[AMNESIA – The Future in History] Pengaruh Dunia Luar

djas Merahputih

 

Di tepi sebuah danau (1), Kedatangan Sang Presiden (2)

Pahlawan Sunyi (3), Kemerdekaan (4)

 

PENGARUH DUNIA LUAR

Kokok Ketiweuy di awal pagi tak mampu mengusik tidur Sang Pangeran. Rupanya Beliau sedang terbuai mimpi bertemu Sang Gadis bertopi lebar. Wajahnya terlihat sayu dan penuh kesedihan. Kali ini ia tak mengenakan topi lebar seperti biasa. Sinar mentari memantulkan cahaya dari butiran air di sudut matanya. Dreiden memanggil berulang kali namun tak mendapatkan reaksi sedikitpun. Tak lama berselang, kabut senja beriring menutupi pandangan Dreiden. Dengan sabar ia menanti sang kabut berlalu beberapa menit. Maysha akhirnya nampak kembali…., namun telah berada jauh di tepi seberang danau.

ku ku ru yuk k k k k k….”, Sang Pangeran terbangun oleh kokok Ketiweuy kali ini.

Hanya sampan bisu menemani Sang Pangeran di tepi dermaga kecil itu. Ingatan Dreiden pada mimpi pagi tadi membuat waktu terasa berhenti. Entah apa yang menimpa kawan barunya hingga menghilang begitu lama. Ono dan Offo ikut larut dalam kesunyian. Belum waktunya mengabarkan cerita tentang Maysha.

img01. Dermaga Sunyi

img01. Dermaga Sunyi

Waktu berjalan lambat, tanpa terasa purnama berikutnya telah menampakkan diri. Janji dengan para penasehat dari Langit Kelima mengusik lamunan Sang pangeran. Rasanya masih terlalu cepat kedatangan utusan itu. Kisah apapun tak akan menggugah selera Sang Pangeran dalam suasana kegundahan hati yang melanda.

*****

Penasehat I (Pertama) Ki Telaga Sukma memulai pemaparannya tentang wilayah di luar Amorluxico yang paling parah mengalami peperangan dalam memperebutkan daerah kekuasaan baru. Tak lain adalah wilayah Rupatinanco tempat Pangeran Maxi (Maralu Xico) pertama kali menapakkan kakinya di permukaan Ramnox. Begitu hebatnya pertempuran sehingga jutaan manusia baik para tentara maupun rakyat jelata menjadi korban di mana-mana.

Pada awalnya negara-negara dalam benua ini hidup tenteram dan damai. Bibit perselisihan dimulai ketika ilmu pengetahuan mereka berhasil menemukan cara-cara yang lebih produktif dalam mengolah bidang pertanian serta proses pemintalan kapas.

Penemuan ilmiah di bidang-bidang lain terus terjadi dan saling melengkapi, namun penggunaan teknologi mekanik tersebut lama-kelamaan menggusur pemakaian tenaga manusia, sehingga pada sebuah masa terjadilah pergolakan dalam hubungan antar masyarakat.

Jika sebelum ditemukannya berbagai alat pendukung industri tersebut masyarakat dapat hidup tenang dan saling menghargai, justru setelah berbagai kemudahan diperoleh, friksi di tengah masyarakat mulai bermunculan. Kelas atau kasta yang memang telah terbentuk sebelumnya mulai mengalami benturan-benturan kecil, namun lama-kelamaan semakin membesar. Segolongan orang memandang kelas pekerja hanyalah sekedar sebagai alat produksi atau objek eksploitasi industri semata.

img02. Kasta Pekerja

img02. Kasta Pekerja

Kening Sang Pangeran mengernyit. Bagaimana mungkin sebuah kemudahan menciptakan kesulitan? Bukankah seharusnya kemajuan peradaban membawa kesejahteraan pada umat manusia? Beberapa pertanyaan muncul dan hanya tersimpan dalam benak Sang Pangeran.

Beliau teringat pesan Sang Ratu, “Manusia diciptakan 90% sebagai hewan. Hanya pikiran dan hatinya saja yang mampu menjadikannya lebih berharga di hadapan Sang Pencipta.

Perhatian Sang Pangeran kembali pada paparan Ki Telaga Sukma. Ono dan Offo juga terlihat serius untuk menyimak kisah selanjutnya.

Kalangan pekerja diperas bagaikan hewan ternak dan hak azasinya dikebiri. Keadaan yang terus-menerus terjadi dan berlangsung secara masif hingga membuat para pekerja akhirnya melakukan perlawanan kepada pemilik industri dan tuan-tuan tanah yang mempekerjakan mereka. Berbagai tuntutan kemudian diajukan dengan pilihan-pilihan yang sangat terbatas.

Demonstrasi besar-besaran mulai terjadi dan pada akhirnya terjadilah pertumpahan darah dengan korban ratusan bahkan ribuan nyawa melayang sia-sia. Sebuah proses pencarian keseimbangan alam terjadi sebagai bentuk reaksi atas penindasan sesama manusia. Proses yang akan terus berulang pada waktu dan tempat manapun di permukaan Ramnox.

Telah menjadi ketetapan Penguasa Langit agar manusia saling menghargai dan memuliakan sesamanya.” Ki Telaga Sukma mengutip pesan dari Langit Kelima.

Kekacauan yang tadinya bersifat lokal lama kelamaan berkembang dan meluas ke daerah-daerah lain, terutama dalam struktur masyarakat yang telah beralih kepada pola industri dan mekanisasi pertanian. Daya tawar kelas pekerja menjadi jauh berkurang diakibatkan oleh penggunaan mesin-mesin industri di hampir segala bidang, terlebih untuk pekerjaan-pekerjaan sederhana dan tidak terlalu membutuhkan campur tangan manusia dalam pengambilan keputusan.

img03. Saingan para buruh pekerja

img03. Saingan para buruh pekerja

Kelas sosial masyarakat mulai terpolarisasi ke dalam dua kelompok, yaitu pemilik modal sebagai pemegang otoritas manajemen dan pengupahan; kemudian kelompok kedua adalah kelas pekerja sebagai alat dan objek eksploitasi industri. Hubungan antara kedua kelompok tersebut menjadi jauh lebih rumit ketika campur tangan penguasa negeri memanfaatkan kedua kondisi yang berhadap-hadapan tersebut.

Ki Telaga Sukma dengan sabar melanjutkan pemaparannya. Ia memandang sejenak ke arah Sang Pangeran, Beliau mengangguk sebagai tanda untuk meneruskan penjelasan tentang dunia luar itu. Sesuatu yang nantinya akan menyebar dan akhirnya juga mempengaruhi situasi dalam negeri Amox.

Para penguasa negeri bukannya bertindak untuk mengakomodir kedua kepentingan, malah berusaha mengambil keuntungan dari potensi pertentangan tersebut. Di satu pihak mereka memeras para pemilik modal dengan memberi tawaran jaminan keamanan bagi keberlangsungan usaha mereka. Di lain pihak mereka semakin menekan kelas pekerja dengan berbagai cara termasuk dengan penggunaan ancaman dari aparat keamanan negara dan bahkan kekerasan fisik kepada anggota kelompok kelas pekerja yang berani menentang atau menuntut sesuatu. Para penguasa negeri memperoleh dua keuntungan sekaligus dalam hal menunjukkan dominasi mereka terhadap dua kelompok kelas masyarakat ini. Namun para penguasa tidak menyadari, mereka telah menciptakan bom waktu bagi diri mereka sendiri. Sewaktu-waktu ia bisa saja meledak tanpa peringatan apapun sebelumnya.

Masyarakat kelas pekerja semakin terjepit dan kini mereka memiliki dua musuh untuk dihadapi. Para pemilik modal yang berlaku sewenang-wenang dan kedua adalah arogansi para aparat negara. Sedangkan antara pemilik modal dan penguasa negeri terlihat sebuah hubungan tak jelas, siapakah sebenarnya yang memanfaatkan atau dimanfaatkan oleh pihak lain.

Pemaparan Ki Telaga Sukma mengingatkan pelajaran dari Baginda Raja Miriko yang disampaikan sebagai bekal bagi Sang Pangeran untuk menjalankan tugas Beliau di planet Ramnox.

Sistem yang stabil adalah sistem yang seimbang. Jika keseimbangan tidak tercapai maka sebuah sistem cepat atau lambat akan mengalami guncangan dan menjadi tidak stabil lagi. Menekan satu bagian akan menggelembungkan bagian lain, seperti halnya menekan ujung sebuah balon. Hanya perkara waktu saja untuk melihat apakah balon tersebut akhirnya meletus atau tidak.

Ki Telaga Sukma membenarkan pernyataan tersebut dan kembali menceritakan rentetan peristiwa lainnya.

Secara nalar, usaha untuk meredam gejolak yang mungkin timbul adalah dengan mengurangi tekanan kepada salah satu atau kedua kelompok yang bertentangan. Namun hal itu bisa berarti akan mengurangi pengakuan atau dominasi negara dalam pengelolaan kehidupan warganya. Sehingga tanpa disadari para aparat negara akhirnya meningkatkan tekanan dan terus menekan para pekerja maupun pemilik modal.

img04. Modal dan Kuasa

img04. Modal dan Kuasa

Para pemilik modal besar tidak memiliki masalah dengan dominasi penguasa negeri. Mereka bahkan berbalik menjadi dominan ketika berhadapan dengan penguasa serakah dan haus akan harta serta kekuasaan. Para penguasa telah menjadi anjing penjaga setia ketika segala tuntutan dan keserakahan mereka dapat terus dipenuhi.

Sang tuan serakah kini telah berbalik menjadi budak nafsu dan keserakahannya sendiri. Pikirannya telah terhasut dan dikuasai oleh gairah untuk terus memperlihatkan kekuasaan yang seakan-akan tanpa batas. Para penguasa negeri telah melupakan amanahnya. Sang Dewa telah memberikan kesempatan kepada mereka agar mampu mengurus diri sendiri.

Ki Telaga Sukma menyampaikan seluruh informasi berharga tentang perkembangan dan pergolakan di luar Amorluxico, hingga Sang Pangeran memberikan tanda bahwa paparan Ki Telaga Sukma telah cukup untuk saat ini.

Pangeran Soka Purnama menyampaikan pujian dan penghargaan terhadap informasi dan waktu yang dicurahkan oleh Penasehat I dari Langit Kelima tersebut. Pimpinan Biq Xu menghampiri Ki Telaga Sukma, kemudian mengajaknya berjalan di sekitar danau sebelum mempersiapkan perjalanan kembali ke Langit Kelima. Sang Pangeran berjalan di depan keduanya. Sambil menarik nafas panjang, Sang Pangeran melepaskan pandangan jauh ke tengah danau. Danau yang akan selalu mengingatkan Beliau pada seseorang. Seorang Gadis bertopi lebar.

*****

Bersambung ke….

Dua Misteri, Dua Pengaruh

 

eBook Link (1), (2), (3)

Print book edisi Traveller (1), (2), (3)

 

 

About djas Merahputih

Dari nama dan profile picture'nya, sudah jelas terlihat semangat ke-Indonesia-annya. Ditambah dengan artikel-artikelnya yang mengingatkan kita semua bahwa nasionalisme itu masih ada, harapan itu masih ada untuk Indonesia tercinta. Tinggal di Sulawesi, menebar semangat Merah Putih ke dunia melalui BALTYRA.

My Facebook Arsip Artikel

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *