[Mangole] Guncangan Dahsyat

Imam Dairoby

 

Surat yang di berikan mbak Rahma ku amati dengan seksama, tertera dalam surat tersebut aku harus segera pindah dari mess Dharmaputra ke mess Jendral Sudirman sesuai dengan jabatan baru yang ku dapat.

Tak masalah sebenarnya bagi diriku dimana aku akan tinggal. Aku bisa dengan nyaman tergeletak dimana saja. Tapi tak apalah sesekali menikmati fasilitas yang lebih baik yang diberikan oleh perusahaan, itu berarti mereka menghargai sumbangsih ku di tempat kerja.

Ruangan besar dengan fasilitas Air Conditioner rasanya memang terlalu mewah buatku. Dan kamar ini harus ku tempati sendiri. Barang-barangku aku angkuti sendiri dari kamar mess sebelumnya.

Sepulang kerja aku merebahkan diri di atas tempat tidurku, ku nyalakan televisi yang banyak menyiarkan sinetron. Aku tak begitu menyukai sinetron sebenarnya tetapi entah mengapa aku tak beranjak dari chanel televisi yang sejak tadi menayangkan sinetron.

Aku membuka kaosku karena kegerahan padahal AC dalam kamar telah kunyalakan. Aku berpindah tidur di lantai agar badanku terasa sejuk, sepertinya AC di kamarku ada yang tak beres. Besok aku akan laporkan ke bagian service agar diperbaiki.

Sinetron Misteri Gunung Merapi baru saja usai, dan berganti dengan siaran langsung sepak bola salah satu liga di Eropa. Mataku sudah tak bisa diajak kompromi. Mulutku mulai menguap berkali-kali, kumatikan televisi dan aku memeriksa pintu kamarku.

Setelah menguncinya, aku tetap membiarkan kunci pintu tergantung padahal biasanya aku akan mengambil dan meletakkan kunci diatas tempat tidurku. Ku rebahkan tubuh letihku diatas kasur dan mulai terlelap.

Bunyi itu membangunkanku bersama getaran yang agak keras. Awalnya ku pikir salah satu alat berat melintas di belakang mess dan membuat suara berisik dan getar. Tetapi suara itu makin jelas dan getarannya makin keras, ya Allah ini gempa……..!!!!

Listrik tiba-tiba padam seiring suara berisik makin terdengar dan goncangan makin keras. Suara dentuman bangunan yang roboh dan derak semakin keras terdengar. Aku memicingkan mata sambil meraba-raba karena suasana gelap dan sangat mencekam.

gempabumi

Aku beranjak menuju pintu dan mencoba meraih pegangan pintu. Tetapi goncangan itu membuat aku terpental dan kepalaku membentur dinding kamar. Lampu mess tiba-tiba padam seiring dengan terdengar teriakan-teriakan di luar kamar. Suasana gaduh semakin membuat diriku berusaha meraih pegangan pintu. Kali ini aku berhasil dan aku berusaha memutar anak kunci untuk membuka pintu.

Usahaku membuka pintu dengan melawan goncangan berhasil dan membawaku terlempar keluar kamar

“Semua keluar, ke taman dan tiarap!” sebuah suara keras memberi kami arahan.

Aku segera melemparkan tubuhku ke tengah taman yang ditumbuhi rerumputan. Tak ku ingat lagi apa dan siapa yang ku tabrak di taman tersebut, yang ada adalah ketakutan yang demikian hebat karena goncangan semakin dahsyat.

Ya Allah apakah ini yang dinamakan kiamat? Aku menengadahkan ke atas terlihat kabel listrik berayun bagaikan permainan temali anak-anak demikian pula pohon kelapa yang menjulur ke langit seakan kayu rotan yang dimainkan ke kanan dan ke kiri.

Aku masih tiarap ketika getaran semakin melemah, di sekelilingku beberapa orang mengucap nama Tuhan mereka masing-masing. Tak lama berselang dalam kegelapan dan kekalutan sayup-sayup terdengar suara gemuruh dari arah laut.

“Air naik….air naik…….ayo semua ke bukit……ayo semua ke bukit” suara itu terdengar lagi entah darimana asalnya.

Tak sempat aku mengemasi barangku dalam kamar, hanya ku ambil sarungku dan berlari menuju arah pintu masuk Mess. Aku berpapasan dengan beberapa orang lain yang semuanya diliputi wajah ketakutan.

Keluar dari Mess yang ku dapati adalah runtuhnya semua koridor penghubung antar mess. Semua telah rata dengan tanah. Bunyi sirine dari mobil satuan pengamanan membuat suasana tambah mencekam.

Masya Allah, bagaimana nasib teman-temanku yang sedang kerja malam, aku bergabung bersama beberapa staff lain untuk melihat keadaan dalam pabrik. Sesampainya di pintu masuk pabrik kami tak diperbolehkan masuk karena kondisi bangunan sangat tidak stabil.

Aku masih melihat orang-orang berlarian dari dalam pabrik, dan mereka berkumpul di lapangan bola dekat pabrik. Beberapa mobil hilir mudik masuk ke dalam pabrik ketika getaran sudah melemah. Mereka mengeluarkan beberapa orang yang meninggal dan terluka akibat tertimpa bangunan yang roboh.

Belum sempat aku mencari teman-temanku peringatan tentang adanya tsunami membuat kami kembali bergerak ke arah perbukitan. Mencari tempat yang tinggi untuk menyelamatkan diri.

Suasana panik kembali melanda, penduduk lokal di tepi pantai juga mulai memadati perbukitan yang terdapat stasiun bumi kecil dan beberapa mess untuk top management. Tak ada rasa kantuk lagi walau jam sekarang menunjukan sekitar jam 2 dini hari. Suasana kompleks pabrik dan desa Falabisahaya seakan buncah dengan kepanikan.

Tsunami atau air naik yang kami takutkan ternyata tak melanda tempat kami, air laut memang naik tetapi hanya beberapa centimeter saja. Kami pun disarankan kembali ke tempat kami masing-masing untuk menjaga agar tak terjadi hal-hal lain yang tak diinginkan, karena biasanya dalam situasi kacau seperti ini ada saja manusia yang bertabiat jahat memanfaatkan situasi.

Suasana sedikit tenang walau ada beberapa goncangan kecil susulan. Perasaan trauma dan di hantui akan goncangan hebat beberapa saat tadi masih menggelayutiku. Tetapi aku harus kembali ke kamarku, setidaknya aku masih butuh istirahat karena esok hari pasti banyak yang akan dikerjakan.

Lampu sudah kembali menyala, petugas kesehatan dan satuan pengamanan terlihat hilir mudik. Aku tak tahu pasti berapa yang menjadi korban, sebelum kembali ke kamarku aku bersama beberapa teman mengunjungi poliklinik dan membantu sebisa kami menolong beberapa korban.

Beberapa tubuh tak bernyawa tergeletak di pelataran poliklinik, sementara yang luka-luka dibawa di Gedung Olah Raga karena Poliklinik sudah tak muat lagi menampung korban. Rasanya sangat sedih melihat beberapa teman kami yang terluka dan meninggal dunia.

Sedih, capek, ngantuk dan ketakutan menyatu kala aku kembali ke mess ku. Lebih baik aku isirahat saja dulu sebab esok pagi akan banyak kegiatan yang akan dilakukan. Kegiatan yang bakal menguras tenaga dan mungkin juga air mata.

Guncangan-guncangan kecil masih aja terjadi keesokan harinya. Intensitas guncangan masih sering tetapi makin lama makin mengecil. Beberapa bagian pabrik ada yang roboh sehingga praktis kegiatan produksi tak bisa berjalan. Kegiatan kami sehari-hari hanyalah membersihkan puing-puing akibat gempa.

Semakin hari dengan tak adanya kegiatan membuat isu Pemutusan Hubungan Kerja sepihak merebak. Isu tersebut membuat berbagai aksi dilakukan oleh karyawan. Apalagi dengan suhu politik tahun itu memuncak setelah lengsernya penguasa yang telah berkuasa selama 32 tahun. Teriakan reformasi membahana di mana-mana apalagi tempat kami bekerja adalah milik dari orang yang dekat dengan penguasa waktu itu.

Suasana semakin hari semakin panas, aku coba menimbang-nimbang bagaimana jikalau aku mengundurkan diri. Dalam usiaku yang ke 27 rasanya masih mudah untuk mencari pekerjaan lain walau harus memulai dari awal.

Gesekan demi gesekan, isu demi isu, politik yang memanas di timpali dengan provokasi dari berbagai arah membuatku berpikir suatu saat akan terjadi sesuatu yang mengerikan di daerah ini. Konflik pastinya akan terjadi dan bisa jadi menimbulkan korban dimana-mana.

Setelah berembuk dengan kekasihku, calon mertuaku serta ibu di Manado dan kakak-kakak ku akhirnya tekad bulat aku akan mengundurkan diri dan pergi dari Pulau Mangole. Pulau yang selama hampir 6 tahun memberikan begitu banyak pelajaran dan pengalaman hidup.

 

 

3 Comments to "[Mangole] Guncangan Dahsyat"

  1. Billy  7 August, 2018 at 13:58

    Lihat Berita Lombok, jadi ingat waktu gempa Mangole..
    Saat gempa, kirain udah mau kiamat..
    Saat itu baru keluar dari halaman Gereja GPdI Filadelfia tiba2 gempa, bahkan menara gereja ambruk..
    Tapi puji Tuhan, Tuhan masih memberi keselamatan.

  2. Mas Im  24 August, 2015 at 07:07

    gempa tersebut terjadi bulan november 1998……..

  3. bimo  22 August, 2015 at 22:50

    gempa itu tahun berapa ya? saya lupa soalnya waktu itu masih kecil

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.