Why I Stand with LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual and Transgender)

Louisa Hartono

 

(Pengantar: Tulisan ini sebenarnya dibuat sudah 1,5 tahun yang lalu. Cuma saat saya sedang buka-buka file lama, saya melihat kembali tulisan ini, dan setelah saya cek di Baltyra, ternyata belum pernah saya kirimkan. Tanpa bermaksud membuat rusuh atau niat jelek apapun, saya kirimkan kembali tulisan ini, sepenuhnya berdasarkan opini pribadi, juga karena termotivasi oleh beberapa kejadian yang saya saksikan akhir-akhir ini).

LGBT

Beberapa bulan yang lalu, saya membaca artikel di Baltyra yang beropini mengapa sang penulis tidak suka homo. Membaca artikel itu, saya langsung tertarik untuk mengeluarkan opini dan argumen saya berdasarkan ilmu yang saya dapatkan dari kelas Gender and Human Rights di institusi saya belajar di Geneva, juga dari pengalaman saya bersama teman-teman homo yang banyak saya jumpai, baik saat saya berada di Indonesia maupun di luar Indonesia.

Berikutnya saya akan menyebut kata “homo” dengan frasa “LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender)” untuk mencakup mereka yang seksualitasnya tidak termasuk dalam kategori heteronormativity atau definisi seksualitas menurut orang kebanyakan, terutama dalam konteks Indonesia. (Namun demikian, saya akan beralih menggunakan kata “homo”, tergantung konotasi dan rasa lebih enak pake istilah yang mana hehe). Saya berharap agar dari pandangan yang saya ungkapkan di artikel ini, para pembaca boleh mendapat pengetahuan yang lebih luas dan lebih dalam serta bisa memandang isu LGBT dari sisi lain.

Pertama-tama, saya merasa bahwa artikel yang ditulis oleh saudara kita itu terasa memojokkan kaum homo. Dari awal artikel sudah ditulis bahwa homo itu dari desainnya sudah tidak cocok. Walaupun saya orang hetero, tetapi saya merasa bahwa artikel tersebut seolah menempatkan LGBT sebagai sampah masyarakat, yang “cukup tiarap aja, pacaran backstreet, masang foto-foto cabul di socmed, cari teman di socmed, dan siap-siap mendapat verbal abuse dari seorang anti homo seperti saya.” (Read more: http://baltyra.com/2013/09/12/kenapa-saya-tidak-suka-homo/#ixzz2oO9DR0yn).

Menyadari bahwa seseorang memiliki kelainan seksual dari mainstream kebanyakan bukanlah sesuatu yang mudah. Jangankan di Indonesia, di negara-negara Barat yang masyarakatnya relative lebih bebas dan individualis, kaum LGBT masih berjuang keras agar keberadaan mereka diterima dan hak-hak mereka diakui. Apalagi di Indonesia, dimana kultur masyarakat dan agamanya masih kuat berjalan. Sudah homo, di Indonesia pula. Ada persetujuan implisit bahwa menjadi homo di Indonesia itu dilarang. Lagi-lagi, jangankan di luar Jawa. Di kota besar seperti Jakarta, Yogyakarta, Bandung atau tempat wisata internasional seperti Bali saja, tidak semua orang mudah menerima kenyataan bahwa teman atau anggota keluarga mereka homo.

Menanggapi artikel tersebut, saya tertarik untuk menulis pandangan dan posisi saya terhadap isu LGBT ini. Opini saya terhadap isu sesensitif isu homosexual tidak bisa lepas dari kepercayaan dan nilai-nilai yang saya anut. Saya seorang Kristen dan saya mempercayai apa yang tertulis dalam Alkitab sebagai kebenaran. Apa yang saya kemukakan dalam paragraf berikutnya merupakan hasil perenungan dan pencarian saya yang mendalam, baik saat saya membolak-balik Alkitab, diskusi dan berdebat dengan teman-teman, termasuk saat saya bertengkar dengan teman dekat gay saya.

Pertama-tama, saya percaya bahwa orang LGBT sama normalnya dengan orang-orang heteroseksual (saya menggunakan kata “hetero” atau “heteroseksual” karena penggunaan kata “normal” secara implisit menyatakan bahwa orang homo itu tidak normal). Mereka mempunyai kapasitas yang sama dengan orang-orang hetero: untuk berpikir, bekerja, berkarya, maupun untuk bersahabat dengan dan mencintai orang lain.

Menjadi seorang homosexual tidak berarti bahwa orang tersebut lebih rendah derajatnya atau lebih hina daripada orang hetero sehingga ia menjadi kurang layak untuk dicintai atau diterima. Mereka juga mempunyai hak asasi yang sama untuk dihormati. Hanya karena mereka mempunyai orientasi seksual yang berbeda, tidak berarti bahwa mereka layak untuk diperlakukan berbeda, seperti misalnya ditolak untuk bekerja, mendapat perawatan di rumah sakit, konseling rohani atau spiritual, atau fasilitas sosial lainnya hanya karena mereka homo!

Saya punya teman-teman LGBT dan mereka orang-orang yang baik, sama asyiknya dengan berteman dengan orang-orang hetero. Justru dari mereka saya bisa mengerti dan belajar lebih dalam mengenai pergumulan yang mereka alami setiap harinya dan mendapatkan perspektif yang lebih luas mengenai dunia mereka.

Kedua, pandangan masyarakat pada umumnya mengenai orang homo membuat homoseksualitas seolah-olah dosa yang paling hina, paling buruk, dan paling besar yang membuat “pelaku”nya harus segera dipertobatkan. Steretotype terhadap kaum LGBT secara tidak langsung menenggelamkan perilaku menyimpang seksual lainnya, seperti bestiality, incest, paedophillia, necrophilia, dan isu-isu kekerasan lainnya seperti KDRT. Saya tidak mengatakan bahwa homoseksual lantas merupakan dosa yang paling ringan dibanding dosa-dosa lain. Mau besar atau kecil, yang namanya dosa ya tetap dosa di mata Allah. Berbohong sama buruknya dengan membunuh, mencuri sama buruknya dengan berzina. Hanya saja cara masyarakat menempatkan LGBT membuat mereka tampak sebagai kaum yang harus segera di-ekskomunikasikan.

Dahulu saya berpikir bahwa orang homo pasti mempunyai masalah dalam keluarganya, terutama pernah diabuse secara seksual. Ternyata, anggapan ini tidak sepenuhnya benar. Saya sangat shock saat mengetahui, membaca atau mendengar orang homo tetapi dia tidak pernah mengalami pelecehan atau trauma seksual di masa kecilnya.

Beberapa kasus bahkan menyebut bahwa ada orang-orang LGBT yang berasal dari keluarga Kristen yang taat. Kemudian, ada yang mengatakan faktor genetik juga berpengaruh dalam homoseksualitas. Tapi saya tidak percaya akan hal ini, karena kalau begitu, asumsinya salah satu atau kedua orangtua dari orang homo adalah orang homo juga, dan pasangan homo juga akan melahirkan anak-anak yang homoseksualitas pula. Namun kenyataannya tidak seperti itu, karena banyak orang homo yang lahir dari keluarga normal, dan anak-anak yang dibesarkan oleh pasangan LGBT juga tumbuh menjadi orang-orang hetero. (Masalah mengenai apakah pasangan LGBT diperbolehkan untuk mengadopsi anak atau tidak adalah di luar konteks tulisan ini).

Saya juga tidak setuju bila dikatakan bahwa homoseksual digolongkan sebagai suatu penyakit, walaupun saya percaya bahwa homoseksual juga bisa sembuh dan menjadi orang hetero (untuk lebih lanjutnya bisa baca di link ini: www.christopheryuan.com). Yang saya maksud sebagai hal ini adalah penyakit yang harus segera ditangani, disembuhkan, dikarantina, dikonseling atau apapun yang membutuhkan campur tangan manusia.

Menjadi orang homo sama sekali bukan hal yang mudah, dan ini merupakan pergumulan setiap harinya bagi mereka. Hal ini adalah urusan sensitif dan pribadi antara pribadi yang bersangkutan dengan Penciptanya. Dalam keyakinan saya sebagai pemeluk agama Kristen, masalah apakah orang LGBT bisa kembali menjadi hetero sepenuhnya bergantung pada otoritas dan kehendak Tuhan yang bisa meng-convict orang yang bersangkutan melalui Roh KudusNya.

Mengapa orang bisa jadi homo, apakah karena faktor genetis, penyakit atau trauma di masa lalu, saya tidak tahu. Yang saya mengerti adalah bahwa orang LGBT telah cukup dihakimi. Mereka sadar sesadar-sadarnya bahwa mereka berbeda dari yang lain, tanpa harus dituding-tuding dan diingatkan kembali bahwa mereka berbeda oleh orang lain. Terlebih bila mereka dikatakan menyimpang dan tidak lagi dicintai karena perbedaan seksualitas mereka tersebut.

Umpamanya seperti orang yang kidal, mereka mengerti bahwa mereka berbeda karena mereka menulis dengan tangan kiri dan bukan dengan tangan kanan (terutama dalam persepsi masyarakat Indonesia yang menganggap tangan kiri adalah “tangan jelek”). Analogi ini memang tidak seberapa dibanding dengan apa yang dialami orang LGBT, tapi intinya, mereka merasa terasing hanya karena mereka berbeda. Saya rasa tahap yang paling menantang dan menakutkan bagi mereka adalah the coming out process, yaitu masa dimana mereka akhirnya mengakui kepada keluarga (dan/atau teman-teman hetero mereka) bahwa mereka gay.

Butuh keberanian dan kesiapan mental yang besar bagi orang yang bersangkutan untuk bisa “keluar” dan menceritakan hal ini kepada orang tua. Dalam konteks Indonesia, hal ini tidak selalu diterima dengan mudah. Ada cerita dimana sang anak diusir dari rumah atau tidak diakui lagi sebagai anak oleh orang tuanya.

Sebagai penutup, saya ingin menegaskan bahwa apa yang dibutuhkan orang LGBT adalah penerimaan dan cinta, penghakiman. Bukanlah tugas dan urusan kita untuk menghakimi. Jika Paus Fransiskus saja bisa berkata, “Who am I to judge gay people?”, maka siapakah kita yang bisa menghakimi mereka? Kita tidak lebih benar daripada mereka, dan saya tidak yakin juga bahwa Tuhan yang kita sembah merasa senang dengan kelakuan kita. Andai Tuhan Yesus ada di sini, saya yakin bahwa Dia akan berteman dengan orang-orang LGBT ini, sama halnya ketika Dia datang lebih dari 2000 tahun silam dan berteman dengan para pelacur, pemungut cukai, pezinah, dan orang kusta. Tuhan tidak melihat hanya identitas seksual mereka saja atau mereka sebagai orang homo, Ia melihat mereka sebagai manusia, yang diciptakan serupa dengan gambarNya, dan sebagai manusia seutuhnya dan sepenuhnya. Teladan yang telah Tuhan berikan itulah yang wajib kita teladani. Orang LGBT memerlukan penerimaan dan pengertian dari kita, bukannya permusuhan maupun verbal abuse.

 

 

About Louisa Hartono

Nonik – cewek kelahiran Semarang dan besar di Purworejo. Setelah menamatkan studi masternya di Swiss, dia kembali ke Indonesia. Saat ini bekerja sebagai CSR Field Coordinator & Donor Liaison Officer di salah satu perusahaan ternama di Surabaya. Hobinya masih sama: jalan-jalan, membaca, dan belajar bahasa asing. Walaupun tulisannya banyak mengkritik Indonesia, tapi mimpi dan hatinya tetap bagi Indonesia. Suatu saat ingin bisa kerja di UNESCO sambil membawa nama Indonesia di kancah internasional, lalu pulang dan bikin perpustakaan dan learning center di Purworejo, kampung halamannya.

My Facebook Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.