Bianglala di Batas Harap

Rini Garini Darsodo (Bunda Riga Magistra)

 

Malam semakin larut, namun mata Ranti belum benar-benar terpejam dalam tidur yang pulas. Pikirannya selalu mengajak matanya terbuka karena terlalu penuh dengan keinginan, kebutuhan dan kekhawatiran. Sungguh ia sangat gelisah memikirkan hari esok yang harus dihadapinya dengan banyak masalah. Sebenarnya ingin sekali Ranti meletakkan kepalanya di pangkuan ibunya, seperti dulu jika dirinya sedang gelisah. Biasanya ibu mengusap kepala Ranti dengan lembut sampai Ranti tertidur dengan tenang.

Malam merayap makin lambat. Detik-detik jam yang halus itupun seperti berdentam-dentam di jantungnya, membuatnya benar-benar terjaga. Waktu mendekati dua pertiga malam. Perlahan dia beranjak dari tempat tidurnya yang sepi, membasuh tubuh dengan air wudhu. Semenjak bercerai dengan suaminya dan kemudian ibunya meninggal, tak ada lagi tempatnya mengadu untuk mencurahkan segala macam perasaannya selain merangkai do’a di atas sajadah peninggalan ibunya.

Dalam seminggu ini anak sulung nya, Karlina, sedang membutuhkan biaya besar karena menghadapi ujian SMP lalu sebentar lagi masuk SMA. Dia banyak mengikuti les di sekolahnya.Putrinya yang kedua sedang mengikuti olimpiade Fisika nasional, juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Prestasi di sekolahnya pun bagus dan aktif di bidang seni. Semua itu belum tercukupi dari gajinya yang tidak seberapa. Dulu bersama suaminya dia masih sempat menabung untuk sekolah kedua putrinya itu. Tapi setelah bercerai, semua tabungan itu habis untuk kebutuhan anak-anaknya.

Dia sering meminjam uang tunai dari koperasi di kantornya, tapi gajinya sudah tidak mencukupi lagi untuk bayar cicilannya. Dia memberanikan diri meminjam uang dari bossnya sambil menawarkan selembar sertifikat tanah peninggalan ayah ibunya. Sang Boss menolak jaminan sertifikat itu, sebagai gantinya malah mengajak Ranti ke luar kota di akhir minggu. Aahh…ada-ada saja si Boss ini. Mau ngapain siih? Terus terang aku sangat takut…, meskipun kuakui bahwa si Boss ini cukup simpatik dan berwibawa. Bukankah zaman sekarang kita harus selalu waspada? Begitu berkecamuk pikiran Ranti dengan prasangka-prasangka.

Tuhanku, tolonglah hamba-Mu ini. Bukakan pintu-pintu rizki-Mu yang halal untuk masa depan anak-anakku dan lindungilah kami.. Dalam sujudnya yang khusyuk, airmata tak terbendung lagi. Biarlah hanya do’a yang menjadi curahan hati kepada Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Dia sang Pemilik Cinta yang hakiki.

***

 

Setelah sholat malam, Ranti teringat lukisan kristik hasil karya ibunya. Dia mengambil lukisan itu dari dinding. Itu karya sulam ibunya yang dibuat selama tiga bulan dengan sepenuh hati. Dulu ibunya sering menjual karyanya untuk menambah biaya sekolah Ranti dan adiknya. Tapi kini Ranti sama sekali tidak berbakat untuk membuat kerajinan seperti itu. Pun tidak berniat menjual lukisan itu. Betapa ia mengagumi ibunya yang sangat telaten merangkai lukisan dari benang wool hingga terwujud lukisan seindah ini. Tak terasa airmatanya mengalir deras di atas kaca pigura lukisan itu. Ranti mengeringkannya dengan ujung baju tidurnya hingga bersih dari debu yang melekatinya.

bianglala

Tiba-tiba seberkas cahaya warna warni menyergapnya ! Ranti sama sekali tak bisa bergerak apalagi memberontak. Malah sebaliknya, cahaya itu seperti kekuatan magis yang meremukkan tenaganya dan menghisap tubuhnya. Tubuhnya jadi lembut bagaikan selembar kain sutera dan terseret dengan cepat ke dalam lorong yang panjang. Lalu……….Jliiig!!! Kakinya terjerat benang-benang yang membelit seluruh tubuhnya. Ranti mendarat di suatu ruangan yang aneh. Ruangan itu dibangun dari tanda silang dengan gradasi warna warni. Dimulai dari dinding, lantai, pintu dan jendela, gorden yang berjumbai-jumbai dengan tanda silanng. Dia sangat terkejut saat menyadari bahwa seluruh tubuh dan pakaiannya juga berupa tanda silang dari gradasi warna biru, biru muda hingga tua. Kulitnya dari gradasi warna krem, coklat muda, agak gelap dan pinkish.. Oohh…my God! Mengapa begini? Di manakah diriku berada?

Kini gerakannya tidak leluasa lagi. Dia harus bergerak kaku bagai robot. Dia melihat sekelilingnya sepertinya sebuah ruang tamu dengan seperangkat mebel berwarna krem dan kecoklatan, mejanya dihiasi sebuah vas bunga dengan bunga tulip. Di pojok ruangan ada sebuah rak buku yang berisi buku tebal warna warni dan di pojok lainnya ada sebuah kursi besar yang tampak sangat nyaman sebagai tempat beristirahat. Dengan gerakan yang kaku itu, Ranti mencoba mendekati jendela dan menengok ke luar. Rasanya dia sangat mengenal pemandangan itu. Halaman rumah yang luas penuh tanaman bunga dengan berbagai warna, ada sungai yang mengalir, dan bermandikan cahaya matahari yang sangat terang. Oohh…dia sangat mengenal rumah ini, rumah yang ada dalam lukisan kristik ibu!

Bersamaan dengan itu, seseorang terdengar mendekat. Seorang wanita berwajah aneh berdiri di pintu sambil tersenyum.

“Kemarilah anakku sayang…” katanya dengan kedua tangan terbuka. Ranti tertegun, benarkah ini ibu? Bukankah ibu sudah meninggal 4 tahun yang lalu? Ranti mundur dengan perasaan yang tak karuan.

“Kamu sudah memasuki dunia ibu dengan airmata sebagai kunci pembukanya. Yaa…jiwaku akan selalu hidup di sini, di dalam karya yang sepenuh hati kubuat. Seperti juga ayahmu, hidup abadi di dalam puisi dan cerita-ceritanya.” Sang ibu meyakinkan dirinya.Tapi ini memang seharusnya rumah ibu, karena ibu sendiri yang membuat lukisannya. Ranti semakin yakin sekarang.

“Ibuuuuu…….! “ dan menghamburlah dia ke dalam pelukan ibunya. Dia merasa heran, mengapa ibunya bisa sesehat itu, padahal sebelum meninggal ibusedang sakit parah selama berbulan-bulan. Ibunya menjelaskan bahwa do’a dari anak-anaknyalah yang membuatnya selalu sehat di sana. Mereka layaknya dua orang yang saling merindukan karena sudah lama tak bertemu, maka asyik mengobrol ngalor ngidul. Ranti melupakan segala masalahnya. Tapi ibunya tahu benar bahwa putrinya itu sedang menanggung penderitaan yang tak tertanggungkan sendirian.

“Ibu bisa merasakan semua penderitaanmu. Pasti akan terasa berat beban yang kau tanggung, karena menjadi seorang janda muda dengan dua anak perempuan yang harus dibiayai terutama pendidikannya. Tak ada salahnya kamu menikah lagi dengan seorang pria baik yang bertanggungjawab dan menyayangi kedua anakmu..”

“Tapi, Bu…. ibu juga sanggup menghidupi aku dan adik-adik, padahal setelah ayah meninggal ibu tidak mau menikah lagi..” Ranti menolak secara halus tawaran ibunya.

“ Situasinya sangat berbeda dengan zaman ibu, sayang…. kamu membutuhkan seorang pendamping untuk berbagi tugas dalam mendidik putrimu.”

“Maksud Ibu….?” Ranti masih belum mengerti.

“Sudahlah….di sini bukanlah tempat belajar. Tanda-tanda silang itu banyak menghalangi gerak kita. Di sana, di duniamu, banyaklah belajar, banyaklah berdo’a yang disertai usaha. Lalu berserah diri hanya kepada Allah jika berharap hasil terbaik. Karena di tangan-Nyalah takdir kita ditentukan…”

”Ibu,……aku akan mengingat pesan ibu. Di sini ibu tampaknya lebih tenang dan tentram. Apakah karena Ibu suka membaca buku-buku yang tersusun rapi itu, Bu?” Ranti merasa penasaran dengan apa yang dilihatnya.

“Itu adalah buku-buku sejarah hidup ibu selama 68 tahun lamanya. Kamu dan anak-anakmu, ayah, dan adik-adikmu juga sudah tercatat di sana sebagai tempat pengabdian ibu selama hidup. Naahh…sekarang pulanglah! Jaga dan didiklah cucu ibu agar menjadi wanita-wanita sholehah yang cerdas dan bermanfaat.”

Ibu mengatakan itu sambil menitikkan airmata. Airmata yang bening seperti kristal berbentuk tanda silang berjatuhan di kening Ranti. Ibu mengusap airmata itu hingga seluruh wajah Ranti basah semua. Dan….seperti tadi tubuh Ranti tiba-tiba melebur dalam aliran warna-warna yang memusar ke suatu arah.

Saat matanya terbuka, Ranti seperti baru sadar dari suatu mimpi indah. Masih berbalut mukena di atas sajadah sambil memeluk lukisan kristik itu. Dia memandangi sekelilingnya, ibunya sudah tak ada di situ. Dia merasakan sangat sepi. Tapi dia bersyukur segalanya telah kembali normal, tak ada lagi tanda-tanda silang di mana pun selain di lukisan itu saja. Sementara alunan adzan mengalun dari mesjid terdekat. Sudah memasuki waktu subuh…Kini hatinya lebih damai dan tenang. Pertemuan dengan ibunya yang aneh itu sudah memberikan banyak pelajaran.

***

Di akhir minggu, seperti yang sudah dijanjikan, Ranti memenuhi ajakan Bossnya yang baik itu untuk pergi ke suatu tempat yang indah. Selama Ranti bekerja di perusahaan itu, baru kali inilah Bossnya mengajak pergi bersama hanya berdua saja. Ranti tetap waspada selama perjalanan itu. Banyak kekhawatiran di benaknya. Bagaimana kalau si Boss mengajaknya ke hotel? Apa dia akan menuruti kemauan si Boss atau malah dia akan lari dan membuat orang lain tahu?

“Ranti….” si Boss membuka pembicaraan ketika sampai di sebuah rumah makan. Itu saja sudah membuat jantung Ranti berdegup cepat.“I..iyaa, Pak..” Ranti menjawab dengan gugup.

“Jangan tegang seperti itu doonk…dari tadi kamu serius banget, seperti sedang memikirkan sesuatu..” si Boss berkata lembut dengan suara baritonnya.

“Ohh…enggak, Pak. Saya hanya memikirkan kedua putri saya yang sudah remaja..” Ranti tersipu malu dan terpaksa berbohong.

“Makanya aku mengajakmu refreshing ke sini agar pikiranmu gak terlalu tegang memikirkan kerjaan dan juga kesulitan hidup. Aku tahu anak-anakmu adalah anak yang baik, cerdas dan ramah seperti yang pernah kutemui dulu.” Si Boss tampak pengertian dan bijak hingga memberi ketenangan bagi Ranti.

“Iya…Alhamdulillah, Karlina dan Kiara termasuk anak-anak yang pengertian selama ini. Justru sayalah yang khawatir gak bisa mengimbangi kecerdasan mereka itu dengan pembiayaan yang sesuai, karena keterampilan dan penghasilan saya yang tak seberapa.” Dengan rasa berat Ranti menumpahkan curahan hatinya.

“Hmm…bolehkah aku menjadi ayah mereka, Ranti?” bagai disambar petir Ranti sangat terperanjat mendengar Bossnya bertanya seperti itu. Sang Boss sama juga berdebar-debar menunggu reaksi Ranti.

“M….Mmaksud Bapak??” Ranti ingin meyakinkan diri dengan pertanyaan itu.

“Maukah kau menikah denganku, Ranti…?” tangan si Boss mencoba menggenggam jemari Ranti yang gemetar dan berkeringat dingin.

“Aku, sudah menduda selama lima tahun, karena istriku meninggal. Kami tak sempat memiliki anak…”

Perasaan Ranti bagaikan terbang. Jantungnya berdegup kencang. Dia bimbang. Pikirannya melayang.. antara kecemasan dan harapan.

***

 

By Riga

Bandung, 25 Maret 2015

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.