Lidah Indonesia Ketemu Masakan Asing

Ady Nugroho

 

Sebelum tiba di London enam tahun lalu, saya nggak paham makanan di Inggris seperti apa. Tahunya cuma fish and chips yang mirip ayam goreng dan kentang goreng, bedanya ini ikan. Sesampainya di London, setelah taruh koper-koper di hostel karena student accommodation belum buka untuk mahasiswa baru, saya keluar untuk cari-cari makan. Ketemunya sandwich, langsung lah tancap di pikiran bahwa makanan di Inggris itu hambar: nggak asin; nggak manis; nggak pedas.

Makin ke sini, saya ketemu makin banyak macam-macam makanan yang membuktikan nggak semua makanan di Inggris hambar, apalagi lidah saya sudah jadi maklum ketemu makanan-makanan itu. Jadi kalau teman kantor ngajak ke restoran Italia ayo, Spanyol oke, Prancis why not, Thailand capcus, dst. Sayangnya, belum nemu restoran Indonesia yang autentik, kebanyakan campur makanan Malaysia dan Singapura. Pernah ada restoran Nusa Dua yang lumayan tulen tapi udah tutup.

culinary

Tapi, sampai sekarang lidah dan hidung saya tetap nggak bisa menerima makanan India dan sekitarnya. Herannya, kebanyakan orang Inggris tergila-gila kari India. Selama masih jadi mahasiswa dulu, dua kali teman kuliah ngajak makan di tempat India, saya susah menelan. Jangankan menelan, makanan belum sampai masuk mulut saja baunya sudah bikin mual. Saya selalu beralasan karena saya berasal dari negara yang makanannya berbumbu tajam, jadi kalau ketemu makanan lain berbumbu tajam tapi beda cita rasa dan beda komposisi, lidah nggak terima. Sepertinya ada bahan yang kurang, kebanyakan, atau ada bahan khas India yang berbau sangat menyengat.

Saya sendiri nggak suka bau cumin (nggak tahu istilahnya di Indonesia, maklum di Indonesia nggak pernah masuk dapur). Saya curiga, masakan India pakai cumin seabrek dengan tambahan bahan khas yang tetap misterius buat saya. Bau makanan India sampai sekarang masih nempel di otak, jadi hidung saya sangat sensitif kalau ada semilir angin membawa bau makanan yang satu ini. Bahkan kadang sedang jalan atau di bus, tercium bau ini walaupun nggak ada makanan di sekitar. Mungkin karena sudah terlanjur masuk ke memori saya.

Apakah saya rasis? Saya rasa nggak. Hanya karena saya nggak bau dan rasa masakan India, bukan berarti saya rasis terhadap orang India. Demikian juga kalau saya nggak suka McD, bukan berarti saya rasis terhadap orang Amerika.

Anehnya, saya tetap suka kari Thailand dan tagine Maroko yang juga berbumbu tajam.

 

 

About Ady Nugroho

Tukang jalan-jalan keliling dunia yang sekarang tinggal di Inggris. Memutuskan meramaikan BALTYRA.com dengan spesialisasi artikel-artikel yang terkait dengan jalan-jalan. Baik di dalam maupun di luar negeri, pengalaman perjalanan, tips perjalanan seperti cara berburu tiket murah, mengemas tas backpack, tidur nyaman di bandara, dll. Artikel-artikel tersebut akan dikaitkan dengan cara perawatan perlengkapan jalan-jalan khusus, misalnya cara mencuci sleeping bag, cara mencuci selama perjalanan dan banyak lagi hal yang terkait dengan jalan-jalan menyusuri bumi ini.

Arsip Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.