Beras Tekad, Setengah Nekat

Djenar Lonthang Sumirang

 

Beras sintetis pernah dicoba diproduksi. Kurangnya riset dan skandal korupsi menyebabkan proyek ini tak jelas muaranya.

Beberapa pekan terakhir, beras plastik ramai diperbincangkan. Ada yang bilang beras plastik ini diimpor dari negara lain. Ada pula yang bilang, ini adalah upaya kartel beras menjungkalkan pedagang-pedagang kecil.

Ya, pasar adalah palagan perang sebenar-benarnya.

Namun ada yang diuntungkan juga. Masyarakat di desa lebih percaya membeli beras kepada petani, langsung diambil dari lumbungnya. Sejahteralah kaum tani!

Rame-rame soal beras, bukan kali ini saja terjadi. Saat Orde Baru baru seumur jagung, persoalan beras sudah menjadi buah bibir. Beras tekad namanya. Akronim dari tela (ubi jalar), kacang dan djagung (ejaan lama dari jagung). Beras tekad ini berasal dari ubi jalar, kacang dan jagung yang ditumbuk, lalu digiling sehingga mirip dengan beras.

Satu waktu, di masa awal Orde Baru, Emil Salim –salah satu anggota Mafia Barkeley- diundang Soeharto untuk berdiskusi tentang pentingnya memperkenalkan beras sintetis kepada masyarakat. Emil menolak usul tersebut. Menurutnya, seperti ditulis Thee Kian Wee dalam Recollections: The Indonesian Economy, 1950’s-1990’s, beras sintetis tidak berhasil di beberapa negara. Sebab, yang mengambil keuntungan hanyalah penjual dari mesin-mesinnya saja yang pandai melobi.

‘Si Jendral Senyum’ pun nekat melempar beras tekad ke masyarakat.

Beras tekad, yang muncul sekira tahun 1968, merupakan sumber makanan non beras yang ditetapkan oleh pemerintah, di samping bulgur dan terigu. Penyediaan beras dalam negeri pada tahun 1968 hingga tiga bulan bulan pertama 1969 sebesar 1,5 juta ton, terdiri dari 600.000 ton produk dalam negeri, 600.000 impor dan 300.000 sisa persediaan 1967.

“Sedangkan produksi dalam negeri dari bahan pangan pengganti beras, jaitu beras tekad telah mulai dilakukan setjara besar-besaran oleh pabrik-pabrik beras tekad di Bandung dan Jogjakarta…. Dalam hubungan ini saja menjerukan kepada seluruh masjarakat untuk bersiap-siap menggunakan djuga tepung, bulgur dan beras tekad sebagai bahan pangan di samping beras,” ujar Soeharto seperti terekam dalam Pidato Kenegaraan Presiden RI Djenderal Soeharto didepan Sidang DPR-GR 16 Agustus 1968.

Sejak tahun 1967, pemerintah telah menginvestasikan hingga 5 miliar melalui dana dari Bank Negara. Badan Urusan Logistik, atau Bulog yang berdiri 1967, pun menunjuk swasta untuk mengurusi produksi beras tekad, yaitu PT. Mantrust.

Mantrust pun berhasil mendapatkan dana pinjaman dari pemerintah sebesar Rp. 2,6 miliar, untuk menjalankan produksi beras tekad ini. Pabriknya dibangun di Bandung dan di Yogyakarta, seperti pabrik GKBI (Gabungan Koperasi Batik Indonesia) Medari yang disulap menjadi pabrik beras tekad.

Rupanya, proyek pengadaan beras ini tanpa didahului riset dan perencanaan yang matang. Akibatnya, harga produk tersebut meningkat terlalu cepat dan pasokan tidak cukup.

Pemerintah seperti menelan buah simalakama dalam proyek ini. Maju terus melakukan produksi dengan menggelontorkan subsidi kepada produsen atau berhenti produksi dengan kerugian materi dan pengetahuan tentang beras sintetis.

Sedari awal, penunjukan PT. Mantrust menjadi rekanan Bulog untuk memproduksi beras tekad adalah karena kedekatan antar kedua pimpinannya. Ahmad Tirtosudiro, ketua Bulog pertama, adalah rekan dekat Tan Kion Liep atau Teguh Sutantyo. Perusahaan ini, tulis Richard Borsuk dalam Liem Sioe Liong’s Salim Group: The Business Pillar of Suharto’s Indonesia, kemudian dikenal sebagai rekanan tentara untuk penyuplai makanan prajurit.

Kasak-kusuk penggelapan uang negara dalam proyek beras tekad pun diendus harian Indonesia Raya –di bawah komando Mochtar Lubis- waktu itu. Pada bulan Agustus dan September 1969, skandal Mantrust menjadi berita.

Besarnya gelontoran dana dari pemerintah dituding tak sebanding dengan jumlah produksi yang dikeluarkan, dan permasalahan soal pembangunan pabrik dan pengadaan mesin-mesin pembuat beras tekad.

Hingga hari ini, tak banyak yang ingat tentang bentuk atau bahkan rasa dari beras tekad ini. Popularitasnya kalah dengan bulgur yang juga marak dikonsumsi tahun 1970-an. Ada yang bilang warnanya putih layaknya beras yang di-slip/disosoh dari gabah; lalu bentuknya mirip segitiga. Dan kabarnya, kalau tidak segera disantap hingga setengah hari maka lembek seperti bubur kental .*

 

Tulisan untuk melengkapi artikel Ary Hana tentang Plastik, Makanan dan Kearifan Lokal, yang dimuat Baltyra 22 Mei 2015.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.