jangan pernah anda berpikir bahwa bahaya narkoba sangatlah jauh dari keluarga anda….bisa jadi kita merasa aman karena mencoba mengisolasi diri dari lingkungan yang rawan dengan narkoba, tapi ternyata narkoba pun sudah mulai mendatangi rumah-rumah kita dalam bentuk kue-kue, snack yang dijual (berita terbaru), jajanan anak-anak di sekolah, atau bisa jadi dari orang-orang dekat kita sendiri yang juga tidak menyadari apa itu narkoba, bagaimana bentuknya, apa tanda-tanda efek nya? Dll…

Akan lebih bijak bila kita juga mulai mengumpulkan informasi-informasi yang penting untuk menjaga keluarga dan orang-orang yang kita sayangi dari bahaya ini. Dengan mata kepala sendiri saya melihat begitu luar biasanya efek dari narkoba …..rasanya pernyataan “darurat narkoba” tidaklah berlebihan……menurut saya……tanpa mengeliminasi darurat lainnya entah ‘darurat korupsi’ atau ‘darurat hukum dan darurat-darurat lainnya.

 

 

About Dwi Isti

Seorang penulis lepas yang berasal dari Surabaya dan sekarang tinggal di Jogja.

My Facebook Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.