Mengapa Kebudayaan Jawa Mengalami Kemunduran yang Signifikan (1)

Indra Ganie

 

Mengenang 70 tahun (1945 – 2015) Proklamasi 1945, pernyataan kehendak bangsa Indonesia untuk menentukan nasib sendiri, antara lain membentuk negara untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan: berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi dan berkepribadian di bidang budaya. Negara yang turut diperjuangkan oleh sejumlah anggota keluarga penulis. Negara yang masih menjadi wilayah pertarungan sejumlah pengaruh asing, terutama IMPERIALISME ARAB – yang telah berlangsung sejak abad 7.

 

Pengantar

Manusia Jawa adalah mayoritas di Indonesia, mereka bukan hanya terdapat di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Mereka juga menjadi mayoritas di Lampung, bagian timur Sumatera, bagian utara Banten. Di Banten, mereka bertutur bahasa Jawa khas Banten, mereka keturunan perantau dari berbagai daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur yang konon hadir di Banten sejak sekitar abad-10.

Nasib bangsa Indonesia sangat tergantung kepada kemampuan penalaran, skill, dan manajemen – tegasnya kualitas manusia Jawa. Sayang sekali sampai dengan saat ini, manusia Jawa mengalami krisis kebudayaan; hal ini disebabkan kebudayaan Jawa dibiarkan merana, tidak terawat, dan tidak dikembangkan oleh pihak-pihak yang berkompeten (TERUTAMA OLEH POLITISI).

Bahkan kebudayaan Jawa terkesan dibiarkan mati merana digerilya oleh kebudayaan asing (terutama dari ASIA BARAT – atau lebih dikenal dengan istilah “TIMUR TENGAH” / ARAB). Intelektual nasional Mochtar Lubis dalam bukunya: “Manusia Indonesia : Suatu Pertanggungjawaban”, juga mengkritisi watak-watak buruk manusia Jawa – dan manusia Indonesia umumnya – semisal munafik, feodal, malas, tidak suka bertanggung jawab, suka gengsi dan prestise, dan tidak suka bisnis (lebih aman jadi pegawai negeri).

Kemunduran kebudayaan Jawa antara lain tidak lepas dari dosa rezim Orde Baru. Strategi regim Soeharto untuk melepaskan diri dari tuannya (USA dan kawan-kawan sesama imperialis Barat) dan tekanan kaum “penumpang gelap” gerakan reformis melalui politisasi agama Islam menjadikan Indonesia mengarah ke ideologi Timur Tengah (imperialis Arab). Indonesia saat ini adalah kembali menjadi ajang pertempuran antara: Barat lawan Asia Barat / Timur Tengah, antara kaum sekuler dan kaum Islam, antara modernitas dan kekolotan (memahami) agama.

Boleh diibaratkan bahwa manusia Jawa terus menerus – dan bangsa Indonesia umumnya – mengalami penjajahan yang lama oleh:

  1. Imperialisme Arab – DENGAN KEDOK AGAMA – sejak abad-7 hingga kini. Persaingan dengan imperialisme Barat sejak abad-16 hanya mengurangi – bukan menghapus – pengaruh imperialisme Arab. Dengan topeng ormas agama dan topeng “Kebangkitan Islam Abad-15 Hijriyyah” mereka bangkit dengan percaya diri.
  2. Imperialisme Barat (Portugis, Spanyol, Inggris dan Belanda) sejak abad-16. Dimulai dari saat Portugis menyerbu Malaka tahun 1511 hingga tahun 1962, saat Belanda harus melepas Pulau Papua.
  3. Bangsa Jepang sejak 8 Maret 1942 hingga 17 Agustus 1945.

Kedzoliman terhadap anak bangsa – terutama manusia Jawa – dilanjutkan oleh rezim Soeharto / ORBA selama hampir 32 tahun (Londo Ireng), dengan berbagai praktek pelanggaran hak azazi manusia dan korupsi, kolusi serta nepotisme. Juga berbagai perusahaan multi nasional selama ORBA dan masih berlanjut hingga kini.

Sekarang dan di masa dekat, bila tidak “eling lan waspodo”, diramalkan bahwa Indonesia akan menjadi negara boneka imperialis Arab (melalui kendaraan utama politisasi agama). Kisah imperialisme Arab abad-7 sepertinya terulang kembali tanpa terasa oleh mayoritas anak bangsa.

Kemunduran kebudayaan manusia Jawa sangat terasa sekali, karena suku Jawa adalah mayoritas di Indonesia, maka kemundurannya mengakibatkan kemunduran negara Indonesia, sebagai contoh kemunduran adalah terpaan berbagai krisis yang tak pernah selesai dialami oleh bangsa Indonesia. Politisasi uang dan agama mengakibatkan percepatan krisis kebudayaan Jawa, seperti analisa di bawah ini.

 

Gerilya Kebudayaan

Negar-negara TIMTENG / ARAB harus berjuang sekuat tenaga dengan cara apapun untuk mendapat devisa selain dari kekayaan minyak (petro dollar), hal ini mengingat tambang minyak di Timur Tengah (Arab) adalah terbatas umurnya; diperkirakan oleh para ahli bahwa umur tambang minyak sekitar 15 tahun lagi, di samping itu penemuan energi alternatif akan dapat membuat minyak turun harganya.

Begitu negara Timur Tengah mendapat angin dari regim Orde Baru, Indonesia lalu bagaikan diterpa badai gurun yang panas! Pemanfaatan agama (politisasi agama) oleh negara asing (negara-negara Arab) untuk mendominasi dan menipiskan kebudayaan setempat (Indonesia) mendapatkan angin bagus, ini berlangsung dengan begitu kuat dan begitu vulgarnya. Gerilya kebudayaan asing lewat politisasi agama begitu gencarnya, terutama lewat media televisi, majalah, buku dan radio. Gerilya kebudayaan melalui TV ini sungguh secara halus, begitu tersamar. Maka orang awam pasti sulit mencernanya!

Di zaman dahulu, imperialisme Arab – antara lain dengan kedok agama dan memakai tangan pribumi (tidak terang-terangan) – telah menggusur MANUSIA MAJAPAHIT hingga terdesak ke Gunung Bromo – yang kini disebut masyarakat Tengger. Ada juga yang tersingkir ke Bali.

 

bersambung…

 

 

About Indra Ganie

Dari anggota keluarga Pejuang 1945 yang ingin Indonesia bebas dari pengaruh negatif budaya impor yang menginfiltrasi dan ingin menggantikan budaya Indonesia.

Arsip Artikel

One Response to "Mengapa Kebudayaan Jawa Mengalami Kemunduran yang Signifikan (1)"

  1. Alvina VB  8 April, 2017 at 05:55

    Saya rasa, untuk bisa bangkit lagi, ya manusia-manusia di P. Jawa yg bertanggung jawab utk mengembalikan adat istiadat dan kebudayaan Jawa nya yg mulai luntur. Mbok ya mulai dari yg kecil dulu dari kelurahan dan terus menjamur sampe ke kota dan babat abis itu pengaruh kebudayaan dari luar yg gak ada bagus2nya. Hargai Kyai lokal yg masih bisa bhs Jawa dan jangan percaya aja sama Habib A-Z, lah org karbitan gitu kok.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.