Teman Curhat

Pingkan Djayasupena – Belanda

 

Dalam hidup kita pasti punya teman curhat tapi harus hati-hati juga bisa-bisa kita ketemu teman curhat yang salah. Teman curhat berarti teman yang bener-bener kita percaya, tentu segala curhatan kita atau curhatan dia harus bisa menjaganya jangan sampai bocor ke orang lain.

teman curhat

Sejak aktif di dunia maya gara-gara aku suka menulis jadi banyak teman, kebetulan aku suka menulis lifestyle jadi banyak pembaca yang sudah menjadi temanku di Facebook banyak yang curhat macam-macam dan akupun memberi masukan sebisa aku, umumnya sih yang curhat tentang perkawinan atau hubungan dengan pacarnya. Seneng aja aku jadi teman curhat dan kebetulan aku punya banyak pengalaman hidup jadi nyambung dengan curhat temen-temen dunia mayaku untuk memberi masukan tentang masalah mereka, kalau akhirnya saran-saranku mereka turutin dan berhasil membuat mereka bahagia memecahkan persoalannya, aku juga bahagia mendengarnya, berarti saran dan masukan-masukanku bisa membantu jalan keluar masalah mereka dan membuat mereka bahagia.

Ada salah satu teman curhatku sebut saja namanya Dora. Ia selalu curhat masalah rumah tangganya. Aku sedih mendengar kisahnya yang juga sebenernya pernah aku alami dalam kehidupan perkawinanku, maka aku kasih Dora masukan-masukan agar dia berani melangkah untuk mengambil keputusan dalam hidupnya daripada menderita terus karena perkawinannya yang nggak bahagia sama sekali.

Mulanya saranku hanya didengar aja, Dora nggak bertindak sama sekali dengan saran-saranku, maka setiap kali curhat selalu aku mendengar kisahnya yang sama dengan cucuran airmata sampai aku lama-lama malas dengernya karena dia pengecut buat mengambil langkah untuk membuat dirinya bahagia, tetapi akhirnya dia berani mengambil langkah, berani mengambil keputusan yang tepat, agar dia keluar dari masalah rumah tangganya. Dora berterima kasih padaku karna saran dan masukan-masukanku ternyata bener dan dia sudah merasakan terlepas dari beban yang berat, sedikit-sedikit sudah mulai bahagia melupakan masalah rumah tangga yang pernah dialaminya.

Sejak itu Dora jarang menghubungi aku lagi untuk curhat karena mungkin memang nggak perlu curhat lagi ke aku masalah rumahtangganya sudah selesai. Kira-kira beberapa bulan kemudian Dora inbox aku gini:

”Lo cerita-cerita masalah gue ya ke orang?”

“Nggak!” jawabku tegas

“Kok ada orang komen, kayanya dia tahu gue punya masalah rumah tangga, padahal gue cuma cerita ke elo aja”

“Komen dimana dan siapa orangnya?” Tanyaku

“Nggak tahuu” jawab Dora

Weleh-weleh dia negor aku bocorin curhatannya tanpa bukti dan ketika aku tanya siapa orangnya dan komen dimana dia jawab nggak tahu? Bener-bener “sakit” ini orang dalam hatiku main tuduh aja sementara aku gak pernah cerita masalah curhatannya dan aku juga nggak kenal temen-temen dia di Facebook, terus apa untungnya aku cerita-cerita masalah dia kan? Namanya juga aku suka menulis dan tentu curhatan setiap orang aku simpan rapat, kalaupun mau cerita paling aku milih dalam tulisan agar dibaca orang yang mungkin bisa berguna ketika menghadapi masalah yang sama, jadi mau ngapain cerita ke orang lain ? Emangnya aku kurang kerjaan apa ya mengumbar curhat orang yang sudah percaya sama aku?

Terus aku mikir, Dora kan kalau bikin status di Facebook seolah-olah dirinya bahagia sempurna hidupnya dengan anak dan suami maka ketika ada yang komen langsung sensitif mungkin, sementara aku jarang baca status-status yang dia tulis di timelinenya, wong aku sibuk sama duniaku sendiri dunia maya dan dunia nyata juga kok. Dora di Facebook kalau nulis status seolah-olah belum pisah dari suaminya padahal udah.

Pembaca yang jadi temen-temennya dia juga kan nggak bego-bego amat buat mengambil kesimpulan dari tulisan di status-status dia. Mungkin juga dia pernah curhat sama temen lain sebelum curhat ke aku dan dia lupa bisa aja kan? Atau mungkin suaminya yang cerita ke salah satu temennya tentang perkawinannya maka temennya jadi tahu masalah rumahtangganya kan?

Akhirnya beberapa saat kami berdua putus kontak, kalau dia mau curhat lagi aku nggak mau jawab dalam hatiku ngomong sendiri, soalnya ngeri kalau dia jadi paraoid main nuduh tanpa sebab dan bukti aku jadi jengkel.

Tetapi akhirnya beberapa bulan kemudian dia kontak aku lagi ngajak Skype pengen ngobrol katanya. Aku kebetulan ada waktu dan biasa kalau Dora ngajak Skype pasti punya masalah besar jadi kalau memang bener dia punya masalah, sementara aku menolaknya, yang seharunya aku mendengarkan masalahnya dan membantu memecahkanny, seperti waktu itu Dora pernah punya masalah rumahtangganya. Dengan rasa kemanusiaan aku akhirnya masih mau menerima Dora untuk ngobrol lewat Skype.

Bener aja Dora punya masalah lagi dengan cowok barunya akupun mendengarkan curhatannya kalau dia sekarang udah punya gebetan. Dalam obrolan di sykpe Dora menanyakan kabarku dan bagaimana hubunganku dengan gebetanku sebut saja namanya Bram yang pernah aku ceritakan dulu pada Dora. Memang sejak Dora suka curhat sama aku, kami berdua jadi deket sebagai teman curhat kadang aku juga suka curhat sama Dora tentang cowok yang aku lagi taksir yaitu Bram.

Aku cerita ke Dora saat Skype bahwa aku ada BBM dan WA Bram tapi sampai sekarang belum dibalas mungkin Bram sebel sama aku karena aku cerewet dan suka menanyakan atau mempermasalahkan hal-hal yang nggak penting, atau mungkin Bram sibuk maka belum membaca dan membalas message, begitu aku curhat ke Dora.

Karena aku pernah kasih tahu siapa gebetanku dan nama Bram di Facebook Dora pun jadi berteman di Facebook dengan Bram sebatas jadi temen di Facebook aja nggak pernah kontak paling aku lihat Dora pernah ngelike aja begitu juga Bram kalau share sesuatu di Facebook.

Beberapa hari kemudian Dora ngajak Skype lagi, aku terima tawaran Skypenya kebetulan aku juga lagi nganggur lagi cuti sakit jadi gampang aja buatku setiap saat online. Saat ngobrol di Skype Dora cerita kalau dia inbox Bram di Facebook dan sampai sekarang belum dibalas juga katanya.

Aku kaget dong denger Dora inbox Bram dan langsung aku tanya:

”Ngapain lo inbox Bram? Emang lo nulis apa?” Tanyaku penasaran jadi pengen tahu. Aku pikir ya inbox basa-basi.

Nggak tahunya Dora inbox Bram bukan inbox basa-basi tapi menanyakan:

”Kenapa nggak balas massagenya Pingkan di BBM dan WA? Dan bla. . bla. . bla…bla…” begitu isi inboxnya.

Pokok panjang deh inbox Dora ke Bram sok tau banget deh, nggak bisa aku tulis semuanya biar bagaimana sangat pribadi jadi garis besarnya aja. Tentu aku kaget ketika Dora membacakan inbox dia ke Bram dengan lancang ikut campur urusanku dengan Bram.

Bukankah seharusnya Dora cukup menjadi teman curhatku saja nggak perlu ikut campur dengan hubunganku dan Bram kan? Dan juga Dora kan nggak tahu sebenernya sejauh mana hubunganku dengan Bram kan? Walau aku suka curhat tapi curhat yang ringan-ringan aja nggak sampai detail banget. Lagian aku dan Bram belum jadian walau Bram tau aku jatuh cinta sama dia tapi selama ini aku dan Bram cuma TTM aja belum bisa dibilang pacaran.

Aku tegor Dora karena rasa kecewaku, juga aku sedikit marah atas kelancangan Dora inbox Bram. Walau jawab Dora bahwa maksud dia baik katanya kasihan sama aku. Weleh. . weleh. . kenapa harus kasihan sama aku wong aku cuma cerita kalau BBM dan WA belum dibalas Bram, itukan bukan masalah besar buat aku, kenapa harus kasihan sama aku terus inbox negor Bram dengan lancang ikut campur? Walau maksud Dora baik tetap aja buat aku nggak baik, lancang! Malah bisa jadi memperburuk suasana hubungan aku dengan Bram kan?

Dora udah minta maaf sambil menangis di Skype, tentu aku maafkan, tapi aku udah gak mau jadi teman curhatnya lagi. Dan akupun lain kali seandainya kalaupun mau curhat lebih baik dalam tulisan nggak mau lagi curhat ke temen takut nanti punya temen curhat yang salah.

 

 

About Audry Djayasupena

Dulu dikenal dengan nama La Rose Djayasupena, kemudian menggunakan nama Pingkan Djayasupena dan sekarang menjadi Audry Djayasupena. Tinggal di Negeri Kincir Angin. Pemikirannya yang 'progresif' terlihat dari artikel-artikel dan buku-bukunya. Sudah menerbitkan karyanya berupa beberapa buku, di antaranya yang cukup 'sangar' judulnya adalah "Bedroom Fantasy".

My Facebook Arsip Artikel

One Response to "Teman Curhat"

  1. Fitri Amelia  19 October, 2019 at 22:50

    Aku suka dia apakah dia juga suka Ama aku atau tidak

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.